Breaking News:

Ngaji Gus Baha

Gus Baha: Tidak Benar, Ada Orang Sedikit-Sedikit Meniru Rasulullah

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Instagram kajian.gusbaha
KH Ahmad Bahauddin nursalim atau Gus Baha saat menyampaikan ceramah agama. 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar Al Qur'an.

Saat mondok di Ponpes Al Anwar yang di asuh KH Maimoen Zubair, Gus Baha telah mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain itu Gus Baha juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Pada pengajian kali ini Gus Baha membahas tentang Orang sedikit-sedi meniru Rasulullah.

Menurut Gus Baha, sebagai muslim yang taat, sudah patut bagi kita untuk mengikuti apa yang diperintah oleh syariat Islam dan meninggalkan apa yang dilarang oleh syariat Islam juga. Namun dalam menjalakan syariat Islam, bukan berarti seorang muslim harus meniru Allah Swt atau meniru semua apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Dalam pengajian rutin kitab Tafsir Jalalain di Yogyakarta pada surat Shod ayat 48-88 yang diasuh oleh K.H Bahaudin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha, menyampaikan bahwa dalam menjalankan syariat agama Islam kita harus mengikuti mahluk (bukan kholiq) yaitu para nabi, yang kemudian diteruskan oleh para ulama.

“Untuk menuju jalannya Allah, mau tidak mau kita harus meniru mahluk. Maka keliru jika ada orang yang bilang dikit-dikit ikut Pengeran (Allah), (karena) Pengeran itu tidak makan dan tidak minum,” ucap Gus Baha.

Hal tersebut dapat kita cermati dalam surat al-Fatihah pada ayat ke tujuh, disebutkan bahwa ketika kita berdoa dengan surat al-Fatihah, kita meminta jalan yang lurus kepada Allah Swt melalui jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Swt,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Halaman
123
Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved