Kejati Jatim Periksa Belasan Saksi Dari Komisaris PT DPS dan Appraisal di Gedung Bundar Kejagung

Sebanyak 12 saksi diperiksa di Gedung Bundar atau Kejaksaan Agung (Kejagung) selama tiga hari sejak Senin, (19/8/2019) hingga Rabu, (21/8/2019) kemar

Kejati Jatim Periksa Belasan Saksi Dari Komisaris PT DPS dan Appraisal di Gedung Bundar Kejagung
TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Barang Bukti. Uang pecahan Dollar Amerika dikembalikan kepada Kejati Jatim dari lima saksi kasus dugaan korupsi PT DOK dan DPS 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin 

 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sebanyak 12 saksi diperiksa di Gedung Bundar atau Kejaksaan Agung (Kejagung) selama tiga hari sejak Senin, (19/8/2019) hingga Rabu, (21/8/2019) kemarin.

Belasan saki tersebut diperiksa terkait dugaan kasus korupsi pengadaan kapal floating crane PT DPS (Dok dan Perkapalan Surabaya) senilai Rp 63 miliar.

 Hal tersebut dibenarkan oleh Jaksa Trimo selaku Tim Jaksa Pidsus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.  

“Belasan saksi ini  diantaranya Dewan Komisaris PT DPS dan pihak appraisal kami periksa di Gedung Bundar,” ujarnya kepada Tribunjatim.com, Kamis, (22/8/2019). 

 Mereka diantaranya mantan Komisaris PT DPS, Gatot Sudariyono; Komisaris Utama PT DPS, Syarif Hidayat; mantan Komisaris Utama PT DPS, Pos Marojahan Hutabarat; Komisaris PT DPS, Mesdin Simarmata.

7 Saksi Dugaan Korupsi Pengadaan Kapal PT DPS Tak Penuhi Panggilan Kejati Jatim, Penyidikan Ditunda

Etape 4 Tour dIndonesia 2019 Dimulai dari Jember Menuju Kawah Ijen Banyuwangi

Honor Termahal Vanessa Angel Dibongkar ke Hotman Paris, Kaget Tahu Ratusan Juta: Untuk Berapa Lama?

Kemudian saksi dari Dirut PT PPA Finance Sampoerna Strategic Square, Renny Octavianus Rorong; Dirut PT Karya Amal Reka, Mukti Wibowo dan Wakil Pimpinan Divisi BUMN dan Institusi Pemerintah Tahun PT Bank Negara Indonesia, Amerika.

Pemeriksaan ini, lanjut Trimo, merupakan pengembangan penyidikan dan pengembangan fakta maupun bukti-bukti baru dari persidangan terdakwa kasus ini, yakni Dirut  A&C Trading Network (ACTN), Antonius Aris Saputra. Dimana oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Cokorda Gede terdakwa Antonius divonis 16 tahun.

 Ditanya keterkaitan pemeriksaan saksi dengan kemungkinan tersangka baru kasus ini, Trimo enggan berspekulasi. Menurutnya, pemeriksaan saksi-saksi ini sangat menguntungkan penyidik untuk mengembangkan penyidikan kasus ini.

 “Kita lihat perkembangan nanti, pokoknya ada (tersangka baru, red). Pemeriksaan saksi-saksi di Jakarta ini menguntungkan bagi penyidik, selanjutnya kita akan ekspose lagi,” tegasnya kepada Tribunjatim.com.

 Seperti diketahui, penyidik Pidsus Kejati Jatim sebelumnya sudah menahan satu tersangka rekanan, yakni Dirut A&C Trading Network yang berkedudukan di Singapura, Antonius Aris Saputra. Oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Cokorda Gede terdakwa Antonius divonis 16 tahun dan denda sebesar  Rp 1 miliar, subsider 6 bulan kurungan.

 Selain itu, terdakwa juga diwajibkan untuk membayar kerugian negara sebesar Rp 61 miliar lebih. Jika tidak dibayar selama 41 bulan, maka hartanya akan disita oleh negara. Apabila harta yang disita tidak mencukupi, maka diganti dengan pidana selama 8 tahun penjara.

 Tak sampai disitu, penyidik Pidsus Kejati Jatim juga menetapkan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS), Riry Syeried Jetta sebagai tersangka kasus ini. Kini, Riry masih menjalani proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya. 

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved