Berita Surabaya
Universitas Muhammadiyah Surabaya Kukuhkan Guru Besar Bidang Ekonomi, Targetkan 3 Lagi di Tahun 2024
Universitas Muhammadiyah Surabaya Kukuhkan Guru Besar Bidang Ekonomi, Targetkan 3 Lagi di Tahun 2024
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya mengukuhkan guru besar Guru Besar Ekonomi Bidang Manajemen Keuangan,Prof Dr Didin Fatihudin SE MSi pada Sabtu (17/2/24) di Gedung At Tauhid Tower.
Rektor UM Surabaya, Sukadiono menyampaikan bertambahnya guru besar itu diharapkan bisa memberikan kontribusi di bidang akademik, penelitian dan juga pengabdian masyarakat.
“Tentu juga berkontribusi untuk memperkuat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang sudah dibesarkan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI),” katanya.
Pihaknya juga menargetkan, di tahun 2024 ini UM Surabaya bisa mewujudkan satu Fakultas satu Guru Besar, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengabdian.
Saat ini, kata dia, hanya tinggal beberapa fakultas yang belum mempunyai Guru Besar karena baru didirikan, seperti Fakultas Psikologi dan Fakultas Kedokteran Gigi.
Saat ini UM Surabaya memiliki 434 dosen, diantaranya adalah sembilan guru besar dan doktornya ada 108. Artinya ada 25 persen dosen yang sudah bergelar dosen.
“Tahun ini kita targetkan tiga orang guru besar,” ungkap Sukadiono.
Selain itu, tahun ini UM Surabaya juga sedang mengusahakan akreditasi Institusi Unggul.
Sementara itu, dalam pidato pengukuhannya Didin menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Implementasi keuangan makroekonomi, korporasi dan personal menuju sehat finansial di era ekonomi digital (Financial Behavior).
Dalam sambutannya, ia menjelaskan kesehatan finansial bisa dilihat dari tiga perspektif.
Pertama perspektif makroekonomi negara, kedua perspektif korporasi Perusahaan dan perspektif kesehatan finansial perorangan keluarga.
Ia menjelaskan, implementasi manajemen keuangan pemerintah, perusahaan dan personal memiliki pengukuran indikator yang berbeda. Rasionya juga berbeda. Sumber data yang dihitung juga bisa berbeda. Periode data juga beda.
Menurutnya, ada sisi kesamaan dalam pengukuran kinerja keuangan yang sehat.
“Bahwa kinerja keuangan pemerintah, perusahaan dan personal sebaiknya surplus, hindari defisit. Artinya bahwa rasio penerimaan harus lebih besar dari pengeluaran. Pendapatan lebih besar dari belanja. Pendapatan operasional harus lebih besar dari biaya operasional. Keuangan surplus itulah yang disebut sehat finansial,”ujar Didin dihadapan ratusan peserta.
Ia mengatakan, jika seseorang memiliki kelebihan uang, sebaiknya berinvestasi dalam aset keuangan (surat berharga) dan aset property dengan urutan sebagai berikut: tabungan, deposito, iuran dana pensiun, cicilan rumah, cicil emas/dirham/dinar, cicilan kendaraan, menambah modal kerja.
5 Tempat Wisata Hits di Surabaya Wajib Dikunjungi, Atlantis Land hingga Adventure Land Romokalisari |
![]() |
---|
Sosok Suami Tumini yang 15 Tahun Tinggal Ponten Umum, Nasib Kini Harus Pindah, Bakal Dapat Bantuan |
![]() |
---|
Nasib Pengantin Nyaris Gagal Nikah Gegara Ditipu WO hingga Rugi Rp 74 Juta, Sosok Pelaku Terungkap |
![]() |
---|
Beda Cara Eri Cahyadi & Dedi Mulyadi Bina Anak Nakal, Jabar Ada Barak Militer, Surabaya Buka Asrama |
![]() |
---|
Lokasi Jan Hwa Diana Sembunyikan 108 Ijazah Eks Karyawan Terjawab, Terancam Hukuman 4 Tahun Penjara |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.