Teroris di Indonesia yang Ditangkap Mencapai 1304 Orang, Kejati Jatim Siapkan Langkah Preventif

Mengutip data nasional, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menyebut sebanyak 1304 teroris telah diamankan dari beberapa kasus Indonesia.

Teroris di Indonesia yang Ditangkap Mencapai 1304 Orang, Kejati Jatim Siapkan Langkah Preventif
SURYA/GALIH LINTARTIKA
Densus 88 Anti Teror saat mengamankan lokasi penangkapan terduga teroris di Probolinggo, Rabu (30/5/2018) malam. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pihak Kejasaksaan mencatat, jumlah teroris yang diadili di Indonesia mencapai ribuan.

Mengutip data nasional, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menyebut sebanyak 1304 teroris telah diamankan dari beberapa kasus Indonesia.

"Sejauh ini kami melakukan langkah penindakan dengan memberikan penuntutan atas pelimpahan kasus yang dari pihak kepolisian," kata Bambang Gunawan, Asintel Kejati Jatim, pada Dialog Kebangsaan di Gedung Rektorat Unesa, Surabaya, Kamis (6/12/2018).

Menurut Bambang, pihaknya terus merapatkan barisan untuk dapat mengantisipasi hal tersebut.

Tak sendiri, pihak kejaksaan juga berkoordinasi dengan stakeholder terkait.

Sebagai langkah preventif, Kejaksaan memiliki program Jaksa Menyapa.

Sukses Lumpuhkan Terduga Teroris, Polisi Lamongan Bripka Andreas Diberi Kenaikan Pangkat Luar Biasa

Melalui program ini, kejaksaan dapat melakukan sosialisasi sekaligus tahapan antisipasi untuk mencegah paham radikal.

"Kejaksaan telah membentuk satgas untuk menangani paham radikal hingga teroris. Kami juga menyiapkan program Jaksa Menyapa yang masuk ke lembaga pendidikan untuk memberi pemahaman positif tehadap kehidupan bernegara," ujarnya.

Pihak kepolisian pun menegaskan akan mengedepankan langkah preventif dibandingkan dengan penindakan.

"Kami berharap sudah tak ada lagi penindakan terhadap kasus teroris dan kasus kemarin menjadi yang terakhir," ujar Kombes Pol Teddy Setiadi, Dirintelkam Polda Jatim di acara yang sama.

Ia lantas mencontohkan bahaya radikalisme dalam kehidupan sehari-hari yang justru berpotensi berkembang di kelompok masyarakat terkecil, yakni keluarga.

"Seperti halnya ledakan bom di Surabaya lalu yang ternyata pelakunya berasal dari satu keluarga," katanya.

"Saat ini, paham radikal dapat berkembang mulai usia dini sekalipun. Tentu, dengan cara atau treatment berbeda dibanding usia dewasa. Menariknya, saat ini paham radikal juga tumbuh dikalangan berpendidikan tinggi serta sosial tinggi," ungkapnya.

Saat ini, di Jawa Timur memiliki sekitar 13 lapas yang dihuni napi teroris. Pihaknya terus melakukan langkah preventif, di antaranya dengan program deradikalisasi.

"Ini merupakan program tanggung jawab bersama. Pihak penyidik dan penegak hukum tak dapat bergerak sendiri melainkan harus bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat," pungkas Teddy. (bob)

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved