Pemulung Nekat Cari Sampah di Tengah Kebakaran TPA Supit Urang, 'Yang Penting 6 Anak Saya Makan'

Demi sesuap nasi, Warti tetap mengais barang bekas yang masih bernilai di tengah kepulan asap kebakaran TPA Supit Urang, Sukun, Kota Malang.

Penulis: Rifki Edgar | Editor: Anugrah Fitra Nurani
SURYA/RIFKY EDGAR
Warti (60) seorang pemulung yang nekat bekerja di tengah kepulan asap tebal dan kobaran api yang melanda TPA Supit Urang Kota Malang, Sabtu (19/10). 

TRIBUNJATIM.COM, KLOJEN - Demi sesuap nasi, Warti tetap mengais barang bekas yang masih bernilai di tengah kepulan asap kebakaran TPA Supit Urang, Sukun, Kota Malang.

Asap itu masih mengepul sejak Jumat (18/10/2019) kemarin hingga Sabtu (19/10/2019) sore ini akibat kebakaran.

Warti, Perempuan yang tinggal di Wagir, Kabupaten Malang itu nekat mengais sisa-sisa rezeki di tengah kobaran api yang melanda TPA Supit Urang.

Asap yang megepul dari kebakaran di tumpukan sampah seluas 30 hektar ini bahkan tidak bisa ditembus sinar matahari.

(Belum Mati, Kebarakan di TPA Supit Urang Malang Diprediksi Sampai Sepekan, Api Ada di Bawah Tumpukan)

"Kalau saya tidak memulung nanti mau makan apa?," Ucap Warti saat mengumpulkan sampah plastik di TPA Supit Urang (19/10).

Pada siang itu, Warti tak sendiri. Ada beberapa pemulung yang masih nekat melakukan aktifitasnya mencari sisa-sisa sampah meski jumlahnya tak banyak.

Gubuk-gubuk yang biasanya digunakan untuk beristirahat oleh para pemulung di sekitaran gunungan sampah juga sepi dari aktifitas.

"Pokoknya biar dapat penghasilan. Lumayan per hari bisa dapat 50-80 ribu, yang penting bisa buat makan enam anak saya," ucap perempuan berusia 60 tahun itu.

Warti pun menceritakan, asal muasal kebakaran yang melanda TPA Supit Urang.

Menurutnya, kebakaran itu terjadi sekitar pukul 11:00 WIB siang kemarin. Waktu itu, ia sedang memunguti sampah bersama para pemulung lainnnya.

(Sudah 21 Jam, Kebakaran TPA Supit Urang di Kota Malang Belum Padam, Lahan TPA 10 Hektar Terbakar)

Tak berselang lama, ada para pemulung yang berteriak kebakaran. Hingga si jago merah melalap gunungan yang berada di sebelah barat TPA Supit Urang.

"Kalau asal muasalnya kami tidak tahu. Tahu-tahunya ya api membesar," ucapnya.

Hingga kini, proses pemadaman api pun terus dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran Kota Malang.

Api merembet hingga membakar 10 hektar TPA Supit Urang.

Plt Kepala UPT Damkar Malang, Antonio Viera memprediksi, bahwa api baru bisa dipadamkan empat hingga lima hari ke depan.

"Berbagai macam upaya telah kami lakukan. Kami mohon doanya agar api cepat padam. Dan ini merupakan bencana kebakaran terbesar dari tahun-tahun sebelumnya di TPA Supit Urang," pungkasnya.

Reporter: Surya/Rifky Edgar

(Kebakaran TPA Supit Urang di Kecamatan Sukun Kota Malang Diduga Disebabkan Gas Metan)

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved