Bangga Jawa Timur
Menelusuri Jejak Sejarah di Balik Gurihnya Rujak Cingur hingga Tahu Tek
Bukan sekadar kenyang! Simak kisah unik "balapan" para penjual lontong hingga filosofi petis yang jadikan kuliner Surabaya mendunia dan melegenda.
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Seiring waktu, bumbu petis ikan kemudian diganti menjadi petis udang agar sesuai dengan selera masyarakat Surabaya.
Tak hanya sekadar makanan, rujak cingur juga memiliki makna filosofis. Perpaduan berbagai bahan mencerminkan keberagaman budaya.
Kini, rujak cingur telah diakui sebagai warisan budaya takbenda sejak 2021 dan tetap menjadi kuliner favorit yang mudah ditemukan di berbagai sudut Surabaya.
Baca juga: Tak Sekadar Lezat, Inilah Sejarah dan Filosofi di Balik Rujak Cingur Khas Surabaya
Lontong Balap
Lontong Balap merupakan hidangan khas Surabaya yang terdiri dari lontong, tauge, tahu goreng, lentho, dan kuah kaldu bening yang ringan.
Nama “lontong balap” berasal dari kebiasaan para pedagang pada tahun 1913 yang berjualan menggunakan sepeda dari Jalan Semarang menuju Kebun Binatang Surabaya.
Dalam perjalanan, para pedagang tersebut saling berlomba agar cepat sampai di tujuan. Dari situlah muncul istilah “balapan” yang kemudian melekat menjadi nama kuliner ini.
Selain itu, dikutip dari sumber lain, cerita serupa juga menyebutkan para penjual berjalan cepat menuju Pasar Wonokromo sambil membawa dagangan dalam kemaron besar, sehingga tampak seperti sedang berpacu.
Ciri khas lontong balap terletak pada kuahnya yang bening tanpa santan, sehingga terasa ringan. Biasanya disajikan bersama sate kerang dan sambal petis yang menambah cita rasa khas.
Baca juga: Mengapa Opor Ayam Jadi Makanan Khas saat Lebaran? Ini Sejarah, Makna dan Filosofinya
Tahu Tek
Tahu Tek menjadi salah satu kuliner khas Surabaya yang terkenal dengan kesederhanaannya namun kaya rasa.
Hidangan ini terdiri dari tahu goreng setengah matang, lontong, kentang, tauge, dan timun yang disiram dengan saus kacang bercampur petis.
Nama “tahu tek” berasal dari bunyi gunting yang digunakan pedagang saat memotong bahan makanan, yaitu “tek…tek…tek”.
Dalam perkembangannya, tahu tek yang dulunya dijual secara keliling kini sudah banyak ditemukan di warung hingga restoran. Meski begitu, cara pengolahan tradisionalnya tetap dipertahankan.
Bumbu tahu tek dibuat dengan cara diulek menggunakan cobek batu hingga menghasilkan saus yang kental dan khas, menjadikannya berbeda dari rujak uleg.
Baca juga: Resep Kue Bulan atau Mooncake Imlek 2025, Makanan Khas Tiongkok, Berikut Bahan dan Cara Membuatnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ilustrasi-semanggi-suroboyo-lontong-balap-dan-rujak-cingur-ilustrasi-kuliner-khas-surabaya.jpg)