Olimpiade Matematika di Bojonegoro Ricuh

Kepala Dinas Pendidikan Naik Pitam Olimpiade Matematika di Bojonegoro Ricuh: Mencoreng

Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Anwar Mukhtadho, naik pitam Olimpiade Matematika di Bojonegoro berakhir ricuh, sebut mencoreng dunia pendidikan.

Tayang:
Penulis: Misbahul Munir | Editor: Dwi Prastika
TribunJatim.com/Misbahul Munir
OLIMPIADE MATEMATIKA - Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah bersama Asisten 1 Setda, Kepala Dinas Pendidikan dan Kapolsek Bojonegoro saat mediasi bersama penyelenggara Olimpiade Matematika, Rabu (10/12/2025). Olimpiade Matematika di Gedung Serbaguna Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (7/12/2025) berakhir ricuh. 
Ringkasan Berita:
  • Saryta Management, penyelenggara Olimpiade Matematika di Bojonegoro yang berakhir ricuh menghadiri pemanggilan Pemkab Bojonegoro.
  • Olimpiade dinilai ilegal karena tidak mengantongi izin dari dinas terkait.
  • Pihak penyelenggara Saryta Management, Ita Puspitasari sebut kegaduhan bermula saat pengumuman juara sesi pertama.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Misbahul Munir

TRIBUNJATIM.COM, BOJONEGORO - Imbas kericuhan Olimpiade Matematika di Gedung Serbaguna Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (7/12/2025), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memanggil pihak Saryta Management selaku penyelenggara.

Kegiatan yang diikuti ribuan siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Bojonegoro itu diketahui belum mengantongi izin resmi dari dinas terkait.

Pemanggilan tersebut berlangsung di lingkungan Pemkab Bojonegoro dan dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, Asisten I Setda Bojonegoro, Djoko Lukito, Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Anwar Mukhtadho beserta jajaran, perwakilan Kantor Kemenag, Kapolsek Kota Bojonegoro, AKP Agus Elfauzi, serta Ita Puspitasari selaku pemilik sekaligus ketua panitia dari Saryta Management yang didampingi penasihat hukum.

Pertemuan itu digelar untuk menyelesaikan persoalan terkait pertanggungjawaban penyelenggaraan kegiatan, terutama menyangkut pengembalian biaya pendaftaran peserta yang gagal atau batal mengikuti olimpiade akibat kericuhan yang terjadi.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah meminta agar penyelenggara Saryta Management bertanggung jawab penuh atas seluruh dampak yang ditimbulkan, khususnya terkait pengembalian dana peserta.

Pelaksanaan kegiatan tersebut, juga dinilai ilegal karena tidak mengantongi izin dari dinas terkait. 

“Kesalahan utama penyelenggara adalah tidak mengantongi izin. Maka seluruh biaya pendaftaran peserta yang tidak dapat mengikuti kegiatan wajib dikembalikan sepenuhnya," ujar Nurul Azizah, Rabu (10/12/2025).

Asisten I Setda Bojonegoro, Djoko Lukito juga menilai, penyelenggaraan olimpiade dilakukan secara tidak profesional dan terkesan asal-asalan.

Baca juga: Olimpiade Matematika di Bojonegoro Ricuh, Panitia Janji Bertanggung Jawab, Berikut Kronologinya

“Kalau istilah orang Jawa itu seperti 'obak dakon,' main-main. Tidak profesional dan tidak kredibel. Yang paling penting sekarang, uang pendaftaran peserta yang sudah diterima harus segera dikembalikan," tambahnya.

Kegaduhan yang ditimbulkan dari pelaksanaan Olimpiade Matematika ini juga membuat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Anwar Mukhtadho naik pitam. 

Anwar menyebut pelaksanaan olimpiade ini sangat mencoreng dunia pendidikan di Bojonegoro karena tidak melalui prosedur perizinan yang semestinya.

“Ini sangat memprihatinkan dan mencoreng dunia pendidikan. Pihak Saryta Management harus bertanggung jawab penuh atas kejadian ini," tegas Anwar, Rabu (10/12/2025).

Klarifikasi Penyelenggara

Sementara itu, pihak penyelenggara Saryta Management, Ita Puspitasari menjelaskan, kericuhan yang terjadi di luar kontrolnya.

Dia mengungkapkan, kronologi kegaduhan itu bermula saat pengumuman juara sesi pertama.

Ita menyebut, saat itu situasi tak terkendali, para orang tua wali tiba-tiba melayangkan protes dan merangsek masuk ke lokasi acara. 

Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, pihaknya bersama beberapa panitia meminta tambahan pengamanan dari Polsek Kota Bojonegoro untuk menenangkan massa yang sudah tidak terkendali.

Akibat kejadian itu, Ita mengklaim banyak berkas serta barang milik panitia yang hilang saat kericuhan. 

“Semua barang dan sebagian data panitia hilang. Namun kami tetap bertanggung jawab," ujar Ita. 

Meski demikian, pihak Saryta Management berjanji bakal bertanggung jawab penuh dengan mengembalikan uang pendaftaran. 

Saat ini, lanjut Ita, pihaknya tengah melakukan pendataan ulang melalui koordinasi dengan masing-masing guru dan sekolah.

"Saat ini kami menunggu data dari guru-guru sekolah untuk proses pengembalian uang pendaftaran peserta," sambungnya.

Proses pengembalian, tambah Ita, ditargetkan rampung dalam waktu dua pekan.

Sebagai langkah awal, pasca kejadian panitia telah mengembalikan total dana sekitar Rp 10 juta kepada peserta. 

Dia juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbulkan.

“Ini konsekuensi yang harus kami tanggung. Kami siap membayar berapapun sesuai data yang masuk. Pengembalian kami lakukan dengan cara mencocokkan data dari sekolah dengan yang ada pada kami,” tutupnya. 

Sebelumnya, pelaksanaan Olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Bojonegoro yang digelar oleh Saryta Management di Gedung Serbaguna Bojonegoro, Minggu (7/12/2025), berakhir ricuh.

Kegiatan yang diikuti ribuan peserta itu diwarnai kepanikan, protes orang tua, hingga suasana tidak kondusif berujung olimpiade dihentikan.

Informasi yang dihimpun sejak awal pelaksanaan, kegiatan ini sudah menuai kejanggalan dan keluhan dari para wali murid pendamping.

Mereka menilai penyelenggaraan olimpiade tidak profesional, mulai dari kurangnya persiapan teknis hingga sistem pelaksanaan yang dinilai tidak tertata dengan baik.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved