Berita Kota Batu
Pariwisata Kota Batu Hadapi Kondisi Serba Sulit di Tengah Kebijakan Larangan Mudik Lebaran
Pariwisata di Kota Batu harus menghadapi kondisi yang serba sulit di tengah kebijakan larangan mudik Lebaran 2021.
Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Reporter: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
TRIBUNJATIM.COM, KOTA BATU - Ibarat kata pepatah, mati segan hidup tak mau, begitulah kondisi pariwisata di Kota Batu saat ini.
Di tengah gelombang pandemi Covid-19 (virus Corona) yang tiada reda, kebijakan penyekatan pemudik berpotensi menurunkan jumlah wisatawan ke Kota Batu.
Di sisi lain, usaha pariwisata harus tetap hidup karena merupakan salah satu nadi perekonomian kota.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi mengemukakan, kondisi saat ini disebutnya serba sulit. Para pelaku usaha pariwisata mencoba untuk tetap bertahan di tengah tekanan makin menyusutnya jumlah wisatawan.
“Kami hanya defensif, karena menyadari kondisinya seperti ini. Kami tidak mungkin ofensif. Kami sudah terkuras cukup banyak, jadi secara keuangan, kami sudah keteteran banget dan hanya bisa bertahan,” kata Sujud, Kamis (6/6/2021).
Para pelaku usaha pariwisata di Kota Batu tidak bisa berbuat banyak. Rasa-rasanya percuma menjalankan pemasaran sementara mobilitas manusia dibatasi. Wisatawan merupakan faktor penting berputarnya usaha pariwisata.
Meski tetap bertahan sekuat daya, Sujud juga mengatakan kalau para pelaku usaha tetap melakukan perawatan. Perawatan ini pun perlu biaya. Di tempatnya, Selecta, Sujud mencontohkan adanya pergantian bunga.
“Misalnya bunga sudah diganti baru, kemudian kebersihan dan yang lainnya tetap jalan. Kami sadar bahwa ini tidak mudah, saya kira semuanya juga seperti itu,” terangnya.
Baca juga: Larangan Mudik, Lebih dari 400 Kendaraan Diminta Putar Balik di Pos Penyekatan Jalur Kediri-Batu
Sejauh pengalamannya, pendapatan pada akhir-akhir ini sama sekali tidak bisa menutup biaya operasional di Selecta. Dampaknya, kerugian. Apalagi Ramadan, jumlah kunjungan menurun. Namun biasanya jumlah wisatawan meningkat saat libur Lebaran. Hanya saja kali ini Lebarannya berbeda karena sedang pandemi.
“Ditambah kena pandemi dan kebijakan yang ada, jadi tambah turun kunjungannya. Kami menyadari mungkin kalau ada, wisatawan lebih memilih tempat terbuka kan lebih banyak yang suka seperti itu sekarang,” terangnya.
Hal terburuk yang akan diambil adalah menutup tempat wisata. Sujud menjelaskan, langkah tersebut bisa saja diambil jika penurunan wisatawan sangat drastis.
“Mending karyawan bisa Lebaran di rumah masing-masing daripada kerja, pendapatannya sedikit dan tekor. Kalau kunjungan terlalu rendah ya kami pilih tutup saja untuk sementara. Mungkin hanya hotelnya saja yang akan kami operasikan karena sudah ada reservasi,” tegas Sujud.
Kasat Lantas Polres Batu, AKP Indah Citra Fitriani mengimbau agar masyarakat memahami kebijakan penyekatan.
Selama pengetatan, masyarakat dari rayonisasi Malang Raya masih diperbolehkan untuk melakukan mobilitas. Malang Raya masuk rayonisasi II meliputi Kabupaten/Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten/Kota Pasuruan, Kabupaten/Kota Probolinggo.