Virus Corona di Jawa Timur

Pengusaha Alat Pesta Trenggalek Mengeluh Rugi Terus, Minta Hajatan Diperbolehkan Lagi di New Normal

Pengusaha alat perta di Ternggalek meminta pemerintah daerah kembali izinkan hajatan di masa new normal. Mengeluh rugi terus selama pandemi Covid-19.

SURYA/AFLAHUL ABIDIN
Suasana hearing para pekerja alat pesta bersama pemda dan anggota dewan, Rabu (17/6/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Para pengusaha alat pesta seperti sound system, persewaan tenda, dan jasa boga di Kabupaten Trenggalek meminta pemerintah daerah mengizinkan kembali kegiatan hajatan.

Sebabnya, mereka mengaku merasa terus merugi setelah berbulan-bulan berbagai acara ditunda dan dibatalkan gegara pandemi virus Corona ( Covid-19 ).

Koordinator pengusaha itu, Harun, menjelaskan, telah banyak kru jasa alat pesta yang menganggur setelah hajatan di larang. Ia ingin hajatan kembali diizinkan di era new normal.

Isi Libur Kompetisi, Mantan Pelatih Kiper Arema FC Bersih-Bersih Masjid Bareng Komunitas di Malang

Bukti Seram Rumah Baim Wong Sering Dapat Teror, Paula Ngotot Pindah, Suami Tolak: Pusing Bayarnya

“Kalau kami pikir sebagai pekerja sangat terdampak. Tidak bisa bekerja sama sekali. Kelihatanlah, contoh kru sound system tidak ada sama sekali job. Job yang sudah masuk juga di-cancel,” kata Harun, usai mengikuti hearing di Gedung DPRD setempat, Rabu (17/6/2020).

Ia menyebut, ada sekitar 800 pengusaha alat pesta di kabupaten itu. Mereka tersebar di 14 kecamatan yang ada di Trenggalek.

“Yang terdata kemarin, setiap kecamatan hampir 80,” ungkapnya.

Novel Baswedan Pertanyakan Peran Jaksa yang Tak Berpihak pada Korban selama Sidang: Saya sampai Malu

Alamat Pasien Covid-19 di Surabaya Bisa Dilihat di Website Ini, Update Tiap Hari: Ada Tanda Khusus

Koordinator Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Trenggalek Djoko Rusianto menyebut, pemerintah daerah sebenarnya tak melarang digelarnya hajatan di era new normal.

Akan tetapi, hajatan yang digelar tidak seremoinal dengan mendatangkan banyak orang seperti era sebelum Covid-19.

“Dengan adanya hajatan, otomatis mengumpulkan orang banyak. Ketika mengumpulkan orang banyak, protokol akan sulit dijalankan,” ungkap Djoko, dalam kesempatan yang sama.

Pekerja alat pesta, kata Djoko, mungkin bisa menerapkan aturan protokol kesehatan yang berlaku. Tapi mengatur tamu yang datang tentu akan sulit.

Halaman
12
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved