Breaking News:

LBH Surabaya Sebut Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Jawa Timur Masih Jadi PR

LBH Surabaya sebut kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Timur masih menjadi PR hingga kini.

SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi sorotan di Jawa Timur

Hal ini berdasarkan data yang tercatat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya. 

Direktur LBH Surabaya, Abdul Wachid Habibullah mengatakan, sedikitnya ada 16 kasus kekerasan pada perempuan, dan tujuh kasus kekerasan terhadap anak. 

"Artinya jargon ramah HAM dan ramah anak belum ada di Jatim," ujar Abdul Wachid Habibullah, Rabu (23/12/2020). 

Pengacara publik LBH Surabaya, Ramli Himawan mengatakan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih yang dominan dengan 10 kasus. 

Baca juga: Perayaan Tahun Baru 2021 Dipastikan Dilarang di Surabaya, Seluruh Aktivitas Berhenti Jam 20.00 WIB

Baca juga: Risma Menjadi Menteri Sosial, Eri Cahyadi: Beliau Selalu Tidak Tega Lihat Warga Susah

Disusul kekerasan nonfisik yang berbasis gender, seperti di dunia maya sebanyak tiga kasus. 

Suami menempati posisi pertama sebagai pelaku pelanggaran terhadap hak perempuan, yang mencapai sepuluh orang.

Kemudian kekasih korban, teman dan kerabat dekat yang totalnya lima orang. 

"Kasus pelanggaran terhadap hak perempuan banyak terjadi di Kota Surabaya 12 kasus, disusul oleh Kabupaten Sidoarjo tiga kasus, Mojokerto satu kasus dan Jombang satu kasus," tegasnya. 

Baca juga: Tabrakan Beruntun di Bondowoso, Mobil Daihatsu Grand Max Seruduk Dua Motor, Sopir Diduga Mabuk

Baca juga: Baru Ditunjuk Jokowi Jadi Menteri Sosial, Risma Langsung Bikin Janji, Beri Pesan ke Warga Surabaya

Baca juga: Tunggu Pesanan Makanan, Wanita di Kota Malang Jadi Korban Begal Payudara, Padahal Bersama Suami

Sementara pelanggaran yang kerap terjadi pada anak didominasi kekerasan dengan tiga kasus, serta pemerkosaan dan pencabulan masing-masing dua kasus. 

"Orang tua menempati posisi pertama sebagai pelaku pelanggaran terhadap hak anak, yakni tiga orang, dan disusul pelaku selanjutnya adalah keluarga, guru, teman, dan tetangga yang masing-masing satu orang," bebernya. 

"Kasus pelanggaran terhadap hak anak banyak terjadi di Kota Surabaya empat kasus, disusul oleh Kabupaten Sidoarjo dua kasus, dan Sampang satu kasus," tambahnya.

LBH Surabaya juga mencatat total korban kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak, baik dari pengaduan maupun hasil data dari monitoring media cetak dan daring, sepanjang 2020 ada 284 kasus. Dengan korbannya mencapai 551 orang.

Editor: Dwi Prastika

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved