Berita Malang

Bentangkan Kain Putih di Sidang Pledoi SPI Batu, Kuasa Hukum JE Ngotot soal Rekayasa Kasus

Kuasa hukum terdakwa dugaan kekerasan seksual sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu, Julianto Eka Putra (inisial JE) bentangkan kain putih

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Kukuh Kurniawan
Ketua tim kuasa hukum terdakwa JE, Hotma Sitompul bersama timnya saat menunjukkan berkas nota pembelaan dan spanduk berisikan tanda tangan murid dan alumni sekolah SPI Batu. 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Sidang beragendakan pembacaan nota pembelaan (pledoi) terdakwa dugaan kekerasan seksual sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu, Julianto Eka Putra (inisial JE) di Pengadilan Negeri Kelas I A Malang (PN Malang), Rabu (3/8/2022) selesai digelar.

Sidang tersebut digelar di Ruang Sidang Cakra PN Malang, dimulai pukul 09.20 WIB serta berakhir pukul 15.14 WIB.

Dalam sidang itu, terdakwa JE mengikuti jalannya persidangan secara daring dari Lapas Kelas I Malang.

Selesai persidangan, tim kuasa hukum terdakwa JE menunjukkan kepada awak media bentangan kain warna putih berisi tanda tangan murid dan alumni sekolah SPI Batu. Selain itu, juga menunjukkan berkas pledoi yang dibacakan di dalam persidangan tersebut.

Ketua tim kuasa hukum terdakwa JE, Hotma Sitompul mengatakan, bentangan kain tersebut ditunjukkan di dalam persidangan. Sebagai salah satu bentuk dari pledoi yang dilakukan.

"Ini (bentangan kain warna putih) berisi 100 lebih tanda tangan siswa SPI Batu dan alumni. Dan mereka menyampaikan bahwa semua omongan pelapor (saksi korban SDS) adalah tidak benar. Tidak pernah ada isu itu. Dan bersyukurlah di dalam persidangan, tidak terbukti sama sekali dakwaan maupun tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU)," ujarnya kepada TribunJatim.com.

Baca juga: JE Bos SPI Batu Jalani Sidang Pledoi Kasus Kekerasan Seksual, Kuasa Hukum Bawa 1000 Berkas Pembelaan

Dirinya menjelaskan di dalam pledoi tersebut, pihaknya ingin menunjukkan sekaligus mempertanyakan mengapa saksi korban baru melaporkan kejadian dugaan pelecehan seksual tersebut.

"Kita mau menunjukkan, 12 tahun ini kemana saja. Katanya tertekan, tetapi apa masuk akal 12 tahun tertekan. Buktinya, jalan-jalan berdua dengan pacarnya beramai ramai ke luar kota. Dan terbukti di persidangan, ia (saksi korban SDS) menginap di hotel sama pacarnya (pacar saksi korban yang berinisial R)," jelasnya

Dirinya juga mengaku, bahwa kasus dugaan pelecehan seksual tersebut adalah perbuatan rekayasa.

"Hal ini telah direkayasa, dan kita punya buktinya. Nanti saat putusan, akan kita tunjukkan," tambahnya.

Sementara itu, salah satu anggota tim kuasa hukum dari terdakwa JE, Ditho Sitompul mengungkapkan dalam pledoi tersebut, juga dilampirkan beberapa bukti. Bukti-bukti yang ada di pledoi itu, menguatkan bahwa terdakwa tidak melakukan perbuatan seperti apa yang dituntutkan.

"Ini ada foto-fotonya (saksi korban dan pacarnya) dan ini menunjukkan ada konspirasi. Dan kami mendapatkan bukti mengejutkan, bahwa ia (saksi korban) pergi ke hotel bersama pacarnya sebelum visum. Dan kami memiliki bukti cek in hotel yang ditandatangani oleh mereka berdua," tandasnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved