Ramadan 2026
Tak Bisa Menahan Amarah di Bulan Ramadan? Ini Dampaknya pada Puasa
Marah saat puasa? Ketahui dampak emosi yang sering terlupakan dan bagaimana hal itu bisa memengaruhi ibadah di bulan Ramadan.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Marah saat puasa tidak membatalkan ibadah, tapi bisa mengurangi atau menghilangkan pahala.
- Rasulullah menekankan mengendalikan emosi saat puasa sebagai bagian dari latihan diri.
- Menahan amarah meningkatkan takwa, ketenangan batin, dan kesehatan selama Ramadan.
TRIBUNJATIM.COM - Bulan Ramadan menjadi momen bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Tak hanya menahan lapar dan dahaga, puasa juga mengajarkan pengendalian diri dari hawa nafsu, termasuk amarah.
Namun dalam praktiknya, kondisi fisik yang lelah dan rasa lapar kerap memicu emosi.
Lalu, apakah marah saat puasa bisa membatalkan ibadah tersebut?
Secara fikih sejumlah ulama menegaskan bahwa marah tidak termasuk hal yang membatalkan puasa. Akan tetapi, amarah yang tak terkendali bisa merusak bahkan mengugurkan pahala puasa.
Tidak Membatalkan, Tapi Bisa Menghilangkan Pahala
Secara hukum syariat, marah bukan pembatal puasa. Pembatal puasa berkaitan dengan perbuatan fisik seperti makan, minum, berhubungan suami istri, muntah disengaja, dan sejenisnya.
Abdul Matin bin Sakman menjelaskan bahwa kemarahan termasuk perbuatan maknawi. Artinya, tidak membatalkan secara hukum, tetapi dapat mengurangi nilai ibadah.
Hal serupa disampaikan Ketua Bidang Kajian Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh. Dikutip dari Kompas.com, ia menjelaskan bahwamarah dan bertengkar tidak membatalkan puasa, namun pahalanya bisa hilang.
Sementara Wakil Sekretaris Jenderal MUI Muhammad Ziyad menyebutkan, berkata kotor dan marah tanpa alasan yang jelas dapat menggugurkan pahala puasa.
Baca juga: Hukum Menelan Dahak saat Puasa Ramadan, Batal atau Tidak? Simak Penjelasan Ulama dan MUI
Jenis Marah dalam Islam
Dalam kajian yang dimuat pada laman kotayogya.baznas.go.id, dijelaskan bahwa dalam Islam terdapat dua jenis kemarahan.
- Pertama, marah tercela (Al-Ghadhab al-Madzmum), yakni marah karena urusan duniawi, harga diri yang tersinggung, atau dendam pribadi. Jenis ini yang harus ditekan, terlebih saat berpuasa.
- Kedua, marah terpuji (Al-Ghadhab al-Mahmud), yakni marah karena membela kebenaran atau ketika syariat Allah dilanggar.
Namun, meskipun diperbolehkan, tetap harus disampaikan secara santun dan proporsional.
Muhammad Ziyad menambahkan, seseorang boleh marah jika melihat kemungkaran, tetapi tetap dalam batas kendali dan alasan yang jelas.
Hadis tentang Menahan Marah Saat Puasa
Rasulullah SAW telah memberikan pedoman jelas tentang pengendalian emosi saat berpuasa.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:
“Puasa adalah perisai. Jika seseorang sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak. Jika ada yang mencela atau mengajaknya bertengkar, hendaknya ia mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa”.
Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” [HSR al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609)].
Baca juga: Puasa Tanpa Sahur Tetap Sah? Ini Hukum, Keutamaan, dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Keutamaan Menahan Amarah
Menahan marah memiliki keutamaan besar dalam Islam, terlebih saat Ramadan.
- Pertama, menahan marah adalah inti dari takwa yang menjadi tujuan utama puasa.
- Kedua, dalam salah satu hadis, Rasulullah memberikan nasihat agar seseorang menahan amarah sebagai salah satu jalan meraih surga. Dalam riwayat tersebut disebutkan, “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”
- Ketiga, kemampuan menahan amarah disebut sebagai kekuatan sejati dibanding kekuatan fisik.
- Keempat, dari sisi kesehatan, pengendalian emosi membantu menjaga tekanan darah, kesehatan mental, serta ketenangan batin selama menjalankan ibadah puasa.
Baca juga: Hukum Berkumur dan Sikat Gigi Saat Puasa, Boleh atau Bisa Membatalkan? Ini Penjelasan Ulama dan MUI
Puasa adalah Latihan Pengendalian Diri
Puasa sejatinya adalah pendidikan jiwa. Ia melatih manusia untuk mengontrol nafsu, pikiran, dan perilaku.
Marah memang tidak membatalkan puasa secara hukum. Namun, jika tidak terkendali, ia bisa merusak pahala dan menghilangkan esensi ibadah itu sendiri.
Karena itu, saat emosi mulai memuncak, umat Islam dianjurkan untuk mengingat kembali bahwa dirinya sedang berpuasa.
Dengan begitu, Ramadan benar-benar menjadi momentum membentuk pribadi yang lebih sabar, kuat, dan bertakwa.
hukum marah saat puasa
Ramadan
marah
Tribun Jatim
MUI
Kemenag
Ramadan 2026
Menahan Amarah
TribunJatim.com
Ramadan 1447H
| Apa Itu Fidyah? Simak Pengertian, Dasar Hukum, dan Cara Membayarnya dalam Islam |
|
|---|
| Pembeli di Embong Arab Tak Seramai Ramadan Tahun Lalu, Pemilik Toko: Kondisi Ekonomi yang Lagi Sulit |
|
|---|
| Tradisi Malem Songo Bojonegoro: 484 Pasangan Bakal Akad Nikah Serentak pada 18 Maret 2026 |
|
|---|
| Jaga Kondusivitas Ramadan, Petugas Lapas Mojokerto Razia Kamar Hunian Warga Binaan |
|
|---|
| Apa Itu Iktikaf? Ini Pengertian, Hukum dan Keutamaannya dalam Islam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Orang-Marah.jpg)