Terbongkarnya Kewalian Gus Baha

Kita ketahui, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dikenal sebagai ulama yang sederhana, tapi kealimannya (pengetahuan agama)

Tayang:
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha saat berziarah ke makam Kakeknya KH M Shiddiq di Jember 

"Di Makam Habib Sholeh kami semua ziarah dengan membaca Yasin yang dipimpin Beliau,' ujar Cak Muhaimin.

Menurut penuturan cak Muhaimin, saat perjalanan pulang tersebut Gus Baha' bercerita ke cak Muhaimin kalau ia di temui Habib Sholeh.

"Beliau ngendikan aku mau koq di weruhi rohe Habib Sholeh (beliau berbicara, aku tadi ditemui Habib Sholeh), padahal kita semua dalam mobil tidak ada yang tau makam Habib Sholeh dan beliau terangkan siapa Habib Sholeh itu...Subhanalloh," ujar Cak Muhaimin.

Bahkan  Gus asal Bangkalan Madura, Ismail Amin Kholil mengagumi keistimewaan Gus Baha

Sore itu, ia bersama rombongan akan menghadiri Haul KH Maimoen, saya sowan bersama dua ponakan saya, Muhammad Ismail Al-Ascholy dan Muhammad Thoifur (Putra Kiai Thoifur Ali Wafa Sumenep), ada juga Yek Shodiq El Khered (salah satu santri kesayangan Gus Baha) dan para Gus dan Lora lainnya.

Kala itu ternyata Gus Baha sudah bersiap-siap untuk tindak ke Sarang, tapi beliau masih menyempatkan diri untuk menyambut kami, mempersilahkan kami duduk dan memulai dawuh beliau yang penuh mutiara ilmu dan hikmah itu.:

”Orang itu kalo keturunan ulama atau wali, dia seharusnya tidak bangga, tapi justru sedih dan terbebani.. Sedih jika akhlak, prilaku, dan pencapaiannya tidak sama dengan mbah-mbahnya," kata Gus baha saat berkata kepada para tamunya asal Amadura tersebut.

Gus Baha seakan ingin menjelaskan kepada tamunya di sore itu yang kebanyakan adalah para Gus dan lora, bahwa nasab mulia itu bukan untuk dibuat bangga-bangga-an, bukan hanya dapat ditunggangi untuk mendapat rasa hormat manusia kebanyakan, lebih dari itu semua nasab mulia adalah sebuah beban dan tanggung jawab, sebuah pelecut diri untuk mengikuti tindak-jejak para leluhur yang merupakan wali-wali Allah itu.

Lalu, Gus Baha mengambil sebuah kitab, Kitab Fawaidul Mukhtaroh kumpulan kalam dan fawaid Habib Zain Bin Smith, beliau meminta Yek Shodiq untuk membacakan sebuah kisah dalam kitab itu :

”Suatu ketika ada golongan para Sayyid sedang berkumpul membaca kitab المشرع الراوي, kitab manaqib para Habaib Ba’alawy. Kala itu ada seorang Baduwi yang kebetulan ikut menyimak sejak awal. Ketika pembacaan kitab selesai, Baduwi itu bertanya, mereka yang dibaca manaqibnya ini keluarga siapa?".

” mereka adalah buyut-buyut kami.. ” jawab para sayyid.

” Alhamdulillah mereka bukan buyut-buyut saya.. ” Baduwi itu menimpali.

Para Sayyid itu jelas kaget lalu berkata :

” jika mereka buyutmu, itu adalah sebuah anugrah untukmu.. “

” Tidak.. Justru jika mereka adalah kakek buyut saya, saya akan merasa sangat malu karena amal perbuatan saya sangat jauh dibandingkan amal perbuatan mereka.. ”

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved