Ramadan 2026

Makna Puasa dalam Islam: dari Menahan Diri hingga Mengasah Empati

Puasa melatih umat Islam bukan hanya bersimpati, tetapi benar-benar merasakan penderitaan orang lain.

Tribun Jatim Network
MAKNA PUASA RAMADAN - Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya KH Mohammad Sueb Abdul Fattah dalam Kultum Ramadan 1447 H hari kelima, Senin (23/2/2026) menjelaskan, puasa mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama adalah personal. Dimensi kedua adalah sosial. 

Dijelaskan, ketika seorang yang berpuasa lapar, dia akan ingat, dia akan tahu, dia akan merasa bahwa di sekitarnya ada kelaparan, karena dia telah merasakan sendiri kelaparan.

Ketika itu hal tersebut akan mendorong dirinya untuk membantu mereka yang kelaparan, membantu mereka yang kekurangan.

"Kepekaan sosial akan muncul jika kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang dalam kondisi kekurangan. Dan ini terkadang butuh dilatih, butuh dirasakan, butuh pengalaman untuk bisa merasakan betul, bukan cuma simpati, bukan cuma hanya di tingkatan kepedulian emosional saja," katanya.

Maka sungguh-sungguh puasa menjadi satu ibadah yang luar biasa.

Ibadah yang dampaknya tidak hanya personal tetapi juga sosial.

Islam akan benar-benar rahmatan lil ‘alamin ketika puasa tidak hanya dimaknai sebagai ritual.

"Selama 11 bulan kita senantiasa berkecukupan. Makan tiga kali ataupun dua kali pun kita akan merasa tenang, tidak terpikirkan lapar melanda kita, perut keroncongan," katanya.

Baca juga: Tata Cara Berbuka Puasa Sesuai Sunah Rasul, Agar Ibadah Ramadan Semakin Berkah

Teladan Nabi

Dalam kitab Maqashid Shiyam, Imam Izzuddin bin Abdussalam juga menjelaskan para anbiya seringkali menahan diri untuk makan. 

Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf tidak akan makan sebelum orang sekitarnya sudah makan.

Ketika ditanyakan kepada beliau kenapa tidak makan padahal beliau berkecukupan dan bisa makan kapan pun, jawab beliau Nabi Sulaiman, kalau saya makan dan kenyang maka seringkali kenyang ini melalaikan.

Maka dalam suasana Ramadan, bulan suci yang mulia ini, maknai puasa tidak sekadar ritual menahan makan dan minum, tetapi pahami apa tujuan diwajibkannya puasa di bulan Ramadan ini.

"Jika kita sadar dan benar-benar mengetahui manfaat fadilah dari puasa ini, maka setelah Ramadan, ketika masuk kewajiban berzakat, bukan cuma kita merasa zakat itu sebagai kewajiban, tetapi kita akan dengan senang hati menunaikannya berdasarkan empati yang sudah muncul dari proses puasa selama bulan ini,"

"Bahkan pasca Ramadan kita akan menjadi insanul kamil, orang yang tidak hanya saleh secara personal tetapi juga saleh secara sosial. Itulah harapan kita, itulah yang kita inginkan dalam bulan Ramadan ini," pungkasnya.

Semoga Allah SWT menjadikan bulan Ramadan ini penuh keberkahan.

Tidak cuma keberkahan yang kita peroleh secara pribadi tetapi juga keberkahan yang melimpah ruah.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved