Berita Kota Batu

Sidang Duplik SPI Kota Batu Selesai Digelar, Begini Tanggapan JPU Kejari Batu dan Kuasa Hukum

Sidang duplik terkait kasus dugaan kekerasan seksual di SPI Kota Batu selesai digelar, begini tanggapan JPU Kejari Batu dan kuasa hukum.

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Dwi Prastika
TribunJatim.com/Kukuh Kurniawan
Suasana Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Malang usai jalannya persidangan dengan agenda duplik perkara dugaan kekerasan seksual di Sekolah Selamat Pagi Indonesia atau SPI Kota Batu, Rabu (24/8/2022). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Sidang duplik perkara dugaan kekerasan seksual di Sekolah Selamat Pagi Indonesia atau SPI Kota Batu digelar di Pengadilan Negeri Kelas I A Malang (Pengadilan Negeri Malang), Rabu (24/8/2022) siang.

Sidang digelar di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Malang, dimulai pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 13.00 WIB.

Dalam sidang ini, terdakwa Julianto Eka Putra atau JE mengikuti jalannya persidangan secara virtual dari Lapas Kelas I Malang.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kota Batu, Yogi Sudarsono mengatakan, dalam sidang duplik tersebut, kuasa hukum terdakwa JE tetap menyatakan bahwa kasus dugaan kekerasan seksual itu merupakan rekayasa.

"Materi duplik yang disampaikan kuasa hukum terdakwa, kurang lebih sama seperti yang disampaikan dalam pledoi sebelumnya. Intinya menyebutkan, bahwa perkara ini merupakan rekayasa," ujarnya kepada TribunJatim.com.

Dirinya menjelaskan, sidang berikutnya akan digelar kembali pada Rabu (7/9/2022) mendatang. Dengan agenda pembacaan putusan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Malang.

Menurutnya, sidang pembacaan putusan ditunda selama dua minggu karena majelis hakim membutuhkan waktu.

"Ditunda selama dua minggu untuk pembacaan putusan majelis hakim. (Penundaan itu) Karena mungkin akan dibuat pertimbangan," tambahnya.

Sementara itu, salah satu kuasa hukum terdakwa JE, Dito Sitompul mengungkapkan, JPU tidak memiliki cukup bukti untuk membuktikan seluruh dakwaan.

"Kami melihat sejak awal bahwa perkara ini tidak cukup bukti. JPU tidak dapat membuktikan seluruh dakwaan yang didakwakan kepada klien kami," jelasnya.

Dito juga menilai, penundaan pembacaan putusan yang dilakukan majelis hakim selama dua minggu tersebut, dikarenakan membutuhkan kecermatan dalam memutus perkara.

"Putusan dua minggu lagi, karena hakim memerlukan kecermatan dalam memutus perkara ini," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kasus tersebut, yang menjadi korban dugaan kekerasan seksual berjumlah satu orang dengan inisial SDS.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Batu menuntut terdakwa JE dengan hukuman pidana penjara maksimal.

Terdakwa dituntut dengan Pasal 81 ayat (2) UU RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-undang juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dengan ancaman hukuman pidana penjara selama 15 tahun dan denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan. Selain itu, terdakwa juga dituntut membayar restitusi kepada korbannya sebesar Rp 44.744.623.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Kumpulan berita seputar Malang

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved