70 Persen Sampah di Surabaya Merupakan Organik, DKRTH Gelar Pembinaan Briket Arang

Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau mendorong warga kampung untuk melahirkan inovasi-inovasi terbaik solusi sampah.

70 Persen Sampah di Surabaya Merupakan Organik, DKRTH Gelar Pembinaan Briket Arang
SURYA/SUGIHARTO
Acara 'Pendampingan Pemanfaatan Energi Alternatif: Briket Arang dari Sampah Organik' di Jalan Ondomohen Magersari V, Surabaya, Rabu (14/8/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Permasalahan sampah tak pernah luput dari kekhawatiran terbesar masyarakat Surabaya, Jawa Timur.

Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) pun mendorong warga kampung untuk melahirkan inovasi-inovasi terbaik sebagai solusi sampah.

Apalagi, menurut Tim Motivator Lingkungan Sub Bagian Pemberdayaan Masyarakat DKRTH, Adi Candra, 70 persen sampah di Surabaya adalah sampah organik.

Arema FC Vs Persebaya Surabaya, Absennya Tiga Penggawa Singo Edan Tak Jadi Keuntungan Bajul Ijo

Kurangi Plastik, Wali Kota Tri Rismaharini Bagi-bagi Daun Pisang untuk Pembungkus Daging Kurban

"Kami berharap masyarakat aktif dalam upaya reduksi sampah organik, karena sampah terbesar Surabaya 70 persen adalah organik. Nah, selama ini, masyarakat hanya kenal pemanfaatan sampah organik menjadi kompos. Tapi, ternyata, ini ada alternatif lain, yakni briket arang," jelas Adi Candra ketika ditemui dalam acara 'Pendampingan Pemanfaatan Energi Alternatif: Briket Arang dari Sampah Organik' di Jalan Ondomohen Magersari V, Surabaya, Rabu (14/8/2019).

Bersama tim riset dari Universitas Widya Mandala Surabaya, DKRTH Kota Surabaya berusaha menggalakkan produksi briket arang dari daun-daun kering, karena dinilai lebih ramah lingkungan dibanding briket kayu.

DKRTH Kota Surabaya menggelar pembinaan untuk 60 orang dari lima kelurahan, yakni Dinoyo, Genteng, Tegalsari, Simokerto dan Bubutan, dengan harapan mendapat hasil akhir briket daun kering dengan kondisi paling ideal, dan disamakan kekuatan, bahan baku, tingkat kepadatan, hasil pembakaran, dan lain-lain.

De Kofie Malang Ikut Unjuk Gigi Promosikan Selai Kopi di Gelaran Surabaya Great Expo 2019

Hari Raya Idul Adha 1440 H, Tri Rismaharini Ingatkan Warga Surabaya Agar Tak Buang Limbah ke Sungai

"Produk yang dihasilkan mungkin cara awalnya beda, tapi hasil akhirnya sama. Jadi output standarnya dibuat sama untuk Kota Surabaya. Nantinya, kami akan mengupayakan dari jalur pemasaran. Pemkot akan membantu supaya briket arang buatan warga bisa dipasarkan di kedai maupun restoran di Surabaya sendiri, sehingga warga menjadi tuan di rumah sendiri," katanya.

Ia menambahkan, DKRTH Kota Surabaya sudah berkomunikasi dengan pemilik Sate Kelapa Ondomohen soal penggantian briket kayu ke briket daun kering.

Mereka mendapat respons baik, karena pemilik juga menyukai briket daun kering yang disebut-sebut lebih lama menyala dibanding briket kayu.

Jadwal Lengkap Liga 1 2019 Pekan ke-14, Laga Derbi Jatim Arema FC Vs Persebaya Paling Dinanti

Tri Rismaharini dan 6000 Orang Bersihkan Kenjeran, 23,5 Ton Sampah Terkumpul

Kader Lingkungan Ondomohen, Endang Sriwulansari mengatakan, warga sudah mencoba membuat hidangan memanfaatkan briket daun kering saat Idul Adha.

"Ternyata beda dengan briket kayu, karena tidak harus banyak mengipas-ngipas. Kalau sudah dinyalakan, bara apinya lama. Dikipasi malah cepat habis. Asapnya juga tidak banyak," terangnya.

Ia berharap, nantinya bisa memproduksi briket arang dengan skala lebih besar dan harga mampu bersaing dengan briket kayu, sehingga warga bisa mendapat pendapatan lebih. (Delya Octovie)

Yuk Subscribe YouTube Channel TribunJatim.com:

Penulis: Delya Octovie
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved