Tradisi dan Budaya di Jatim
Legenda di Balik Upacara Adat Ceprotan Pacitan, Ritual Lempar Kelapa yang Diyakini Datangkan Rezeki
Upacara Adat Ceprotan di Pacitan bukan sekadar tradisi tahunan. Ritual lempar kelapa muda ini menjadi simbol harapan akan keselamatan dan kemakmuran.
Penulis: Septadera Candra Purnama | Editor: Arie Noer Rachmawati
Ringkasan Berita:
- Upacara Adat Ceprotan digelar setahun sekali di Desa Sekar, Pacitan, setiap bulan Longkang pada Senin Kliwon sebagai ritual bersih desa yang diyakini membawa keselamatan dan kemakmuran.
- Tradisi ini berawal dari legenda Dewi Sekartaji dan Ki Godeg, dengan prosesi khas saling lempar kelapa muda (cengkir) yang penuh makna simbolis.
- Selain menjadi warisan budaya, Ceprotan juga menarik wisatawan mancanegara serta meningkatkan pendapatan warga melalui penjualan makanan khas saat acara berlangsung.
TRIBUNJATIM.COM – Di balik pesona alamnya, Kabupaten Pacitan juga menyimpan tradisi budaya yang unik dan sarat makna, yakni Upacara Adat Ceprotan.
Tradisi tahunan ini digelar masyarakat Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, sebagai bagian dari ritual bersih desa sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
Tradisi Ceprotan diyakini menjadi simbol harapan akan keselamatan, kemakmuran, serta kelancaran hasil pertanian yang menjadi mata pencaharian utama warga.
Digelar Setiap Bulan Longkang, Senin Kliwon
Upacara Adat Ceprotan dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada bulan Longkang atau Dzulqaidah dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan hari Senin Kliwon.
Jika dalam bulan tersebut tidak terdapat Senin Kliwon, maka pelaksanaannya digeser ke Minggu Kliwon.
Diketahui, tradisi ini rutin digelar di Desa Sekar, yang berjarak kurang lebih 40 kilometer ke arah barat dari pusat Kota Pacitan.
Upacara ini diyakini masyarakat mampu menjauhkan desa dari bala atau malapetaka, sekaligus memperlancar kegiatan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama warga.
Baca juga: Tak Sekadar Bangunkan Sahur, Tradisi Oklik Bojonegoro Selalu Ramaikan Takbiran hingga Festival
Dua Versi Legenda: Dewi Sekartaji dan Ki Godeg
Ceprotan tak lepas dari kisah legenda yang hidup di tengah masyarakat.
Dikutip dari Pusaka Jawatimuran, terdapat dua versi cerita yang berkembang.
Versi pertama menyebutkan Desa Sekar dulunya merupakan kawasan hutan tandus.
Wilayah ini kemudian dibuka oleh Ki Godeg, yang disebut sebagai sosok sakti mandraguna.
Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan Dewi Sekartaji yang tengah mencari kekasihnya, Panji Asmorobangun.
Saat Dewi Sekartaji merasa kehausan dan meminta air kelapa muda, Ki Godeg menggunakan kesaktiannya untuk mendapatkan cengkir dari tempat yang jauh.
Setelah minum, sisa air kelapa tersebut ditumpahkan di tanah, tepatnya di tempat Dewi Sekartaji berdiri.
Ceprotan
Upacara Adat Ceprotan
Upacara Adat Pacitan
Tradisi Pacitan
Pacitan
Kabupaten Pacitan
ritual bersih desa
Jawa Timur
Tribun Jatim
TribunJatim.com
meaningful
jatim.tribunnews.com
| Tradisi Ruwahan Sendangduwur Lamongan, Dari Pawai Budaya hingga Sedekah Kuliner Penuh Makna |
|
|---|
| Gedhogan Banyuwangi, Dari Alat Penumbuk Padi Jadi Seni Tradisi Pererat Hubungan Antarwarga |
|
|---|
| Dari Kisah Legenda hingga Panggung Budaya, Ini Keunikan Barongan Kucingan Blitar |
|
|---|
| Meras Gandrung, Wisuda Sakral Penari Banyuwangi dengan Ritual Gurah dan Omprog |
|
|---|
| Kirab Bedhol Pusaka di Ponorogo, Ritual Sakral Napak Tilas Sejarah Batoro Katong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tradisi-Upacara-Adat-Ceprotan-di-Pacitan.jpg)