Telur Program GAYATRI Jadi Alternatif Murah Warga Bojonegoro Menjelang Ramadan

Di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, misalnya, aktivitas di kandang ayam milik Unun Choirul Amin (44) tampak lebih sibuk dibanding hari biasa.

Tayang:
Penulis: Misbahul Munir | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Misbahul Munir
PROGRAM GAYATRI - Unun Choirul Amin (44) penerima manfaat program gerakan beternak ayam petelur mandiri asal Desa Mori Kecamatan Trucuk, Bojonegoro 
Ringkasan Berita:
  • Permintaan telur di Bojonegoro meningkat menjelang Ramadan, harga pasar relatif tinggi.
  • Program GAYATRI memberi alternatif telur murah langsung dari peternak lokal.
  • Keluarga penerima manfaat memperoleh tambahan pendapatan sekaligus menjaga pasokan pangan di desa.

Laporan Wartawan Tribunjatim Network Misbahul Munir

TRIBUNJATIM.COM, BOJONEGORO - Permintaan telur di Kabupaten Bojonegoro meningkat jelang Ramadan 2026

Di tengah tren kenaikan kebutuhan pokok, telur hasil Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) menjadi alternatif warga dengan harga lebih terjangkau sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi keluarga penerima manfaat.

Di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, misalnya, aktivitas di kandang ayam milik Unun Choirul Amin (44) tampak lebih sibuk dibanding hari biasa.

Setiap pagi, Ibu 4 anak ini mengumpulkan 40 hingga 50 butir telur dari kandangnya. Namun memasuki pekan-pekan menjelang Ramadan, telur-telur itu lebih cepat terjual.

Baca juga: Motor Tergelincir di Ladang, Petani Bojonegoro Tewas Terbawa Arus Saluran Irigasi

Aktivitas Peternak Lokal

“Kalau mendekati Ramadan, biasanya banyak yang pesan. Untuk kebutuhan rumah tangga atau hajatan orang sini biasanya menyebutnya megengan,” kata Unun, kamis (12/2/2026). 

Unun merupakan salah satu keluarga penerima manfaat (KPM) Program GAYATRI yang digagas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Melalui program ini, keluarga rentan mendapatkan bantuan ternak ayam petelur sekaligus pendampingan usaha agar mampu mandiri secara ekonomi.

Baca juga: Ikut Program GAYATRI, Unun Laris Jualan Telur Ayam Jelang Ramadan, Dapat Rp50.000 per Hari

Dari hasil penjualan telur, Unun rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp 50.000 per hari. Telur dijual kepada warga sekitar dengan harga Rp 26.000 per kilogram. Karena dibeli langsung dari peternak, harga tersebut relatif lebih murah dibandingkan di toko atau pasar.

“Hasilnya biasanya kami tabung, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk bayar listrik,” ujarnya.

Berkah Ramadan

Meningkatnya permintaan menjelang Ramadan menjadi berkah tersendiri. Telur, sebagai salah satu komoditi, banyak dibutuhkan untuk berbagai olahan makanan, baik untuk sahur, berbuka, maupun persiapan usaha kecil-kecilan warga.

Tak hanya Unun, berkah serupa juga dirasakan oleh Sri Ambarwati (37), penerima program Gayatri. Ia mengaku penjualan telur belakangan lebih lancar menjelang ramadhan. Hal ini tentu berimplikasi pada pendapatannya makin stabil.

Baginya, tambahan penghasilan dari beternak ayam petelur cukup membantu menopang ekonomi keluarga.

"Alhamdulillah tiap pagi sudah ada yang ngambil, dan tiap hari sudah ada saja yang pesan, karena kalau beli langsung lebih murah dari beli di toko kelontong atau pasar," ujarnya.

Pendampingan Program

Program GAYATRI sendiri tak hanya memberikan bantuan awal, tetapi juga pendampingan rutin. Pendamping KPM GAYATRI Desa Mori, Mohamad Aris (40), mengatakan tim secara berkala melakukan pengecekan kondisi ternak dan memantau produksi telur.

“Setiap minggu kami lakukan pengecekan. Pakan masih tersuplai dengan baik. Kami juga punya grup WhatsApp untuk koordinasi, jadi setiap hari ada diskusi tentang perawatan ayam,” kata Aris.

Di Desa Mori terdapat 16 keluarga penerima manfaat yang saat ini menjalankan usaha ternak ayam petelur melalui Program GAYATRI.

"Ada Sebanyak 6 keluarga mendapat dukungan dari anggaran desa, sementara 10 lainnya berasal dari program Pemerintah Kabupaten Bojonegoro," jelasnya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan menjelang Ramadan, keberadaan peternak lokal binaan GAYATRI turut membantu menjaga ketersediaan pasokan di tingkat desa.

Warga memiliki alternatif sumber telur dengan harga lebih terjangkau, sementara keluarga penerima manfaat memperoleh tambahan pendapatan yang berkelanjutan.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved