Breaking News

Sejarah di Jatim

Sejarah Benteng Van den Bosch Ngawi, Dari Perang Jawa hingga Kamp Interniran

Dari masa kolonial hingga era kemerdekaan, begini jejak sejarah di balik dinding tebal Benteng Van den Bosch Ngawi, Jawa Timur.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Surabaya.kompas.com
SEJARAH BENTENG VAN DEN BOSCH - Benteng Van den Bosch atau Benteng Pendem Ngawi berada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang berdiri sejak abad ke-19 serta menyimpan jejak kolonial Belanda, makam K.H. Muhammad Nursalim dan pernah dijadikan kamp interniran Jepang. 

Strategi Lokasi dan Arsitektur Pertahanan

Pemilihan lokasi benteng bukan tanpa alasan. Sungai Bengawan Solo serta Bengawan Madiun saat itu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang bisa dilayari kapal besar hingga ke hulu.

Perahu-perahu tersebut mengangkut hasil bumi seperti rempah-rempah dan palawija dari Surakarta-Ngawi menuju Gresik. Hal serupa juga terjadi pada jalur Madiun-Ngawi dengan tujuan perdagangan yang sama.

Dengan menguasai Ngawi, Belanda dapat mengontrol distribusi logistik sekaligus memutus jalur perlawanan.

Benteng ini dirancang dengan sistem pertahanan lengkap, mulai dari parit yang mengelilingi bangunan, tanggul tanah, hingga pintu gerbang dengan jembatan. 

Seluruh kompleks terdiri atas dua pintu gerbang, dua bangunan di luar parit, serta 15 bangunan di dalam tanggul tanah.

Mengutip incar.jatimprov.go.id, bahan bangunan yang digunakan antara lain batu andesit dan kayu jati, dengan campuran semen merah, kapur, serta pasir sebagai perekat. Hingga kini, struktur arsitektur aslinya relatif masih terjaga.

Keunggulan lainnya terletak pada sistem drainase. 

Meski berada lebih rendah dari tanah sekitar, benteng ini dirancang agar tidak tergenang air, menunjukkan kecanggihan teknik arsitektur Belanda pada masa itu.

Baca juga: Sejarah Candi Jawi di Prigen Pasuruan, Tempat Pendharmaan Raja Terakhir Kerajaan Singasari

Dihuni Ratusan Tentara Belanda

Setelah rampung dibangun pada 1845, Benteng Van Den Bosch dihuni sekitar 250 tentara Belanda bersenjata laras panjang, enam meriam api, serta 60 pasukan kavaleri.

Benteng ini juga dilengkapi ruang komando, gudang senjata, gudang logistik, barak tentara, hingga ruang penjara untuk menahan pejuang dan pekerja paksa.

Selain sebagai pusat pertahanan, Benteng Van Den Bosch pernah difungsikan untuk mengontrol sistem tanam paksa dan pabrik gula di sekitar Ngawi pada pertengahan abad ke-19.

Memasuki masa pendudukan Jepang tahun 1942, fungsi benteng berubah menjadi kamp interniran atau penjara. 

Melansir Kompas.com, antara Februari 1943 hingga Februari 1944, sekitar 1.580 pria pernah mendekam di bangunan tersebut.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved