Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Surabaya

Dulu Jadi Korban Bullying, Kini Jadi Dosen di UM Surabaya dan Penulis, Ini Sosok Holy Ichda

Menjadi korban bullying biasanya menimbulkan trauma tersendiri, tetapi Holy Ichda Wahyuni berhasil membuktikan dirinya bisa sukses

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Samsul Arifin
Istimewa/Dokumen Pribadi
Menjadi korban bullying biasanya menimbulkan trauma tersendiri, tetapi Holy Ichda Wahyuni berhasil membuktikan dirinya bisa sukses meskipun kerap dibully. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Menjadi korban bullying biasanya menimbulkan trauma tersendiri, tetapi Holy Ichda Wahyuni berhasil membuktikan dirinya bisa sukses meskipun kerap dibully.

Ia pun berhasil menjadi penulis dan juga Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di UM Surabaya.

Holy mengaku kerap menjadi korban perundungan dan bullying oleh temannya SMP dan SMA. Pasalnya, sebagai anak nelayan yang tumbuh di lingkungan pesisir pantai ia tidak pandai merawat diri, sehingga kulitnya kerap terbakar matahari pesisir. 

“Mereka menghina saya secara fisik, pernah saya dirundung seorang teman di depan semua teman ketika ada acara di aula. Saya sangat malu, dan itu membuat rasa kepercayaan diri saya runtuh,”kenang Holy, Senin (3/6/2024).

Meski dari keluarga nelayan, Holy sangat bersyukur karena keluarganya memiliki mimpi yang tinggi agar anak-anaknya bisa bersekolah. 

Baca juga: Kiesha Alvaro Ngaku Pernah Jadi Korban Bully Karena Sosok Pasha Ungu: Modal Nama Bapak Doang

Terutama kesadaran bahwa pendidikan adalah penting untuk anak anaknya, baik itu laki laki atau perempuan.

Sebagai anak nelayan, dari kecil Holy terbiasa melihat bagaimana jeri payah dan perjuangan bapaknya menerjang ombak untuk nafkah dengan hasil tidak menentu. 

“Sering juga saya melihat di dompet ibu hanya tersisa uang beberapa ribu rupiah saja dengan uang koin yang membuat saya harus menahan diri untuk tidak meminta banyak hal seperti snack atau mainan,”ungkap putri pasangan Yasifun dan Nur Kholidah ini.

Sadar bahwa mencari nafkah itu berat, Holy pernah ikut ibunya bekerja sebagai pengupas rajungan.

Meski demikian Holy selalu belajar dengan rajin, hingga selalu mendapat peringkat pertama sejak SD hingga SMA. Menurutnya, hanya beberapa kali saja Holy mendapat ranking 3, karena saat ujian dirinya sakit.

Prestasi menjadi peringkat di kelas rupanya cukup membantu meringankan SPP sekolahnya. 

Holy mengaku senang sekali setiap momentum pengambilan rapot ketika melihat wajah bangga ibunya membawa hadiah piagam atau di saat pelepasan akhir tahun mendengar nama ayahnya disebut ketika ia menduduki juara umum di aspek akademik. 

“Saya masih ingat saat itu, baju bapak saya paling sederhana, hanya kemeja hari raya yang dikenakannya berulang, di antara para bapak yang mengenakan jas ketika anak mereka juga disebut karena prestasinya,”kenang Holy lagi. 

Usai kelulusan SMA orang tuanya bertekad agar Holy bisa melanjutkn kuliah. Kegagalan mendapatkan beasiswa pemerintah membuatnya sempat frustasi. 

Ia merasa modal prestasi yang ia ukir selama ini seperti sia sia dan tidak membuka pintu mendapat beasiswa. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved