Ramadan 2026

Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting Kata Ahli Gizi Unair

Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga memiliki makna serta tujuan yang berbeda tergantung pada praktiknya.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Arie Noer Rachmawati
Istimewa
PUASA RAMADAN - Ahli gizi Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi SGz MSi PhD menegaskan, puasa Ramadan dan intermittent fasting (IF) memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi tujuan maupun penerapan pola makan, Jumat (20/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Menurut Mahmud Aditya Rifqi, puasa Ramadan fokus pada ibadah dan menahan makan serta minum dari sahur hingga berbuka (~13–14 jam), sedangkan intermittent fasting (IF) diterapkan untuk kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau metabolisme, dengan pola beragam seperti 16:8, 5:2, dan one meal a day.
  • Puasa, baik Ramadan maupun IF, dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu pengendalian gula darah. 

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Netwok, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga memiliki makna serta tujuan yang berbeda tergantung pada praktiknya.

Ahli gizi Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi SGz MSi PhD menegaskan puasa Ramadan dan intermittent fasting (IF) memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi tujuan maupun penerapan pola makan.

Pria yang juga menjabat sssebagai Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair ini menjelaskan puasa Ramadan berfokus pada aspek ibadah, sedangkan intermittent fasting umumnya bertujuan untuk kesehatan.

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelasnya, Jumat (20/2/2026).

Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan pengaturan waktu makan atau time-restricted eating.

Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka, selama itu umat Muslim tidak diperbolehkan makan maupun minum.

Sementara itu, intermittent fasting memiliki pola yang lebih beragam.

Salah satu metode yang populer adalah pola 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan delapan jam waktu makan.

Selain itu, terdapat pula pola 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.

“Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula,” terangnya.

Baca juga: Tetap Bugar Saat Puasa, Dokter Ungkap Waktu dan Jenis Olahraga yang Disarankan

Manfaat Puasa secara Medis

Dari perspektif ilmu gizi, Mahmud menegaskan pentingnya memperhatikan kebutuhan energi tubuh selama menjalankan puasa. 

Tubuh membutuhkan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis dalam mengatur penyerapan serta penggunaan energi.

Ia menjelaskan karbohidrat sebagai sumber energi utama akan disimpan dalam bentuk glikogen dan digunakan kembali saat tubuh kekurangan asupan.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved