Ramadan 2026

Apa itu Takjil? ini Arti Sebenarnya, Asal Usul dan Sejarah Tradisinya di Indonesia

Takjil tak sekadar makanan berbuka. Simak arti, makna hingga sejarah tradisi takjil dalam Islam dan budaya Ramadan di Indonesia.

Tribun Jatim Network/Istimewa
BERBURU TAKJIL - Suasana warga berburu takjil di Trate Takjil Market, Jalan Abdul Karim, Gresik, menjelang waktu berbuka puasa pada Kamis (19/2/2026). Takjil bukan sekadar makanan berbuka, melainkan simbol kepatuhan, kesederhanaan, dan nilai kebersamaan dalam menjalankan ibadah Ramadan. 

Ringkasan Berita:
  • Takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajila yang berarti menyegerakan berbuka puasa, bukan merujuk pada jenis makanan tertentu, sesuai sunnah Rasulullah SAW.
  • Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, makna takjil bergeser menjadi sebutan makanan atau minuman pembuka puasa seperti kolak dan gorengan.
  • Tradisi takjil di Indonesia berkembang sebagai bentuk kepedulian sosial, sarana dakwah, serta simbol kebersamaan dan nilai spiritual selama Ramadan.

 

TRIBUNJATIM.COM – Istilah takjil hampir selalu terdengar saat bulan suci Ramadan tiba.

Kata ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, ketika waktu berbuka puasa semakin dekat.

Di Indonesia, takjil identik dengan makanan ringan seperti kolak, gorengan, atau minuman manis yang disantap saat berbuka puasa.

Hidangan tersebut biasanya dikonsumsi sebelum menikmati makanan utama setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Penggunaan istilah takjil yang begitu populer membuat banyak orang menganggap kata tersebut merujuk langsung pada jenis makanan atau minuman untuk berbuka.

Padahal, makna takjil sebenarnya tidak sesederhana itu.

Di balik penggunaannya sehari-hari, takjil memiliki arti yang lebih luas dan mendalam, yakni berkaitan dengan anjuran untuk menyegerakan berbuka puasa, bukan sekadar merujuk pada makanan yang dikonsumsi.

Asal Usul Kata Takjil dalam Bahasa Arab

Secara bahasa kata takjil berasal dari bahasa Arab, yakni ‘ajila yang berarti menyegerakan.

Makna ini merujuk pada anjuran untuk segera berbuka puasa ketika waktunya telah tiba, bukan pada makanan yang disantap.

Dalam ajaran Islam, istilah tersebut mengandung pesan penting tentang kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah SAW untuk tidak menunda berbuka puasa setelah matahari terbenam.

Praktik ini menegaskan inti takjil adalah tindakan menyegerakan berbuka.

Rasulullah SAW biasanya berbuka dengan makanan sederhana seperti kurma atau air putih sebelum melaksanakan salat Magrib.

Hal ini menunjukkan kesederhanaan dan ketepatan waktu lebih diutamakan dibandingkan jenis hidangannya.

Makna takjil kemudian berkembang di masyarakat sebagai hidangan pembuka sebelum makan utama.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved