Ramadan 2026

Makna Puasa dalam Islam: dari Menahan Diri hingga Mengasah Empati

Puasa melatih umat Islam bukan hanya bersimpati, tetapi benar-benar merasakan penderitaan orang lain.

Tribun Jatim Network
MAKNA PUASA RAMADAN - Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya KH Mohammad Sueb Abdul Fattah dalam Kultum Ramadan 1447 H hari kelima, Senin (23/2/2026) menjelaskan, puasa mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama adalah personal. Dimensi kedua adalah sosial. 

Empati adalah perasaan yang muncul yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Beda dengan simpati.

Simpati hanya merasa peduli, kasihan, tanpa sampai melibatkan emosional dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

"Saya kasih gambaran. Ketika ada seseorang, tetangga kita atau keluarga kita, saudara kita meninggal, maka orang yang bersimpati itu akan turut berdukacita, tetapi dia tidak sampai pada level merasakan kesedihan meninggalnya saudaranya atau orang dekatnya," katanya.

Maka orang yang bersimpati hanya akan merasakan kesedihan yang tidak sampai menyentuh ikut merasakan dari kesedihan tersebut.

Beda dengan empati. Kalau empati, orang akan merasakan kesedihan yang bahkan manifestasinya, bentuknya, ekspresinya semisal bisa turut menangis karena betul-betul merasakan kesedihan yang dirasakan oleh orang lain itu.

"Dalam hadis tadi disebutkan kita harus bisa merasakan senang saudara kita sebagaimana kita merasa senang. Artinya, senangnya saudara itu bisa kita rasakan," terangnya.

Dalam syarah hadis tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengutip dari Imam Al-Kirmani menjelaskan, hadis tersebut juga berkonsekuensi bagian dari iman, orang yang beriman itu harus bisa merasakan marah dan sedih dari saudaranya.

"Hadis ini bisa kita simpulkan dan mengajarkan kita untuk empati, bahkan menuntut kita untuk punya rasa empati. Disebutkan dalam hadis tersebut iman tidak akan sempurna jika kita tidak punya rasa empati pada sesama," bebernya.

"Islam agama yang sempurna. Maka Allah pun mempunyai treatment bagaimana kemudian seorang hamba itu bisa muncul mempunyai rasa empati. Ibadah puasa adalah treatment untuk mengasah diri kita mempunyai empati,"

"Lapar yang kita rasakan, haus yang kita rasakan, itu akan mengajarkan pada kita betapa tidak nyamannya, betapa sedihnya, betapa susahnya ketika kita lapar dan haus,"

"Dari sini kita juga akan berpikir bagaimana mereka yang kelaparan dan kehausan bukan cuma karena ingin memperoleh pahala dan derajat ketakwaan sebagaimana kita berpuasa, tetapi mereka memang benar-benar dipaksa untuk lapar, dipaksa untuk haus, dipaksa untuk hidup dengan kekurangan,"

"Maka kita yang berpuasa akan sangat bisa merasakan lapar mereka, bisa merasakan haus mereka karena kita menjalani puasa dan merasakan itu betul," tambahnya.

Baca juga: Hukum Muntah saat Ramadan, Apakah Membatalkan Puasa atau Tidak?

Puasa Mendorong Sedekah dan Kepedulian

Sultanul Ulama Izzuddin bin Abdussalam menjelaskan, dalam salah satu kitabnya Maqashid Shiyam ada beberapa faedah maqasid, tujuan daripada puasa

Disebutkan di situ salah satunya adalah تَكْثِيرُ الصَّدَقَاتِ (memperbanyak sedekah).

Puasa itu mempunyai tujuan menjadikan orang yang berpuasa akan bersedekah, akan tergerak hatinya untuk bersedekah, akan timbul rasa keinginan untuk menolong orang, membantu, memberikan sedekah kepada yang tidak mampu.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved