Berita Gresik
Tanam Mangrove untuk Wujudkan Amazon Van Java di Pesisir Utara Gresik
Pesisir utara di Gresik bergeliat dengan menanam mangrove. Selain sebagai bentuk mencegah terjadinya abrasi untuk kelestarian lingkungan di masa depan
Penulis: Willy Abraham | Editor: Januar
Reporter: Willy Abraham | Editor: Januar AS
TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Pesisir utara di Gresik bergeliat dengan menanam mangrove. Selain sebagai bentuk mencegah terjadinya abrasi untuk kelestarian lingkungan di masa depan.
Seperti di wilayah Desa Ranuboto, Kecamatan Sidayu. Berada di wilayah pesisir utara, dilintasi sungai Bengawan Solo, membuat kawasan tersebut rawan terjadinya abrasi. Guna mencegah abrasi, desa setempat memiliki kawasan mangrove seluas ratusan hektare.
Mangrove juga bisa meningkatkan hasil laut seperti kepiting dan ikan. Sehingga memiliki dua fungsi, memperbaiki ekosistem juga meningkatan pendapatan warga pesisir pantai Randuboto yang mayoritas adalah nelayan.
Kepala Desa Randuboto Andhi Sulandra menyatakan bahwa di desanya mempunyai kawasan mangrove berbagai jenis sekitar 133 Hektare.
"Kalau semuanya sudah siap tahun 2024 kawasan mangrove ini akan menjadi "Amazon Van Java"," ucapnya, Minggu (20/6/2021).
Baca juga: Pemkab Sampang Perluas Sasaran Vaksinasi Covid-19, Bupati Minta Wajibkan Penerima Bantuan Divaksin
Pihaknya mengajak kolaborasi semua pihak untuk menanam bibit mangrove. Mulai dari perusahaan hingga dunia pendidikan yang ikut peduli lingkungan dengan menanam mangrove.
"Kami terus berkolaborasi dengan perusahaan maupun pegiat lingkungan. Kami apresiasi komitmen dunia pendidikan ikut melestarikan mangrove," ucapnya.
Salah satu lembaga pendidikan yang ikut berkontribusi dengan menanam mangrove adalah Madrasah Aliyah Negeri 1 Gresik (MAN 1 Gresik). Para murid bersama guru ikut menanam ratusan bibit mangrove di daerah aliran sungai (DAS) Desa Randuboto Kecamatan Sidayu.
Sejak pagi, siswa dan guru melakukan perjalanan susur sungai dengan perahu milik nelayan. Setelah perjalanan selama setengah jam, mereka kemudian menanam mangrove.
Kepala MAN 1 Gresik Masfufah mengatakan kegiatan yang digagas ini dalam rangka hari penanggulangan degradasi lahan sedunia yang rutin diperingati setiap tanggal 17 Juni. Meski sudah terlewat, tetapi tidak mengurangi dari esensi kepedulian terhadap lingkungan.
"Tujuannya menyelamatkan dan melestarikan lingkungan dari abrasi pantai laut, meski hari penanggulangan degradasi lahan sudah lewat, kami tetap memperingatinya," terangnya.
Dikatakannya, kegiatan hasil kolaborasi dengan siswa serta masyarakat sekitar agar berperan aktif dalam pelestarian lingkungan alam.
Tak hanya sekali ini saja, sebelumnya madrasah belokasi di Kecamatan Bungah ini juga melaksanakan kegiatan serupa di wilayah Kabupaten Tuban.
"Nah, di Randuboto ini kami tanam 200, namun kami akan MoU dengan desa bahwa kami akan ikut berperan menjaga kelestarian alam. Meskipun aksi ini lokal, namun kami manfaatnya secara luas," paparnya.
Salah satu siswi MAN 1 Gresik, Agita Rahma Putri terlihat senang membawa bibit mangrove dan menanamnya di pesisir.
Menurutnya, kegiatan positif ini harus terus dilakukan. Bahkan, dalam waktu dekat juga akan menggelar kegiatan serupa di kawasan mangrove di Ujungpangkah.
"Di era sekarang generasi muda kurang peduli pada lingkungan, dan melalui kegiatan ini kami ingin beri contoh jadi agen perubahan agar lingkungan terjaga," ucap siswi yang juga menjadi Duta Genre Gresik ini.
Kepedulian terhadap lingkungan dengan menanam mangrove di wilayah Gresik utara ini mendapat perhatian dari pemerintah. Sebelumnya, pada puncak peringatan hari lahan basah sedunia, Kawasan Mangrove yang ada di Kecamatan Ujungpangkah Gresik dinobatkan sebagai Kawasan Ekosisten Esensial.
Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE) dari Kementerian LH Asep Sugiharta, Dirjen Konversi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dN Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani.
Kawasan mangrove Ujungpangkah oleh Pemerintah pusat menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) pada puncak hari lahan basah sedunia. Tentunya Kawasan ini bukan hanya Kawasan yang hanya dikenal di tingkat local dan regional tapi akan di kenal di Kawasan Nasional bahkan International.
Konvensi Lahan Basah, yang dikenal sebagai Konvensi Ramsar, adalah perjanjian lingkungan antar pemerintah oleh UNESCO pada 1971, dan mulai berlaku pada tahun 1975. Konvensi ini memberikan aksi nasional dan kerja sama internasional mengenai konservasi lahan basah, dan pemanfaatan berkelanjutan sumber dayanya. Ramsar mengidentifikasi lahan basah yang penting secara internasional, terutama yang menyediakan habitat unggas air. (wil)
Kumpulan berita Gresik terkini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/siswa-man-1-gresik-bersama-kepala-desa-randuboto-menanam-mangrove.jpg)