Tradisi dan Budaya di Jatim
Dari Sumber Hajar, Tradisi Ithuk-ithukan Jadi Simbol Syukur Warga Banyuwangi
Ithuk-ithukan di Banyuwangi jadi tradisi syukur atas sumber air, hadirkan arak-arakan makanan dan kebersamaan yang terus terjaga turun-temurun.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Tradisi Ithuk-ithukan merupakan warisan Suku Osing di Banyuwangi sebagai wujud syukur atas sumber air dan digelar tiap tahun di Dusun Rejopuro.
- Prosesi berupa arak-arakan ithuk berisi hidangan menuju Sumber Hajar, dilanjut doa dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan.
- Maknanya menekankan solidaritas, pemerataan makanan, serta rasa syukur dan kepedulian terhadap alam.
- Tradisi ini terus dilestarikan pemerintah sebagai kearifan lokal sekaligus potensi wisata budaya.
TRIBUNJATIM.COM - Tradisi Ithuk-ithukan menjadi salah satu warisan budaya khas masyarakat Suku Osing di Kabupaten Banyuwangi yang masih terjaga hingga kini.
Tradisi ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan warga.
Ithuk-ithukan berlangsung di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah.
Setiap tahunnya, ritual ini digelar secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Masyarakat yang mengikuti tradisi ini biasanya mengenakan busana khas Suku Osing. Kaum perempuan memakai kebaya hitam dan jarit, sementara laki-laki mengenakan pakaian serba hitam.
Dalam prosesi, warga membawa ithuk, yakni alas makan dari daun pisang, yang berisi berbagai hidangan sederhana seperti ingkung ayam dan makanan tradisional lainnya.
Ithuk-ithuk tersebut kemudian disusun rapi dan diarak bersama-sama menuju sumber mata air.
Arak-arakan dimulai dari permukiman warga menuju Sumber Hajar, yang menjadi pusat kegiatan.
Setibanya di lokasi, masyarakat menggelar doa sebelum akhirnya menyantap hidangan secara bersama-sama.
Baca juga: Tradisi Bersih Nagari Tulungagung, Ekspresi Menjaga Warisan Leluhur saat Puncak Perayaan Hari Jadi
Makna Filosofis dan Asal-usul Tradisi
Tradisi Ithuk-ithukan memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Nama “ithuk” sendiri berasal dari kata “kepethuk” yang berarti bertemu, menggambarkan momen berkumpulnya warga dalam suasana kekeluargaan.
Dikutip dari banyuwangikab.go.id, tradisi ini juga mengandung pesan agar tidak ada warga yang kekurangan makanan.
Hidangan yang telah disiapkan kemudian dibagikan secara merata, bahkan warga yang tidak bisa hadir tetap mendapatkan bagian.
Tradisi Ithuk-ithukan
Banyuwangi
Jawa Timur
tradisi di Jatim
Tribun Jatim
Osing
tradisi masyarakat Osing
Tradisi Osing
Osing Banyuwangi
Tradisi Banyuwangi
Jatim
kebersamaan
TribunJatim.com
Sumber Hajar
Dusun Rejopuro
Desa Kampunganyar
sumber mata air
Kecamatan Glagah
tradisi dan budaya di Jatim
Suku Osing
| Mengenal Lebih Dekat Jaranan Tril Blitar, Kesenian Unik dengan Iringan Musik Non Gamelan |
|
|---|
| Tradisi Ogoh-ogoh di Lumajang, Simbol Spiritual dan Toleransi Antarumat |
|
|---|
| Tradisi Thethek Melek di Pacitan, Ritual Petani Usir Hama demiJaga Keseimbangan Manusia dengan Alam |
|
|---|
| Kerapan Sapi Brujul Probolinggo, Tradisi Balap Sapi yang Kini Jadi Penggerak Ekonomi & Pesta Rakyat |
|
|---|
| Tari Godril Lumajangan, Akulturasi Budaya Kolonial Dancen Van Java dengan Karakter Pendalungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Warga-Dusun-Rejopuro-Glagah-Banyuwangi-menggelar-Tradisi-Ithuk-ithukan.jpg)