Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Ngaji Gus Baha

Filosofi Hidup Gus Baha : Hidup Itu Asal Tidak Maksiat, Kurang Alim Bila Kiai Tak Bisa Guyon

Nama Gus Baha kini tengah naik daun. Kiai dengan nama asli Ahmad Bahauddin Nursalim itu dikenal sebagai ulama muda dengan otak cemerlang.

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha saat berbincang dengan teman mondoknya terlihat santai dan sangat sederha 

Bahkan Gus Baha berpesan, kuwe nek kepengin gampang syukur iku moro nang kuburan, terus delok wong sakmono akihe sing ning kuburan sak ndunyo iku cita-citane mung sitok: Kepingin urip Meneh Dikei Kesempatan Ngamal sholeh (kalau kita ingin dimudahkan dalam bersyukur, kita bisa datangi kuburan (makam), terus kita melihat orang yang meninggal begitu banyaknya, sedunia itu, hanya satu cita-citanya jika diberi hidup kembali oleh Alloh SWT. Mereka ingin hidup kembali dan diberi kesmepatan berbuat baik dan beramal yang sebanyak-banyaknya)," kata Gus Baha.

Suatu ketika, Gus Baha hadir di perpustakaan Ma’had Aly Ponpes Salafiyah Safi’iyyah Sukorejo Situbondo, Jawa Timur. Ketika itu, ia hadir saat digelarnya Haul Majemuk sekaligus reuni akbar alumni santri Sukorejo, yang disambut hangat pada santri.

Dalam diskusi siang itu, Rais Syuriah PBNU ini banyak menyoroti pentingnya untuk tidak terjebak secara tekstualistik dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits. Begitu pula dalam mempelajari kitab-kitab klasik.

Menurut Gus Baha, kiai yang setiap ngaji tidak bisa guyon itu kurang ‘alim. Itu sebabnya mengapa dirinya kerap melontarkan guyonan saat memberi pengajian. Lalu dia pun mengutip perkataaan mendiang gurunya KH. Maimoen Zubair.

“Mbah Moen pernah mengatakan bahwa kiai yang ndak bisa guyon saat ngaji itu kurang lengkap ilmunya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Maka dapat dikatakan bahwa selera dan kemampuan humor yang menjadi kekhasan para kiai NU ini menjadi penting agar penyampaian pesan bisa diterima dengan baik dan membekas oleh setiap jamaah.

Melalui humor (guyonan), kiai dapat lebih mudah menyampaikan makna teks-teks yang dapat dikatakan ekstrem dan berat kepada jamaahnya. Hal ini umum diterapkan di setiap pondok pesantren NU di mana pun di seluruh Nusantara.

“Tafsir itu gampang, tapi pastikan dulu kalian faham fikih, sehingga akan mudah menakwil Al-Qur’an. Itu pasti gampang," katanya kepada para santri Ma’had Aly.

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved