Tradisi dan Budaya di Jatim

Semarak Ramadan di Gresik, Laki-Laki Desa Gumeno Masak Kolak Ayam dalam Tradisi Sanggring

Malam ke-23 Ramadan di Gresik jadi hidup karena Tradisi Sanggring, laki-laki Desa Gumeno masak kolak ayam dan jadi ajang silaturahmi.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Willy Abraham
SANGGRING KOLAK AYAM - Tradisi Sanggring Kolak Ayam di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, di Masjid Sunan Dalem, Gresik, masih terus dilestarikan, Sabtu (22/3/2025). Tradisi ini setiap tahun rutin digelar pada hari ke-22 atau malam 23 Bulan Suci Ramadan. 

Hingga pada malam ke-23 Ramadan, Sunan Dalem mendapat petunjuk untuk membuat hidangan berbahan ayam kampung yang dimasak dengan santan, jinten, gula merah dan daun bawang.

Kolak ayam tersebut kemudian disantap dan kesehatannya berangsur pulih. 

Peristiwa inilah yang menjadi awal mula tradisi Sanggring.

Sejak saat itu, masyarakat Desa Gumeno melestarikan tradisi memasak kolak ayam setiap malam ke-23 Ramadan sebagai bentuk napak tilas dan penghormatan terhadap perjuangan dakwah Sunan Dalem.

Dimasak Khusus oleh Laki-Laki dalam Keadaan Suci

Keunikan tradisi Sanggring ini terletak pada proses pembuatannya. 

Kolak ayam hanya boleh dimasak oleh kalangan laki-laki.

Mereka yang memasak diwajibkan dalam keadaan suci dari hadas kecil atau telah berwudhu. 

Aturan ini dipercaya mengikuti tata cara yang telah dilakukan pada masa Sunan Dalem.

Proses memasak pun tetap menggunakan tungku kayu bakar dan bahan-bahannya terdiri dari ayam kampung, santan kelapa, gula merah, jinten, serta daun bawang.

Dikutip dari Kompas.com, untuk ribuan porsi kolak ayam, dibutuhkan ratusan ekor ayam, ratusan butir kelapa, serta puluhan kilogram jinten dan gula merah.

Semua dikerjakan secara gotong royong oleh warga laki-laki Desa Gumeno sejak pagi hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Baca juga: Tradisi Patrol Suku Osing Banyuwangi, Musik Bambu Penggugah Sahur Warisan Leluhur

Telah Berusia Hampir Lima Abad

Tradisi Sanggring diyakini telah berlangsung sejak 1540 M dan kini usianya mendekati lima abad.

Dilansir dari gresikkab.go.id, pemerintah daerah menyebut tradisi ini sebagai warisan budaya kearifan lokal yang harus terus dijaga. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved