80 Persen Wisatawan Milenial Manfaatkan Akses Digital, Wisata yang Instragramable Paling Disukai

Sebanyak 75-80 persen wisatawan adalah kaum milenial di mana lebih mengedepankan nilai eksperimen. Mereka menggunakan digital untuk kebutuhan wisata.

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Arie Noer Rachmawati
SURYA/SYLVIANITA WIDYAWATI
Suasana seminar nasional pariwisata digital di FIA Universitas Brawijaya Malang, Kamis (25/4/2019). 

Untuk jadi destinasi wisata, maka perlu memperhatikan tiga hal, yaitu atraksi, aksesibilitas dan amenitis.

"Seperti direct flight. Karena wisatawan sebagaian besar juga memakai akses pesawat udara," kata dia.

Seminar bertajuk "Implementasi Pariwisata Digital Pada Daya Saing Ekonomi dan Sosial Daerah" ini juga menghadirkan Walikota Banjarmasin Ibnu Sina SIP MSi mengenai pengelolaan wisata Kota Banjarmasin.

Sejak 500 tahun lalu, kota ini dikenal sebagai kota seribu sungai.

"Floating market ada dua di dunia yaitu Banjarmasin dan Thailand. Yang asli ada Banjarmasin," kata Ibnu Sina.

Karena itu Pemkot Banjarmasin mengembangkan destinasi wisata berbasis sungai.

Jika 10 Bali baru Indonesia berbasis laut, pantau dan gunung, ia ingin melamar menjadi nomer 11 yang berbasis sungai.

"Uniknya tidak ada yang menyamai karena dari konten sungai," paparnya.

Awalnya, sungai jadi masalah bagi Banjarmasin.

Karena itu, sejak 2016 dirubah mindsetnya agar sungai adalah "beranda depan" rumah.

Bukan belakang sehingga menjadi tempat pembuangan.

Maka sejak dua tahun lalu bantaran sungai yang jadi slum area ditata.

VIDEO: Menikmati Eksotisnya Pantai Sipelot Kabupaten Malang, Wajib Masuk List Wisata Kamu!

Kabupaten Pasuruan Tawarkan Eksotis Budaya dan Potensi Alam Sebagai Destinasi Wisata

Sehingga bisa dimunculkan destinasi wisatanya.

"Tapi pesawat jangan mahal-mahal. Bisa hancur pariwisata kita," ujarnya.

Saat ini ada tambahan destinasi wisata sebanyak 36 untuk menambah lama tingg wisatawan di Banjarmasin yang rata-rata hanya 1,5 hari.

Kaprodi S1 Pariwisata, Dr Sunarti MAB menyatakan pariwisata tidak seperti minyak yang akan habis.

Apalagi pariwisata Indonesia sangat luar biasa. Bahkan bisa memberi kontribusi negara setelah minyak.

Karena itu dalam mengelola wisata agar berdaya saing yaitu fokus dan memiliki pembeda. (Surya/Sylvianita Widyawati)

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved