Terkait Penolakan Kilang Minyak Pertamina-Rosneft, Bupati Tuban: Saya Minta Warga Berpikir Jernih

Bupati Tuban Fathul Huda meminta kepada warga yang masih menolak pembangunan kilang minyak Pertamina-Rosneft untuk berpikir jernih.

Terkait Penolakan Kilang Minyak Pertamina-Rosneft, Bupati Tuban: Saya Minta Warga Berpikir Jernih
SURYA.CO.ID/M SUDARSONO
Bupati Tuban, Fathul Huda, didampingi pejabat Pertamina memberikan jawaban kepada awak media sebelum meninggalkan acara pelatihan warga ring sekitar kilang minyak, yang diselenggarakan Pertamina, di gedung BLKI, Jumat (15/3/2018) 

Laporan Wartawan Surya, Mochamad Sudarsono

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Bupati Tuban Fathul Huda meminta kepada warga yang masih menolak pembangunan kilang minyak Pertamina-Rosneft untuk berpikir jernih. 

Hal itu disampaikan saat menghadiri acara pelatihan warga sekitar ring kilang minyak, yang diselenggarakan Pertamina di gedung BLKI, Jumat (15/3/2019). 

Menurut Bupati Tuban Fathul Huda yang berlatar belakang Kyai tersebut, masyarakat haruslah berpikir jauh ke depan untuk anak cucu. 

Warga yang masih menolak waktunya untuk berpikir jernih, harus mampu atau bisa mengembangkan potensi yang ada. 

"Harus berpikir untuk anak cucu, kalau mau berkembang ya kembangkan potensi yang ada," Ujar Bupati Tuban Fathul Huda menyambut hangat progres pelatihan oleh Pertamina kepada warga sekitar.

Setelah Terima Tali Asih, Warga Tak Boleh Garap Lagi Lahan KLHK Bakal Kilang Minyak Kabupaten Tuban

PT Pertamina Siapkan Dana Rp 6,5 M Lebih untuk Penggarap Lahan KLKH di Proyek Kilang Minyak Jenu

Bupati dua periode itu meminta, agar nantinya prioritas pekerja lebih diutamakan masyarakat sekitar. 

Masyarakat setempat jangan hanya menjadi penonton, harus tetap diupayakan untuk bisa bekerja di proyek yang melibatkan perusahaan minyak dua negara tersebut, yakni Pertamina dengan Rosneft asal Rusia. 

"Kami akan tetap upayakan ke arah sana, jadi masyarakat harus terlibat atas pekerjaan di kilang minyak, meski belum dilaksanakan MoU," Pungkasnya.

Sekedar diketahui, sebelumnya proyek GRR akan ditempatkan di Desa Remen dan Mentoso. Namun karena mendapat penolakan, pembangunan akhirnya di pindahkan di Desa Wadung, Kaliuntu, dan Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, sesuai Penlok dari Gubernur Jatim

Lahan yang dibutuhkan yaitu 841 hektare, terdiri dari milik KLHK 348 hektare, tanah Perhutani 109 hektare dan 384 hektare milik warga tiga desa.

Saat ini, warga penggarap lahan KLHK juga mendapatkan tali asih dari Pertamina senilai per hektar Rp 20 juta.

Penulis: M Sudarsono
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved