Serapan Tembakau Kecil, Petani Tembakau di Lumajang Terancam Merugi Besar

Sejumlah petani tembakau di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengaku ketar-ketir. Pasalnya penyerapan tembakau oleh industri rokok di wilayah setempat

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Yoni Iskandar
tony hermawan/Tribunjatim
Sukari (48) petani tembakau di Desa Kali Wunguh, Kecamatan Tempeh saat ditemui di kediamannya, Selasa (22/9/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Sejumlah petani tembakau di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengaku ketar-ketir. Pasalnya penyerapan tembakau oleh industri rokok di wilayah setempat tahun ini tidak optimal.

Seperti yang dialami Sukari (48) petani tembakau di Desa Kali Wunguh, Kecamatan Tempeh. Menurutnya, di wilayah setempat ada dua pabrik yang melakukan penyerapan tembakau. Yaitu PT IDS dan PT Sadana.

Namun tahun ini hanya PT Sadana yang membuka kuota pengiriman hasil panen tembakau dari petani. Hal ini yang menyebabkan dirinya kebingungan untuk menyetorkan hasil tembakaunya. Terlebih dirinya tercatat sebagai petani yNg bermitra dengan PT IDS.

"Sudah siap semua tinggal kirim, tapi gimana pabrik (PT IDS) belum buka sama sekali selama masa panen," kata Sukari kepada TribunJatim.com, Selasa (22/9/2020).

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah harga tembakau terancam turun. Sebab jika tembakau terlalu lama tidak disetorkan ke pabrik kualitasnya bisa berubah.

"Kalau setor permintaan pabrik minta tembakau yang warna kuning atau warna asli dari daun. Sementara kalau terlalu lama didiamkan warnanya jadi coklat, ini bisa mempengaruhi harga," ucapnya kepada TribunJatim.com.

15 Nakes RSUD dr Soedono Kota Madiun Positif Covid-19, 127 Jalani Isolasi Mandiri

Cegah Covid-19 Menyebar, 7 Desa di Sumenep Lockdown, Warga Minta Segala Kebutuhan Dipenuhi

Atta Pernah Temui Anak dari Istri Lain Ayahnya, Bocor Sikap ke Adik Tiri: Tak Diakui ke Publik

Kata Sukari, stok tembakau dari petani PT IDS di wilayahnya sudah mencapai 70 ton. Lantaran pabrik yang tak kunjung buka, sejumlah petani mulai berinsiatif menyetorkan tembakau ke PT Sadana.

Namun rupanya, ini bukanlah solusi dari segala kecemasannya. Sebab pabrik juga memberlakukan pengiriman tembakau dari petani secara terbatas.

Sehingga bisa dipastikan masih banyak hasil panen tembakau petani yang masih banyak belum terserap pabrik.

"Bisa ke PT Sadana. Tapi kalau di Sadana ambilnya terbatas. Dijatah satu petani maksimal 9 kuintal," ungkapnya.

Dengan kondisi ini, Sukari mengaku memilih pasrah. Sembari berharap agar seluruh perwakilan pabrik rokok bisa segera buka serta melakukan pembelian tembakau dengan harga yang wajar.

"Tahun sebelumnya harga di PT IDS tembakau kualitas terbaik sampai Rp 47 ribu, terendah RP 21 ribu. Ya semoga segera buka dengan harga yang sama," ucapnya. (Tony H/Tribunjatim.com)

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved