5 Daerah Jatim Ini Berisiko Stunting Tinggi, Wagub Emil Sorot Kedisiplinan Masyarakat: PR Bersama
5 daerah Jawa Timur ini disebut berisiko stunting tertinggi. Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak sorot kedisiplinan masyarakat: PR bersama.
Penulis: Zainal Arif | Editor: Hefty Suud
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Prevalensi stunting Jawa Timur saat ini tidak terpaut jauh dari angka nasional, yakni mencapai 26,91 persen dengan resiko stunting tertinggi pada Kabupaten Trenggalek, Probolinggo, Jember, Pacitan dan Bondowoso.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak pada kesempatan webinar yang diselenggarakan YAICI bersama PP Aisyiyah secara daring via Zoom Meeting dan YouTube Streaming, Selasa (28/7/2020).
“Ini menjadi PR bersama mengingat di dalam roadmap penurunan stunting, pada 2024 harapannya bisa dibawah 25 persen. Oleh karena itu, langkah awal dengan memastikan ibu dan bayi mendapat gizi yang baik,” ujar Emil Dardak.
• Ditemukan Cacing Hati dan Paru Rusak Pada Hewan Kurban Magetan, Disnakkan: Organ Tak Layak Konsumsi
• Ashanty Kegirangan & Gemetar Dapat Kiriman LED Mask dengan Tanda Tangan Lee Min Ho: Jangan Iri Guys
Emil mengungkapkan permasalahan gizi erat kaitannya dengan ekonomi masyarakat. Namun stunting tidak melulu terjadi karena kemiskinan, melainkan karena ketidakdisiplinan masyarakat.
“Stunting tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat ekonomi rendah, karena penerapan disiplin gizi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membeli makanan, tapi juga pilihan pangan,” jelas Emil.
Sebuah program yang pernah dijalankan di Pandeglang pada 2019 terjadi stunting akibat kesalah pahaman masyarakat yang beranggapan kental manis adalah susu dan diberikan kepada anak.
• Satu Posisi ini Tak akan Diisi Pemain U-20 Persik Kediri, Joko Susilo Beri Penjelasan
• Pasangan QA Akhirnya Kantongi Rekomendasi Gerindra untuk Pilkada Gresik, Mesin Partai Siap Gerak
“Lalu dilakukan upaya, kental manis di ganti susu dan ada perbaikan. Ini kemudian dikoordinasikan dengan dinas kesehatan propinsi untuk dilakukan upaya yang sama di Jawa Timur,” terangnya.
Emil Dardak mengapresiasi upaya YAICI dan PP Aisyiyah yang sudah konsisten dalam memberikan edukasi dan literasi gizi kepada masyarakat.
“Ibu-ibu muda saat ini yang rata-rata kelahiran 1990-2000 adalah generasi millenial yang pastinya melek teknologi dan informasi. Tapi terkadang, pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya, orang tua, mertua atau nenek. Karena itu, edukasi mengenai gizi dan kental manis juga harus diberikan kepada generasi yang lebih tua ini,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani mengingatkan gizi anak harus berawal dari keluarga. Sehingga tingkat edukasi orang tua sangat mempengaruhi kualitas anak dan keluarga.
Namun, berdasarkan profil keluarga BKKBN, sebanyak 16,95 persen atau kurang lebih 10 juta keluarga Indonesia masuk kategori prasejahtera.
Sementara berdasarkan tingkat pendidikan kepada keluarga, terdapat 51,5 persen kepala keluarga yang menginjak pendidikan hanya sampai jenjang Sekolah Dasar.
“Dibutuhkan kerjasama multi stakeholder untuk mengadvokasi keluarga-keluarga prasejahtera dan keluarga rentan miskin agar kebutuhan gizi anak dan keluarga tetap tercukupi,” ungkapnya.
Dalam hal ini, masyarakat dituntut untuk dapat menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang seperti stunting dan gizi buruk.
“Salah satunya dalam hal pemberian susu kepada anak-anak, dimana masih banyak orang tua yang sering salah memahaminya. Masih banyak para orang tua, utamanya dari masyarakat tidak mampu, itu menganggap susu kental manis sebagai pilihan tepat bagi anaknya,” jelas Netty.