Jembatan Penghubung Dua Desa Ambrol di Dau Kabupaten Malang, Jembatan Darurat Segera Dibangun

Jembatan darurat akan dibangun di lokasi ambrolnya jembatan penghubung antara Desa Gadingkulon dan Desa Tegalweru di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Jembatan Penghubung Dua Desa Ambrol di Dau Kabupaten Malang, Jembatan Darurat Segera Dibangun
TRIBUNJATIM.COM/KUKUH KURNIAWAN
Warga bersama Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang menyusun jembatan darurat yang terbuat dari bambu untuk segera dipasang di lokasi kejadian. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Jembatan darurat akan dibangun di lokasi ambrolnya jembatan penghubung antara Desa Gadingkulon dan Desa Tegalweru di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Berdasarkan pantauan TribunJatim.com, warga sedang bergotong royong memasang anyaman bambu untuk lantai jembatan.

Ya, jembatan darurat yang terletak di Kecamatan Dau ini terbuat dari bambu.

"Material bambu untuk menyusun rangka jembatan darurat sudah ada di lokasi dan siap dipasang. Saat ini warga secara bergotong royong sedang memasang anyaman bambu untuk lantai jembatan," ujar Camat Dau, Eko Margianto kepada TribunJatim.com, Jumat (31/1/2020).

Eko Margianto menjelaskan, bahwa jembatan darurat itu akan diusahakan dapat dipasang saat sore hari nanti.

Antisipasi Virus Corona, Risma Sebut Pemkot Surabaya Gencar Lakukan Berbagai Upaya

Komisi IX DPR RI Apresiasi Program Pemkot Terkait Pengendalian Penduduk dan Ketahanan Keluarga

E-Tilang di Kota Malang Siap Diterapkan, Pengendara Nakal Tak Pakai Seat Belt Bisa Terdeteksi CCTV

Wali Kota Risma Beri Bantuan Khusus ke Ibu Asal Sidotopo Surabaya Pengidap Kanker Payudara Stadium 4

Dana Pemeliharaan Jalan Rp 43 Triliun, DPRD Jatim: Jembatan Timbang Jadi Solusi

"Kalau cuaca mendukung dan puing puing jembatan telah dirapikan oleh excavator, kita akan langsung memasang jembatan darurat. Kita usahakan hari ini semuanya telah selesai agar jalur ini dapat segera digunakan oleh masyarakat," jelas Eko Margianto.

Eko Margianto menerangkan, bahwa peristiwa rubuhnya jembatan itu tidak sampai memakan korban jiwa.

"Jalur ini sebenarnya jalur alternatif agar warga desa Gading Kulon ke desa Selorejo tidak perlu memutar terlalu jauh lewat jalur utama. Dan sebagian besar yang menggunakan jalur ini adalah petani sehingga bisa dibilang untuk arus lalu lintasnya tidak terlalu ramai. Dan saat kejadian, kondisi jalur itu sepi dan tidak ada seorangpun yang melintas di atas jembatan," bebernya.

Eko Margianto mengungkapkan, kemungkinan besar arus sungai Metro yang cukup deras menjadi penyebab ambruknya jembatan.

"Apalagi saat ini wilayah lereng Gunung Buthak sendiri pernah dilanda kebakaran sehingga kawasan untuk resapan air menjadi berkurang. Dan pada saat banjir tersebut, selain membawa air keruh juga membawa lumpur," pungkasnya.

Penulis: Kukuh Kurniawan

Editor: Elma Gloria Stevani

Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Elma Gloria Stevani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved