Ratusan Lansia Jadi Santri Dadakan di PP Darul Ulum Jombang Selama Ramadan

Tak terkecuali ratusan warga lanjut usia (lansia). Mereka tak segan jadi santri dadakan di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU), Jombang.

Ratusan Lansia Jadi Santri Dadakan di PP Darul Ulum Jombang Selama Ramadan
Surya/Sutono
Para perempuan lansia yang sedang menyimak Alquran, di Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, tempat mereka menjadi santri dadakan selama bulan Ramadan 

 TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Bulan suci Ramadan banyak dimanfaatkan kaum muslim untuk memperbanyak kegiatan keagamaan.

Tak terkecuali ratusan warga lanjut usia (lansia). Mereka tak segan jadi santri dadakan di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU), Jombang.

Selain menimba ilmu keagamaan, mereka sekaligus lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, meningkatkan ketakwaan kepada Allah, serta meningkatkan kualitas keimanan mereka.

Ratusan lansia itu sejak awal Ramadan sudah berdatangan dadakan di pesantren yang didirikan pada 1898 itu.

Baca: Remaja Penghina Jokowi Anak Konglomerat, Suka Ngebut dan Nakal? Andi Syarief Sebut Perlakuan Berbeda

Mereka mayoritas berusia 50 tahun ke atas, tak hanya datang dari Jombang, melainkan juga dari berbagai wilayah di luarnya.

Diantaranya dari Kediri, Pacitan, Madiun, Jember, Nganjuk, dan Mojokerto. Bahkan ada lansia yang berasal dari Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat. Total lansia yang jadi santri dadakan, saat sedikitnya mencapai 150 orang.

Sekretaris Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum KH Cholil Dahlan, mengatakan, mereka yang dari luar pulau itu mayoritas karena anaknya pernah jadi santri di PPDU.

Para orang tua itu, sambung Kiai Cholil, saat anaknya mondok di sini, satu dua kali pernah menjenguk anak-anak mereka di sini.

Baca: Di toko Sidoarjo ini, Baju Gamis Paling Laris

"Dari pengalaman menjenguk anaknya itulah, ditambah informasi bahwa di sini menerima santri lansia, mereka kemudian minta kepada anaknya untuk ikut nyantri di sini," kata Kiai Cholil kepada Surya, Kamis (24/5/2018) .

Kiai Cholil mengungkapka, sembari menjalankan ibadah puasa, ratusan lansia itu mengikuti berbagai kegiatan agama. Di antaranya pengajian rutin, salat berjamaah, hingga membaca Alquran.

Untuk materi pengajian rutin juga beraneka macam. Antara lain, tata cara salat yang benar, amalan sehari-hari, tata krama hubungan dengan Allah, serta memahami surat-surat Alguran.

“Umumnya materi yang berhubungan dengan syariat. Seperti meningkatkan kualitas salat, kualitas puasa. Kalau soal akhlak, tidak banyak, karena mereka sudah lansia, yang potensi berbuat maksiat sudah nyaris lenyap,” imbuh Kiai Cholil.

Baca: Inilah Prediksi Pemain MU Vs Persebaya


KH Cholil yang juga Ketua MUI Jombang ini menceritakan, kegiatan ‘nyantri’ untuk lansia saat Ramadan sebenarnya tak hanya terjadi pada tahun ini saja, melainkan sudah sejak ratusan tahun silam.

“Sebab, sebagian besar dari mereka saat ini mondok tersebut anggota jamaah Tarikat Qodiriyah wan Naqsabandiyah, yang memang berpusat di sini (PPDU),” terang KH Cholil,

Menurut Kiai Cholil, para lansia itu tidak datang secara bersama-sama, namun secara bergelombang. Hanya saja, rata-rata mereka datang sejak awal Ramadan. Para santri dadakan itu akan kembali ke rumah masing-masing saat menjelang lebaran.

Selama di pesantren, ratusan santri lansia itu tinggal di bagian masjid, yang sudah dimodifikasi menjadi tempat tinggal sementara. Segala aktivitas mulai tidur, sahur, hingga buka puasa, mereka lakukan di masjid itu pula.

Meski memenuhi fasilitas listrik dan kebersihan, namun pihak pondok tidak menarik biaya sepeser pun.

"Hanya untuk makan, mereka harus beli sendiri di warung-warung sekitar pondok," jelas Kiai Cholil.

Para lansia sendiri mengaku memilih nyantri karena mendapatkan ketenangan batin dan lebih tenang, sehingga lebih khusuk saat menjalankan ibadah puasa maupun lainnya.

Baca: Pengakuan Korban Bom Thamrin, Bisa Bicara dengan Mayat, Lalu Hal Miris Ini Terjadi Pada Dirinya

Seperti diakui Mutma'inah (55), warga Kediri. Ibu tiga anak dan tujuh cucu ini rutin mengikuti seluruh kegiatan yang digelar khusu untuk para lansia. Usai subuh ikut pengajian, kemudian salat dhuha, lalu pengajian lagi sampai masuk waktu salat Duhur.

Setelah istirahat satu-dua jam, usai salat Asar sampai menjelang magrib kembali mendengarkan pengajian. Dan terakhir, setelah salat tarawih, dilanjutkan pengajian dan tadarus.

Mengenai sahur dan buka puasa, Mutma'inah mengaku tidak memasak sendiri seperti santri reguler. Tapi memilih membeli di warung-warung sekitar pondok.

“Supaya tidak repot, tinggal beli di warung-warung sekitar pondok, biar ibadah lebih khusuk,” kilah Mutmainah. Dia mengaku selama mondok mendapat jatah uang dari anak-anaknya. Dua dari tiga anaknya memang alumni PPDU.(Surya/Sutono)

Penulis: Sutono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved