Tragedi Arema Vs Persebaya

Sikap Tak Biasa Faiq Korban Tragedi Kanjuruhan Sebelum Tiada, Seminggu Minta Peluk Ibu, Kakak: Manja

Faiqotul Hikmah merupakan satu di antara warga Jember yang ikut menjadi korban tragedi Kanjuruhan pasca laga Arema vs Persebaya Surabaya.

Penulis: Ani Susanti | Editor: Arie Noer Rachmawati
Instagram
Cuplikan rekaman suasana Stadion Kanjuruhan Malang setelah tragedi 174 orang tewas, Sabtu (1/9/2022). Inilah firasat satu korban sebelum meninggal dunia. 

TRIBUNJATIM.COM - Seorang ibu korban Tragedi Kanjuruhan Malang merasakan sikap aneh putrinya dalam seminggu terakhir.

Cerita sikap janggal korban bernama Faiqotul Hikmah (22) itu diungkap oleh sang kakak.

Faiqotul Hikmah merupakan satu di antara warga Jember yang ikut menjadi korban Tragedi Kanjuruhan Malang pasca laga Arema FC vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022).

Sofia, ibu Faiqotul Hikmah menangis tergugu di teras rumahnya di Jalan MH Thamrin Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, setelah jenazah putri bungsunya itu dimakamkan.

Baca juga: Firasat Janggal Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan, Larang Berangkat Magrib serta Daun Hijau di Baju

Tetapi tidak pernah terbersit dalam pikiran Sofia, bahwa Faiq bakal kembali ke pelukannya dalam kondisi meninggal dunia setelah menonton pertandingan sepak bola.

Nurlaila, kakak pertama Faiq menuturkan, Faiq merupakan bungsu di keluarga tersebut.

Perempuan muda itu sehari-hari bekerja di sebuah pabrik pengolahan edamame di Jember

Sebagai bungsu yang masih belum menikah di keluarga tersebut, sehari-hari Faiq memang manja kepada sang ibu.

Namun keluarganya, terutama sang ibu tidak menduga, jika manjanya Faiq selama sepekan terakhir ternyata bak firasat dan berujung duka.

"Seminggu terakhir ini, ia selalu tidur bareng ibu. Minta tidur bareng (dikeloni) ibu. Meski manja, ia biasanya tidur sendiri. Namun sepekan terakhir ia selalu tidur bareng ibu di depan kamarnya," tutur Laila.

Baca juga: Ikut Berduka Atas Tragedi Kanjuruhan, Wayne Rooney dan Sergio Ramos: Doa Kami Bersama Para Korban

Beberapa hari terakhir, Faiq juga lebih banyak bergurau dengan orang tua dan saudaranya.

"Anaknya ceria, beberapa hari terakhir ini banyak bergurau," lanjutnya.

Faiq tinggal bersama sang ibu dan keluarga Laila di rumah mereka.

Sebab hanya Faiq yang belum menikah dari lima bersaudara.

Laila mengakui, adiknya merupakan suporter Arema FC dan kerap menonton laga Arema FC di Kanjuruhan.

Seperti yang terjadi Sabtu (1/10/2022), keluarga juga mengizinkan Faiq menonton bersama sahabatnya, Abdul Mukid.

Keduanya berteman baik, dan selalu berangkat dan pulang dalam kondisi selamat dan baik-baik saja.

Baca juga: Anak Saya Bu, Jerit Tangis Ayah Bocah SMP Korban Tragedi Kanjuruhan, 1 Pesan Jadi Salam Perpisahan

Karenanya, ketika Mukid menjemput Faiq, keluarga tidak keberatan.

Sampai akhirnya, malam seusai pertandingan, kabar duka itu datang.

Keluarga tersebut hanya bisa mengikhlaskan Faiq, meskipun harus dengan isak tangis saat menyambut kepulangan jenazah Faiq. 

Meninggalnya Faiq tidak hanya menyisakan sedih bagi keluarganya, namun juga bagi Mukid.

Seusai pemakaman, Mukid terlihat terdiam dan bersedih di rumah duka.

Suasana Stadion Kanjuruhan saat kerusuhan Arema Vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022). - Muhammad Yulianton (40) dan Devi Ratnasari (30), pasangan suami istri (pasutri) yang menjadi korban tewas tragedi Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, dimakamkan dalam satu liang lahat, Minggu (2/10/2022).
Suasana Stadion Kanjuruhan saat kerusuhan Arema Vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022). - Muhammad Yulianton (40) dan Devi Ratnasari (30), pasangan suami istri (pasutri) yang menjadi korban tewas tragedi Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, dimakamkan dalam satu liang lahat, Minggu (2/10/2022). (Kolase Instagram - TribunJatim.com/Kukuh Kurniawan)

Hari itu, Mukid menjemput Faiq di rumahnya dengan mengendarai sepeda motor.

Keduanya berboncengan, kemudian berbarengan dengan suporter Arema FC yang lain dari Jember.

Ada 14 sepeda motor di rombongan mereka.

Ketika kerusuhan terjadi, Mukid nekat mencari sang teman.

Perlu waktu 1,5 jam untuk bisa menemukan Faiq.

Saat ditemukan, Faiq sudah meninggal dunia.

"Faiq sudah di gedung tempat mengumpulkan jenazah itu, sudah ditutupi kain. Sudah meninggal dunia," ujarnya.

Baca juga: Baju Mengering di Jemuran, Remaja Jember Tak Kunjung Pulang, Ternyata Tewas saat Tragedi Kanjuruhan

Mukid bersedih dan kecewa pada dirinya, karena tidak bisa membarengi sampai ke dalam stadion.

Mukid terkendala dengan tiket masuk.

Karena tidak punya tiket masuk, selama pertandingan, ia hanya menyaksikan dari luar stadion.

Sedangkan Faiq dan tiga orang temannya bisa masuk.

Baca juga: Kesamaan Tragedi Kanjuruhan dan Estadio Peru 1964, Pantas Ratusan Meninggal? Dokter Beberkan Fakta

Ketika suasana terasa memanas, Mukid akhirnya nekat mencari tiket di calo untuk bisa masuk ke dalam stadion.

Tidak lama setelah dia masuk, situasi dalam stadion tidak terkendalikan.

Gas air mata memedihkan mata, dan menyesakkan jalan nafas. Ia tidak peduli, tujuannya satu menemukan sang teman.

"Setelah 1,5 jam baru ketemu, sekitar pukul 23.30 Wib," ujarnya lirih.

Mukid pun masih meneruskan tanggungjawabnya sebagai teman, ia menemani jenazah Faiq sampai ke rumah duka.

Ia memilih naik ambulans, dan meninggalkan sepeda motornya di Malang.

(Sri Wahyunik/Ani Susanti)

Berita tragedi Arema vs Persebaya lainnya

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved