Breaking News:

Berita Jatim

Gaji 4,2 Juta hingga Kuota Internet Bikin Debt Collector Pinjol Ilegal di Jatim Sadis Tagih Nasabah

Terungkap motif tiga orang oknum debt collector (DC) aplikator pinjaman online (pinjol) ilegal yang diduga melakukan penagihan intimidatif kepada nasa

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM/LUHUR PAMBUDI
Rendy Hardiansyah, (28) warga Cibungbulang, Bogor, Jabar; Anggi Sulistya Agustina (31) warga Tajurhalang, Bogor, Jabar; dan, Alditya Puji Pratama (27) warga Jombang, Jatim, para DC Pinjol Ilegal yang tagih nasabah pakai ancaman 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Terungkap motif tiga orang oknum debt collector (DC) aplikator pinjaman online (pinjol) ilegal yang diduga melakukan penagihan intimidatif kepada nasabahnya.

Tiga orang DC tersebut, ternyata memperoleh gaji dari perusahaan penyedia jasa penagih pinjol tersebut sekitar Rp4,2 Juta, sebagai gaji pokok dari kinerja mereka selama kurun waktu satu bulan bekerja.

Selain itu, mereka juga memiliki potensi memperoleh sejumlah uang tambahan sebagai insentif dari kinerja selama menagih.

Yakni, mereka bisa memperoleh 65-75% dari nilai total uang penagihan debitur atau nasabah. Atau senilai Rp160-250 Ribu, untuk satu orang debitur.

Tak berhenti di situ, ungkap Nico, penyebab ketiga pelaku tergiur melakukan praktik bisnis secara ilegal tersebut, juga disebabkan adanya fasilitas kuota internet gratis yang akan terus digelontor oleh pihak perusahaan.

Baca juga: Tagih Utang Disertai Ancaman Sebar Data via WA, 3 Debt Collector Pinjol Ilegal Dicokok Polda Jatim

Hal itu dilakukan, selama mereka mau bekerja rajin melakukan penagihan dengan serangkaian tata cara yang telah ditentukan.

"Itu semua yang buat semua tertarik bekerja, sebagai penagih," ungkap Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta di Gedung Humas Mapolda Jatim, Senin (25/10/2021).

Selama menjalankan tugasnya sebagai DC pinjol ilegal. Nico mengungkapkan, para pelaku tersebut juga melakukan mekanisme cara penagihan terhadap para debitur atau nasabah, secara intimidatif.

Yakni mulai dari mengolok pribadi nasabah, dengan penyebutan tidak pantas, dan melanggar etika. Hingga mengancam menyebar foto diri, dan data pribadi milik nasabah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved