Vihayana Creative Communication Tujuannya Membuka Usaha untuk Anak Asuh

Vihayana Creative Communication. Bisnis yang bertempat di Malang itu dibangun keduanya bukan dengan cara yang mudah.

Vihayana Creative Communication Tujuannya Membuka Usaha untuk Anak Asuh
dya ayu/surya
Fransiskus Asisi Suhariyanto dan Selviya Hanna P Manuputty, Pemilik Vihayana Creative Communication 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Fransiskus Asisi Suhariyanto (45) dan Selviya Hanna P Manuputty (32), sukses mendirikan serta mengembangkan bisnis penerjemah, Vihayana Creative Communication. Bisnis yang bertempat di Malang itu dibangun keduanya bukan dengan cara yang mudah.

Bisa mendirikan bisnis yang sudah berjalan selama 10 tahun menjadi mimpi awal Fransiskus Asisi Suhariyanto dan Selviya Hanna P Manuputty, Pemilik Vihayana Creative Communication. Meski demikian masih banyak mimpi yang ingin mereka wujudkan di masa mendatang, yakni salah satunya memiliki 1000 anak asuh di seluruh Indonesia.

Sebelumnya mereka telah memiliki 20 anak asuh di Indonesia Timur yang ia angkat dari salah satu organisasi kemanusiaan. Dari organisasi itu mereka membantu dan memberikan sumbangan melalui yayasan agar 20 anak lulus SMA. Kini semua sudah lulus. Anto dan Selviya tengah bersiap kembali untuk mengangkat anak lain yang juga ingin mereka bantu.

"Kami punya mimpi memiliki 1.000 anak asuh diseluruh Indonesia. Sejak awal kami tinggal di kontrakan kami sudah punya mimpi itu dan sekarang masih proses. Sekarang kami fokus mengembangkan usaha ini dan meningkatkan kesejahteraan karyawan kami," kata Anto kepada Tribunjatim.com.

Fransiskus dan Selviya Hanna, Pemilik Vihayana Creative Communication, Menerjemahkan Mimpi

JFC 2019, Fesyen Show Anne Avantie Membuka Pagelaran JFC-18

Mobil Porshe Seharga 2,3 Miliar Warga Lakarsantri Surabaya Tabrak Pohon di Magetan, Penyebabnya ini

Pasangan suami istri yang gemar menolong ini bukan baru-baru ini saja menolong para anak yang khususnya berada di Indonesia Timur, mereka sudah gemar membantu melalui organisasi dan yayasan kemanusiaan sejak masih tinggal di kontrakan.

Menurut cerita Anto, bisnis penerjemah yang mereka kelola ini justru dibangun karena keduanya ingin bisa membantu orang lebih banyak lagi. Keduanya akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan perusahaan.

"Dulu kami pernah dalam keadaan serba kekurangan, tinggal di Surabaya di rumah kontrakan yang kalau hujan banjir, kalau buka pintu depan langsung dapat pintu belakang karena kecilnya. Saat itu, dengan kondisi seperti itu kami ingin punya anak asuh. Akhirnya kami membuka usaha ini agar bisa bantu mereka. Itu kenapa kami ingin menjadi pengusaha karena kami ingin lebih banyak bisa membantu orang. Kalau kami tidak punya usaha, yang kami tolong juga tidak banyak," beber pria asal Surabaya itu kepada Tribunjatim.com.

Selviya menambahkan, sebenarnya tetap bisa menolong orang dalam kondisi apa pun.

“Akan tetapi mungkin jalan yang Tuhan bukakan untuk kami itu melalui jadi pengusaha dulu. Dari situ mungkin bisa membantu orang dan mewujudkan mimpi kami untuk bisa traveling," tutur Selviya.(Myu/Tribunjatim.com)

Penulis: Dya Ayu
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved