Berita Malang
Kisah Bambang Irianto, Penggagas Glintung Go Green Malang, Ubah Kampung Kumuh Jadi Cantik dan Modern
Bambang Irianto, Penggagas Kampung Glintung Go Green yang menggerakkan seluruh warganya untuk menghijaukan lingkungan sekitar sejak tahun 2012.
Penulis: Elma Gloria Stevani | Editor: Elma Gloria Stevani
Reporter: Elma Gloria Stevani | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNJATIM.COM - Bambang Irianto (64) tak pernah letih menebarkan semangat untuk melakukan penghijauan.
Melihat kampung yang kumuh, langganan banjir dengan tingkat kriminalitas tinggi, kondisi kesehatan warganya yang memprihatinkan hingga sering dihampiri rentenir, Bambang Irianto justru berinisiatif dan menghijaukan kampung.
Paling tidak, sudah 9 tahun terakhir dia senantiasa menggerakkan warga untuk menanam pohon dan tumbuhan di kampung yang terletak di Jalan Karya Timur, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
“Saya dipilih menjadi RW pada akhir Desember 2012. Kampungnya kumuh, kriminalitasnya tinggi, langganan banjir, tingkat kesehatan warganya memprihatinkan, banyak yang stroke, penyakit generatif karena pola makan. Kemudian rata-rata warga kena rentenir. Saya dipilih jadi RW, dananya tidak ada. Satu-satunya prestasi RW 23 saat itu pernah meraih gelar juara lomba memandikan jenazah. Dari situ lah saya ingin membangun kampung saya karena saya lahir di situ,” kata mantan Ketua RW 23, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang itu, Kamis (12/08/2021).
Meskipun upayanya sempat tidak mendapat dukungan warga sekitar.
Namun, dia tetap konsisten untuk meyakinkan warganya membangun kampung Glinting Go Green.
Pria kelahiran Malang, 5 Mei 1957 ini berinisiatif menggerakkan seluruh warganya untuk menghijaukan lingkungan sekitar sejak tahun 2012.
Alumnus Jurusan Pertanian Universitas Brawijaya itu juga menggunakan jabatannya sebagai Ketua RW untuk mengubah pola pikir masyarakat.
“Tapi memang tidak semua warga mau membangun kampungnya. Paling banyak rata-rata 10 persen. Dari 10 persen itu lah saya bergerak. Setelah kita bergerak, kemudian kita membuat regulasi-regulasi aturan. Antara lain dalam peraturan kampung, bagi warga yang meminta layanan administrasi RW, kalau rumahnya tidak ada tanaman, saya tolak, untuk urusan apapun, mau kawin, melahirkan, mau pindah, mau mengurus sekolah, semua harus menanam di rumah masing-masing,” terang Alumnus SMA Cor Jeru Malang itu.
Bambang Irianto mencoba menyadarkan warga agar mengubah mind set dan wajah kampung sekaligus menyusun cita-cita bersama.
Sosialisasi dan imbauan juga terus dilakukan agar warga sekitar mau berinovasi.
“Saya susun program membangun kampong. Yang pertama yang saya lakukan adalah mengubah mind set warga, bahwa yang bisa mengubah wajah kampung adalah warga kampung itu sendiri. Yang kedua, saya berikan contoh yang gampang-gampang dan warga bisa melaksanakan. Kemudian, saya ajak semua warga membuat cita-cita kampung.
Jadi, kita harus punya mimpi. Saya mulai dari apa yang ada. Tidak ada dana. Semua dari barang bekas. Kita minta dari berbagai relasi. Kita minta bibit, minta pupuk, dari apa yang ada. Kalau tahapan itu kita lakukan, maka barulah ruh gotong royong mulai terbangun.
Setelah terbangun, kita bergerak. Akhirnya warga mulai bergerak swadaya. Setelah warga merasakan hasilnya, ternyata kampungnya menjadi sejuk, indah gotong royong terbangun, barulah mereka sadar,” ucap bapak tiga anak itu.
Kampung tematik Glintung Go Green (3G) yang dulunya langganan banjir telah disulap menjadi kampung tematik yang indah, cantik, bahkan menjadi destinasi wisata rujukan.
Bambang Irianto menerima tamu-tamu dari dalam dan luar negeri untuk datang ke Glintung Go Green mempelajari bagaimana menjadikan kampung menjadi kampung tematik.
“Tentu ini suatu kebahagiaan bagi saya, apa yang saya kerjakan bisa menjadi ilmu bermanfaat bagi kampung-kampung di Tanah Air.
Siapapun yang ingin belajar, mulai dari masyarakat biasa, RT/RW dengan masyarakat tidak mampu di kampong saya itu gratis. Namun, kalau tamunya menggunakan anggaran negara, baik itu APBD, APBN atau dari BUMN, tentu berbayar sesuai dengan ketentuan dari Glintung Go Green. Kalau masyarakat biasa dan tidak mampu, saya gratiskan. Jadi, ada konsep subsidi silang. Demikian juga saya sering diundang oleh beberapa pemerintah daerah dari berbagai provinsi. Tentu mereka menggunakan APBD. Itu saya diberikan professional fee sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan.
Saat diundang ke luar kota, biasanya saya sempatkan mampir ke kampung-kampung. Saya bina di celah-celah waktu longgar. Itu gratis sehingga ada multifire effect-nya, resonansinya biar cepat,” tutur lelaki yang menikahi wanita bernama Erni Handayani itu.
Bahkan, tebersit di benak Bambang Irianto untuk membuat biopori.
Bambang Irianto memanfaatkan pendampingan dari Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kota Malang, Balai Pengkajian Tekonologi Pertanian Jawa Timur.
Dalam proses pendampingan itu terbuat 7 sumur resapan, 700 buah biopori standar, 200 biopori jumbo, dan 200 buah superjumbo setelah dilakukan penambahan secara swadaya menggunakan kaleng bekas cat ukuran 5 kilogram (jumbo) dan 25 kilogram (superjumbo).
Begitu pula dengan aneka tanaman hias yang dikembangkan oleh masyarakat. Keduanya berpadu secara simultan.
“Pertama asal tanam. Awalnya tanaman nggak karu-karuan di kampong itu. Yang penting tumbuhan dan tanaman menghasilkan oksigen.
Tahap berikutnya, belajar budidaya tanaman. Saya berkonsultasi ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, saya konsultasi ke Fakultas Pertanian Brawijaya, ke Balai Pengkajian Tekonologi Pertanian Jawa Timur. Di situlah, warga tahu berbagai macam teknik budidaya, ada berbagai agro inovasi, ada hidroponik, ada vertical farming, ada sky garden, flying garden, menanam dengan sistem kapiler, menanam dengan sistem navigasi dan lain-lain lalu warga bisa mengikuti dengan baik.
Dalam tahap ini, virus penghijauan terus bergerak maju. Satu tahap persoalan kampong terselesaikan. Kemudian, saya mengatasi soal banjir. Banjir tidak mungkin dihilangkan, tetapi kita kurangi dampak banjir. Saya konsultasi dengan Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri. Saya diajari bagaimana membuat biopori, bagaimana membuat sumur resapan. Kemudian, saya juga dibantu membuat sumur dan biopori, kemudian banyak kalangan yang tertarik, maka di kampong saya ada 700 biopori standart dari paralon, ada 200 biopori jumbo dari kaleng cat bekas, ada biopori super jumbo dari kaleng cat bekas 2,5 kg, ada 7 sumur resapan, parit resapan, bak control resapan,” ucapnya.
Pada tahun ketiga, permukaan air di sumur gali milik warga ternyata naik—yang sebagai dampak dari kegiatan penghijauan. Pun dengan suhu udara di tengah kampung menjadi lebih sejuk pada siang hari.
“Program ini saya namakan Gerakan Menabung Air (Gemar). Tiga tahun berjalan sumur-sumur warga naik 5 meter, siang hari air bawah tanah menguap, kelembaban udara di lorong kampong semakin baik untuk kesehatan, suhu udara di kampong turun, global warming turun.
Nah, gerakan menabung air ini, water banking. Pada Oktober 2016, terpilih menjadi salah satu inovasi tingkat dunia dalam ajang Guangzhou International World Open Inovation 2017,” papar Pria yang pernah merintis dan menjabat sebagai Jawa Timur Park di Kota Batu itu.
Bambang Irianto kemudian bergerak lebih jauh dengan menyediakan rumahnya sebagai Rumah Prestasi.
Rumah Prestasi digunakan untuk menyimpan piagam dan penghargaan yang saat ini jumlahnya mencapai puluhan buah. Selain sebagai balai RW, Rumah Prestasi digunakan untuk menyimpan piagam dan penghargaan yang saat ini jumlahnya mencapai puluhan buah.
Di Rumah Prestasi itu pula, tamu dari berbagai daerah--khususnya dari unsur pemerintahan--belajar tentang pengelolaan lingkungan, termasuk bagaimana menjadikan lorong di perkampungan bisa hidup seperti di Glintung. Glintung telah menjelma sebagai kampung wisata edukasi. Dan sejauh ini 90 persen pengunjung datang untuk belajar bagaimana membangun kampung.
Bambang Irianto berharap, dengan membangun Rumah Prestasi, masyarakat akan termotivasi untuk membangun kampung berbasis potensi yang dimiliki dan disinergikan dengan potensi-potensi yang lain. Rumah Prestasi Glintung Go Green merupakan pusat pelatihan dan telah diresmikan oleh Kepala BPIP Republik Indonesia dan Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional.
“Kami akan membuat program-program pembelajaran tentang berbagai aspek yang menyangkut lingkungan. Mulai dari operfarming, konservasi air, tentang persampahan dan lain-lain. Sehingga menjadi training center.
Laboratoriumnya sekarang ada di kampong Wonosari Go Green bersebelahan dengan tidak jauh dari Glintung Go Green kebetulan tempat tinggal saya juga pindah di kawasan Wonosari Go Green sehingga usianya sudah 2 tahun, tetapi sekarang sudah go nasional. Bahkan, pernah dikunjungi oleh beberapa kepala daerah di Tanah Air, mulai dari Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Raja Malaysia dan lain-lain,”
Bambang Irianto menyatakan, bahwa strategi membangun kampung tematik bermacam-macam.
Pertama adalah mengidentifikasi potensi dan masalah kampung itu sendiri.
Menurutnya hal tersebut penting dilakukan agar dapat melihat bagaiamana kampung akan dibentuk.
Ia juga menyatakan bahwa strategi pengembangan kampung berikutnya adalah edukasi, komersialiasi dan target, dan publikasi juga harus dilakukan. Tak hanya itu, kampung tematik juga harus bisa direplikasi.
“Materi utama yang saya berikan adalah strategi dan managemen membangun kampung, strategi bagaimana, memanagement-nya bagaimana, membangun kampung itu bukan soal lingkungan hidup saja, bukan soal tanam menanam saja. Karena membangun kampong pada dasarnya adalah membangun manusia seutuhnya. Ya, pendidikan, kesehatan kemudian UMKM-nya, seni budaya. Sehingga, holistic. Lingkungan hidup adalah salah satu pilar saja dan target akhir membangun kampung adalah kesejahteraan.
Tetapi kita harus tahu membangun potensinya.
Kadang kita gagal membangun kampong karena warga tidak mengerti apa yang menjadi potensi kampungnya. Kalau potensinya seni budaya yaitu harus jadi pilar utama. Tapi kan tidak mungkin seni budayanya bagus tetapi kampungnya banyak sampah, tingkat kriminalitasnya tinggi, panas. Seni budaya nggak akan berjalan dengan bagus. Kampungnya bagus, indah, seni budaya maju, tetapi kriminalitasnya tinggi, kesehatan warganya memprihatinkan. Oleh karena itulah strategi yang kita ajarkan strategi dan manajemen membangun kampong, berbasis potensi yang dimiliki, disinergikan dengan potensi-potensi yang lain. Kemudian, modal-modal membangun kampong semacam ini saya namakan kampong tematik Indonesia,” tutur Bambang Irianto.
Bambang Irianto juga menjelaskan, strategi mempertahankan kampung tematik berkelanjutan atau sustainable development goals dibagi menjadi 3 bagian.
Pertama adalah Kampung Glintung Go Green harus produktif, menciptakan nilai ekonomi dan menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah pandemic Covid-19.
Kedua, yakni membuat branding kampung dengan memilih apa yang akan ditonjolkan dari suatu kampung.
Tak hanya itu suatu kampung juga dapat dijadikan sebagai tempat hiburan yang menarik dan menjadi sumber makanan yang meningkatkan daya tahan tubuh warga sekitar.

Kemudian, stategi mempertahankan kampung Glintung Go Green yang terakhir, yakni mendirikan koperasi berbadan usaha, bahkan omzet koperasi sekarang sudah Rp 800 juta.
Bahkan, Glintung Go Green memberikan bantuan kepada para pelaku usaha kecil menengah mikro atau UMKM senilai Rp 453 juta.
“Pertama, satu program bisa berkelanjutan atau sustainable development goals, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, pertama program itu memang secara produktif, ekonomis, mempunya nilai keekonomian, karena di kampong banyak tanaman, program operfarming, dengan hidroponik dan sebagainya, maka di era pandemi Covid-19, ketahanan pangan relative terjaga.
Karena kampungnya bagus, indah, warga nggak perlu keluar ke mana-mana kalau nggak penting nongkorng di berbagai sudut kampong saja indah sambil selfie-selfie, stay at home lifestyle, tentu ini berkaitan dengan pandemic, menjaga jarak, mobilitas, kemudian dengan banyak mengonsumsi buah dan sayur kesehatan meningkat, daya tahan tubuh meningkat.
Kalau ada warga yang isoman, kita bisa berbagi sayur, kita jaga buah-buah dan sebagainya, kemudian itulah yang saya sebut kampong tangguh mandiri. Kampung tangguh mandiri itu kemudian sekarang direplikasi di berbagai daerah.
Yang terakhir, harus ada kelembagaan yang berbadan hokum, karena RT dan RW masa jabatan terbatas. Nah, lembaga ini yang saya bangun dengan koperasi Glintung Go Green. Alhamudillah, omzetnya koperasi sudah hamper 800 juta. Tahun lalu koperasi Glintung Go Green memberikan bantuan usaha kecil mikro di kampong senilai Rp 453 juta. Sehingga UKM di Kampung bisa bergerak,” ungkap Bambang Irianto.
Sebelum pandemi Covid-19, omzet yang diraih Glintung Go Green selama menjadi kampung wisata edukasi mencapai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per bulan.
Namun, setelah pandemic, Glintung Go Green lebih memilih memanen tanaman untuk kebutuhan warga menjaga kesehatan.
Kini, kesadaran warga semakin terbangun. Mereka membuat vertical garden, Bank Sampah, koperasi berbadan hukum, lubang biopori, hingga membentuk kader-kader lingkungan.
Perubahan pun dirasakan semua warga yang tinggal di sana.
“Kami sudah punya Bank Sampah di Glintung Go Green bernama Bank Sampah dewandaru.
Pada saat saya menjadi RW, bank sampah itu menjadi Bank Sampah potensial di Kota Malang. Kalau tidak salah kami berada di urutan ke-2. Pemilahan sampah dilakukan di tingkat rumah tangga, sampah-sampah dipilah, kemudian disetorkan ke bank sampah. Warga juga mendapatkan buku tabungan. Pada saat Idul Fitri, tabungannya dibagikan untuk kebutuhan Idul Fitri.
Sampah-sampah kering dipilah dan disetorkan ke bank sampah. Sampah-sampah kering tertentu didaur ulang hingga dibuat berbagai macam handycraft, dibuat handmade dan lain-lain,” jelasnya.
Banjir tidak lagi datang. Biopori terbukti mampu mengamankan warga dari banjir yang dulu merupakan langganan. Bonusnya, usaha warga pun berkembang terkait wisata, urban farming dan pembuatan produk.
Kejayaan koperasi membuat warga lepas dari jerat rentenir.
“Pun kami punya biopori yang banyak. Biopori-biopori super jumbo inilah yang kita isi sampah basah, nanti akan menjadi kompos. Daya serap biopori 40 kali lipat dan ada komposter. Pembuat sampah untuk menjadi kompos dengan proses composting. Tentu di tempat saya bukan terlalu ideal di dalam menangani sampah. Ada kampung-kampung specialis, ikonnya, temanya di dunia sampah. Sampah bisa dibuat margot untuk makanan perikanan dan lain-lain. Kemudian, energy biogas, energi yang dihasilkan dari limbah organik.
Memang kampung tersebut konsentrasinya di persampahan. Kalau di tempat saya ( Glintung Go Green) secara holistic, semua ada tetapi tidak terlalu menonjol. Yang paling menonjol di Kampung Glintung Go Green adalah konservasi air. Glintung Go Green nama kampungnya, tetapi tematiknya, ikonnya sebenarnya konservasi air. Ternyata menurut berbagai kalangan termasuk dari perguruan tinggi, kampong konservasi air Glintung Go Green itu pertama di dunia. Oleh karena itu, Menteri Dalam Negeri meresmikan Glintung Go Green sebagai kampung konservasi air. Maka yang berkunjung, yang belajar dari dalam dan luar negeri,” sambung Bambang Irianto.
Setelah menumbuhkan Kampung Glintung Go Green, Bambang Irianto mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak sejak Desember 2012 di antaranya Piagam Penghargaan Kelurahan Bersih dan Lestari tingkat Pratama dari Provinsi Jawa Timur tahun 2016, Piagam Penghargaan sebagai Pegiat lingkungan Kota Malang tahun 2014 dari Walikota Malang, Juara 3 Lomba Kampung Bersinar tahun 2015, 15 besar dari 301 kota di dunia dalam Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016, Terpilih menjadi ikon prestasi Indonesia tahun 2017 dari Presiden Republik Indonesia melalui Unit Kerja Presiden di bidang Pembinaan Ideologi Pancasila.
Selain itu, Penghargaan sebagai Pelestari Lingkungan Tingkat I Jawa Timur Kategori Pembina Lingkungan tahun 2017 dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Juara 1 Lomba antar juara kampung bersinar tahun 2018 dari Wali Kota Malang dan Penerima Penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan tahun 2018 dari Presiden Republik Indonesia, serta .Penghargaan sebagai Kampung Proklim Kategori Utama Tingkat Nasional Tahun 2018 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga Penghargaan di Taman Wisata Batu Putih, Tangkoko, Bitung, Sulawesi Tengah.
Generasi Penerus Glintung Go Green
Bambang Irianto mengatakan, Glintung Go Green membutuhkan atensi semua elemen masyarakat termasuk generasi penerus dalam membangun secara berkelanjutan.
Apalagi, kualitas lingkungan yang akan menentukan masa depan, karena akan berdampak pada kualitas hidup manusia, seperti ekonomi serta ketahanan pangan.
Sementara, pengetahuan yang dimiliki, teknologi, perilaku serta komitmen juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan dan kualitas interaksi dengan lingkungan, di mana generasi muda saat ini sebagai penentu.
“Di setiap kampung-kampung yang saya bina, ada sub materi yang saya berikan adalah aspek regenerasi. Yang pertama dari sumber daya manusia dari warga yang ada kita lakukan pelatihan-pelatihan. Ada ibu rumah tangga yang kita ajari sebagai guide yang bisa berbahasa inggris. Anak-anak muda kita dorong mempelajari, mendalami teknologi informasi dan masing-masing kita bagi peran. Pembagian peran itu sangat penting. Tidak boleh segala urusan diurusi satu atau dua orang saja. Dengan demikian, sebenarnya terjadi proses kaderisasi di kampung itu. Itu pun kadang-kadang masih sulit. Pada tahun ketiga, warga kampung Glintung Go Green masih tergantung saya.
Saya jadi guide di ujung kampong, ngajak warga keliling menjelaskan, presentasi juga saya.
Sehingga kalau itu berjalan begitu terus, pasti tidak akan berkelanjutan.
Sekali waktu ada tamu saya tinggal. Nah, dengan keadaan terpaksa itu, warga akhirnya memberanikan diri. Dari situ saya dorong terus, saya dorong, walaupun awalnya ya masih belum sempurna. Namun, rata-rata akhirnya mereka sudah tahu tugasnya. Tentang siapa yang menjadi guide sampai siapa yang presentasi dan paparan. Walaupun, saya di luar kota, Gintung Go Green tetap bisa berjalan. Itu cara saya membangun keberlanjutan regenerasi,” ungkapnya.
Menurut Bambang Irianto, generasi penerus sebagai pengelola Glintung Go Green dibekali pengetahuan, pendidikan, soft skill dan leadership (kepemimpinan).
Pembekalan yang diberikan Bambang Irianto itu lah yang akan melahirkan “Bambang-Bambang Baru” di seluruh Indonesia.
Ia juga menerangkan, bahwa branding Glintung Go Green dipublikasi oleh generasi penerus melalui media sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram.
“Untuk generasi muda, kalau pada awal membangun kampong itu banyak energy yang bersifat fisik, nyangkul, mengangkut barang ini, barang itu yang pokonya dibutuhkan tenaga dan otot. Nah, generasi milenial di bidang itu agak sulit.
Maka, saya tidak terlalu berharap pada awalnya. Memang dibutuhkan semua warga. Kalau hanya bermodal tenaga, hampir semua warga bisa lah tetapi begitu aspek-aspek infrastruktur kampong sudah bagus, tentu ada hal yang sifatnya kualitatif.
Misalnya, membuat konsep profil kampung, mempublikasikan before after kampung, kemudian mendokumentasikan.
Pemuda mereplikasikan. Itu semua diperlukan sumber daya manusia, otak, kecerdasan. Tentu di sinilah anak-anak muda bisa masuk dan itu di berbagai kampong, termasuk di kampung saya. Anak-anak muda biasanya aktif di tahap ini pada tahap publikasi dan replikasi. Itu mulai mengambil peran.
Cuman ini juga harus berhati-hati. Warga yang awal membangun kampong berjibaku dengan tenaganya pada saat kampung masuk tahap publikasi, tahap repilkasi diperlukan sumber daya manusia yang cukup, mereka biasanya tidak terakomodasi, kemudian karena dia tidak bisa teknologi informasi dan lain-lain, biasanya muncul merasa ditinggal. Nah, ini potensi-potensi konflik di kampung,” jelas Bambang Irianto.
“Pertama konsep dan ilmu membangun kampong menjadi modal utama mereka, bagaimana supaya bisa berkelanjutan, pilar-pilar membangun kampung bisa berkelanjutan dan rata-rata, anak-anak muda yang terlibat, secara tidak sengaja, mereka mendapatkan soft skill yang sangat berguna bagi mereka, pada saat mereka masuk dunia kerja, sekarang dunia kerja tidak cukup hanya ijazah formal, tetapi soft skill.
Alhamdulillah anak-anak muda yang pernah terlibat di Glintung Go Green punya soft skill yang memadai dan di dunia kerja cukup membantu. Ini yang saya berikan kepada anak-anak muda dengan harapan bisa melanjutkan.
Sehingga, sekarang di berbagai daerah sering banyak yang mengistilahkan saya bentuk 'Bambang-Bambang baru' di Lumajang, di Tangerang. Mereka jadi narasumber di sekitarnya di sekitarnya, di kecamatannya, di kelurahannya, di kotanya.
Sehingga saya hanya memberikan guidance secara tutorial, ada grup-grup Whatsapp, Facebook. Saya memanage secara nasional. Insyaallah pada oktober 2021, kita akan membuat Jambore Nasional Kampung Tematik Indonesia,” lanjutnya.
Glintung Go Green membangun kesadaran sekolah dan perguruan tinggi.
Kampung Glintung Go Green menggali partisipasi seluruh warga sekolah dan mahasiswa untuk mengintegrasikan semua kegiatan-kegiatan bermuatan pelestarian lingkungan.
Tujuan dari program Glintung Go Green adalah membangun budaya sekolah dan kampus dengan lingkungan sehat dan terhindar dari dampak lingkungan tercemar.
“Beberapa kali kampung Glintung Go Green menjadi tempat bermain anak PAUD dan TK setiap hari sabtu. Sehingga kami punya TK, SD dan SMP binaan. Sekarang kami membina hampir 100 SD Adiwiyata se-Kota Malang, SMA Negeri 1 juga binaan, Perguruan Tinggi sudah MoU dengan Glintung Go Green.
Universitas Negeri Malang, Institut Tekonologi Nasional Malang, Universitas Widyagama Malang. Wonosari Go Green menjadi laboratorium lapangan. Pihak kampus juga memberikan informasi-informasi kemajuan dan teknologi.
Alhamdulillah, Glintung Go Green selalu mendapatkan asupan ilmu yang dinamis. Ilmu yang kami terima selalu ada updating baru dari perguruan tinggi.
Oleh karena itu, warga kampong tidak boleh hanya tergantung Pak Lurah, Pak Camat, Pak Bupati dan Pak Wali Kota. Kami harus membuka sayap berkolaborasi dengan perguruan tinggi, dengan media massa, TNI Polri, BUMN,” pungkasnya.