Mengenal Terapi Cuci Otak, Metode 'Pengobatan' Dokter Terawan yang Dikecam dan Salahi Prosedur

Brigjen TNI dr Terawan Agus Putranto dan metode pengobatan terapi 'cuci otak' nya kini menjadi sorotan. Sebenarnya, amankah terapi cuci otak?

Tayang:
Penulis: Ani Susanti | Editor: Alga W
Grid.ID
Ilustrasi otak dan dokter Terawan 

Dokter Spesialis Saraf Fritz Sumantri Usman menjelaskan, DSA selama ini hanya digunakan untuk diagnosa kelainan pembuluh darah di otak, bukan untuk terapi, apalagi mencegah stroke.

DSA pun tak bisa dilakukan kepada sembarangan orang, harus ada indikasi medis terlebih dahulu sebelum dilakukan DSA.

Potret Cantik Brigadir Popy Puspasari yang Menyamar Jadi PSK di Bali, No 3 Saat Rambut Masih Panjang

"DSA bisa dilakukan apabila sudah terkena serangan stroke berulang. Atau serangan stroke dengan faktor risiko tertentu, seperti kencing manis, jantung, hipertensi, hingga stroke di usia muda," jelas Fritz di sela-sela seminar Neurointervensi di Jakarta Kamis (17/12/2015) lalu, dikutip dari Kompas.com.

DSA dilakukan hanya untuk mengetahui apakah ada kelainan pembuluh darah di otak.

Ditegaskan Fritz, bukan untuk pengobatan stroke, misalnya menghilangkan sumbatan pembuluh darah di otak.

"DSA itu alat diagnosis gold standar untuk membidik kelainan pembuluh darah di otak," lanjut Fritz.

Begini Sosok Wulan Mayangsari Semasa Hidup, Mantan Backing Vocal Opick Hingga Keguguran 2 Kali

Sebelum DSA, biasanya telah dilakukan pengecekan dengan MRI atau CT Scan.

DSA tidak bisa dilakukan kepada seseorang yang tidak sakit.

Para dokter saraf tidak menyarankan pasien mengikuti terapi cuci otak yang metode dasarnya menggunakan DSA tersebut untuk mencegah terkena stroke atau menyembuhkan.

Apalagi, terapi cuci otak yang dikenalkan Terawan sekitar 3 tahun lalu itu belum dibuktikan secara ilmiah.

11 Gaun Terburuk Red Carpet Oscar 2018, dari yang Mirip Kemoceng Sampai Rumbai-rumbai Mengganggu

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (Perdosi), Hasan Machfoed mengatakan, tanpa penjelasan ilmiah dan uji klinik, modifikasi DSA untuk mengobati stroke tentu belum aman dilakukan pada manusia.

Ia khawatir, terapi cuci otak justru hanya akan menimbulkan komplikasi penyakit.

Menurut Hasan, terapi cuci otak jelas telah menyalahi prosedur dan kode etik kedokteran.

Oleh karena itu, metode Dokter Terawan dikecam dunia kedokteran dan kesehatan.

Selalu Berpakaian Terbuka, Artis Ini Sering Masuk Daftar Gaun Terburuk Ajang Penghargaan, No 2 Parah

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved