Berikut Kronologi Sengketa Yayasan Sunan Ampel Surabaya

Gus Hifni merupakan putra dari KH Nawawi pendiri Yayasan Sunan Ampel Surabaya. Namun ada pihak yang mengklaim berwenang mengelola Masjid Agung Sunan

SURYA/TONY HERMAWAN
Kawasan wisata religi Sunan Ampel Surabaya ditutup sementara untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona atau Covid-19. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gus Hifni merupakan putra dari KH Nawawi pendiri Yayasan Sunan Ampel Surabaya. Namun ada pihak yang mengklaim berwenang mengelola Masjid Agung Sunan Ampel yaitu Yayasan Masjid Agung Sunan Ampel Soerabaja.

Hingga terjadi polemik dalam pengelolaan Kawasan Ampel mulai masjid, makam dan tanah wakaf

Yayasan Masjid Agung Sunan Ampel Soerabaja mengatasnamakan atau mengklaim lahan dan menyegel lahan yang biasa dipakai oleh Yayasan Masjid Agung Sunan Ampel

Secara singkat Gus Hifni menjelaskan bahwa Yayasan Masjid Agung Sunan Ampel berdiri sejak tahun 1973 yang bermula bernama Yayasan Masjid Ampel. Selanjutnya terjadi perubahan di bawah Yayasan yang sama pada tahun 1979 dan 1984.

Pada waktu itu terbentuk suatu susunan Yayasan Sunan Ampel yang terdiri dari para tokoh Ampel dari berbagai unsur. Secara singkat berjalan sampai tahun 1979 sampai tahun 1988.

Pergantian yang terjadi selama dua kali sejak 1979 dan 1988 di karenakan ada beberapa hal yaitu wafatnya pengurus. 

Sampai tahun 1998 saat Ketua Yayasan KH Nawawi wafat maka terjadi rapat tokoh-tokoh Ampel. Ada Habib As Segaff, KH Imron Rozaq dan KH Abdurrahman Wahid turun tangan masuk kepengurusan karena terjadi suatu tarik ulur dalam musyawarah dalam menentukan pengurus.

Sengketa Yayasan Sunan Ampel Surabaya, Pengurus Tunjuk Adik Menkopolhukam Sebagai Kuasa Hukum

BERITA TERPOPULER JATIM: Hoaks Jembatan Suramadu Ditutup hingga 502 Kasus Baru Covid-19 di Jatim

Hadiah Terakhir Didi Kempot ke Seika sebelum Wafat, Yan Vellia Sebut Peninggalan: Obat Roso Kangen

Gus Dur menjadi rujukan musyawarah oleh pengurus sehingga atas persetujuan beliau lewat surat fax bertanda tangan, bahwa susunan pengurus ketakmiran terdiri dari masyarakat di antara yang menjadi pimpinan antara lain sebagai nadzir KH Ubaidillah dan KH Moh Azmi sebagai takmir.

Pada sebelum tahun 1973 kepengurusan takmir berjalan tradisional di bawah KH Nawawi Mohammad lalu pada 1978 berdiri yayasan. 

Halaman
1234
Penulis: Samsul Arifin
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved