Sejarah di Jatim
Sejarah Benteng Van den Bosch Ngawi, Dari Perang Jawa hingga Kamp Interniran
Dari masa kolonial hingga era kemerdekaan, begini jejak sejarah di balik dinding tebal Benteng Van den Bosch Ngawi, Jawa Timur.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Strategi Lokasi dan Arsitektur Pertahanan
Pemilihan lokasi benteng bukan tanpa alasan. Sungai Bengawan Solo serta Bengawan Madiun saat itu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang bisa dilayari kapal besar hingga ke hulu.
Perahu-perahu tersebut mengangkut hasil bumi seperti rempah-rempah dan palawija dari Surakarta-Ngawi menuju Gresik. Hal serupa juga terjadi pada jalur Madiun-Ngawi dengan tujuan perdagangan yang sama.
Dengan menguasai Ngawi, Belanda dapat mengontrol distribusi logistik sekaligus memutus jalur perlawanan.
Benteng ini dirancang dengan sistem pertahanan lengkap, mulai dari parit yang mengelilingi bangunan, tanggul tanah, hingga pintu gerbang dengan jembatan.
Seluruh kompleks terdiri atas dua pintu gerbang, dua bangunan di luar parit, serta 15 bangunan di dalam tanggul tanah.
Mengutip incar.jatimprov.go.id, bahan bangunan yang digunakan antara lain batu andesit dan kayu jati, dengan campuran semen merah, kapur, serta pasir sebagai perekat. Hingga kini, struktur arsitektur aslinya relatif masih terjaga.
Keunggulan lainnya terletak pada sistem drainase.
Meski berada lebih rendah dari tanah sekitar, benteng ini dirancang agar tidak tergenang air, menunjukkan kecanggihan teknik arsitektur Belanda pada masa itu.
Baca juga: Sejarah Candi Jawi di Prigen Pasuruan, Tempat Pendharmaan Raja Terakhir Kerajaan Singasari
Dihuni Ratusan Tentara Belanda
Setelah rampung dibangun pada 1845, Benteng Van Den Bosch dihuni sekitar 250 tentara Belanda bersenjata laras panjang, enam meriam api, serta 60 pasukan kavaleri.
Benteng ini juga dilengkapi ruang komando, gudang senjata, gudang logistik, barak tentara, hingga ruang penjara untuk menahan pejuang dan pekerja paksa.
Selain sebagai pusat pertahanan, Benteng Van Den Bosch pernah difungsikan untuk mengontrol sistem tanam paksa dan pabrik gula di sekitar Ngawi pada pertengahan abad ke-19.
Memasuki masa pendudukan Jepang tahun 1942, fungsi benteng berubah menjadi kamp interniran atau penjara.
Melansir Kompas.com, antara Februari 1943 hingga Februari 1944, sekitar 1.580 pria pernah mendekam di bangunan tersebut.
Benteng Van Den Bosch
K.H. Muhammad Nursalim
Ngawi
Kamp Interniran
Sejarah di Jatim
Johannes van den Bosch
Benteng Pendem Ngawi
Perang Jawa
Tribun Jatim
TribunJatim.com
Sejarah Benteng Van den Bosch Ngawi
| Candi Bangkal Mojokerto, Jejak Megah Kerajaan Majapahit dan Simbol Dewa Surya yang Tersembunyi |
|
|---|
| Museum Brawijaya Malang, Jejak Perjuangan TNI dan Pelestarian Warisan Patriotisme Bangsa |
|
|---|
| Pesona Candi Sirah Kencong Blitar, Jejak Majapahit di Lereng Gunung dan Kebun Teh |
|
|---|
| Menelusuri Museum Wajakensis yang Merekam Peradaban Manusia di Tulungagung |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah Peradaban Kediri yang Tersimpan di Museum Airlangga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Benteng-Van-Den-Bosch.jpg)