Diduga Lakukan Penipuan, Calon Kades di Madiun Minta Panitia Lakukan Hitung Ulang

Seorang peserta Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa Geger, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun meminta melakukan penghitungan

Diduga Lakukan Penipuan, Calon Kades di Madiun Minta Panitia Lakukan Hitung Ulang
(Surya/Rahadian bagus)
Calon Kades Geger mendatangi Kantor Desa Geger, meminta panitia Pilkades agar melakukan penghitungan ulang. 

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Seorang peserta Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa Geger, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun meminta melakukan penghitungan surat suara ulang Pilkades Geger.

Mahmud Rudiyanto, yang merupakan calon kepala desa nomor urut 05, menganggap panitia telah menipu pemilih dan peserta calon kades. Selain itu, panitia juga dianggap menyimpang dari peraturan yang mengatur tata cara pemilihan kepala desa.

Rencananya, Kamis (17/10/2019) siang ini, Rudiyanto akan melaporkan panitia Pilkades Geger ke Polres Madiun.

"Saya akan mengajukan tuntutan hukum ke pihak kepolisan, karena panitia melakukan tipu muslihat, menipu pemilih dan peserta Pilkades," kata Rudiyanto, saat ditemui di Kantor Desa Geger.

Dia menuturkan, pada saat dilakukan penghitungan suara, Rabu (16/10/2019), banyak surat suara yang dinyatakan tidak sah oleh panitia. Setelah ia mengumpulkan saksi, ternyata surat suara tidak sah itu karena coblos tembus.

Dua Istri Wabup Blitar Unggul dalam Pilkades Serentak di Kabupaten Blitar

Gelora Bung Tomo Bakal Dilengkapi Sauna dan Jacuzzi, All Out Demi Berstandar Internasional

Tim Cobra Polres Lumajang Ringkus Begal 20 TKP, Polisi: Dua Lagi Sedang Dikejar, Hidup atau Mati

"Saya menuntut panitia, untuk menghitung ulang surat suara tidak sah," katanya kepada Tribunjatim.com.

Dia mengatakan, dari hasil penghitungan suara ia mendapat suara sebanyak 731. Sementara lawannya, yang menjadi pemenang bernama Sylamsudin mendapat suara 756, menang dengan selisih 25 suara.

Sementara itu, surat suara yang dinyatakan tidak sah oleh panitia sebanyak 568.

Rudiyanto mengatakan, sesuai dengan Perbup Madiun 31 tahun 2019 pasal 61 tentang Kepala Desa, apabila terdapat surat suara coblos tembus atau terdapat lubang coblosan lebih dari satu akibat lipatan selama tidak mencoblos peserta lain, maka tetap dinyatakan sah.

"Panitia telah membuat suara pemilih tidak berharga, yang seharusnya sah menjadi tidak sah, menyebabkan saya tidak menang," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pilkades Geger, Mohammad Rokhani, mempersilahkan kepada peserta pilkdes untuk menempuh jalur hukum apabila menginginkan dilakukan penghitungan ulang surat suara. Sebab, izin untuk melakukan penghitungan surat suara hanya dapat dikeluarkan oleh pengadilan.

"Kami mempersilahkan bersangkuatn menempuh jalur hukum. Karena kami sudah melaksanakan sesuai aturan dan sudah disosialisasi," katanya kepada Tribunjatim.com.

Terkait dengan sah atau tidak sahnya suara dalam pencoblosan, pihak panitia merujuk pada lampiran Perbup Madiun 31 tentang Kepala Desa. Dalam lampiran, disebutkan bahwa surat suara yang dinyatakn sah apabila lubang coblosan berada di dalam kotak atau garis.

"Aturan yang kita pakai, apabila ada coblosan yang di dalam kotak dan di luar kotak maka itu tidak sah," imbuhnya.

Siang itu, Rudiyanto bersama timnya mendatangi Kantor Desa untuk meminta panitia menyegel ruang penyimpanan surat suara dengan gembok. Mereka meminta, agar ruang penyimpanan surat suara tidak dikeluarkan, sebelum dilakukan penghitungan surat suara ulang. (rbp/Tribunjatim.com)

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved