Virus Nipah Terdeteksi pada Kelelawar di Indonesia: Pakar Unair Tekankan Kewaspadaan Tanpa Panik
Temuan material genetik virus Nipah pada kelelawar di sejumlah wilayah Indonesia memunculkan kewaspadaan baru terhadap potensi penyakit zoonosis.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Sudarma Adi
Ringkasan Berita:
- Status Kasus: Nol kasus pada manusia di Indonesia (Hingga 17 Februari 2026).
- Temuan: RNA virus Nipah ditemukan pada kelelawar buah lokal.
- Risiko: Tingkat kematian sangat tinggi (45-80 persen).
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Temuan material genetik virus Nipah pada kelelawar di sejumlah wilayah Indonesia memunculkan kewaspadaan baru terhadap potensi penyakit zoonosis.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia, masyarakat diminta tetap waspada mengingat tingginya tingkat fatalitas virus tersebut.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) sebelumnya mengungkap bukti keberadaan virus Nipah pada kelelawar melalui surveilans nasional.
Temuan ini mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk akademisi dan pakar kesehatan masyarakat.
Ahli Kesehatan Masyarakat bidang Biostatistika Epidemiologi sekaligus Dosen Luar Biasa Universitas Airlangga (Unair), Dr. dr Windhu Purnomo MS menjelaskan, secara epidemiologis belum ada laporan kasus virus Nipah yang menginfeksi manusia di Indonesia.
Baca juga: Fatalitas hingga 70 Persen! Mengenal Virus Nipah yang Kembali Mewabah di India dan Cara Mencegahnya
“Jadi, kalau kita melihat secara epidemiologi ya, belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia sampai hari ini. Artinya pemerintah belum pernah mengumumkan bahwa ditemukan satupun kasus manusia di Indonesia yang terinfeksi. Tapi kita harus tahu bahwa meskipun di Indonesia belum ada, virus ini sudah ada sejak lama,” jelasnya.
Fokus Pencegahan dan Surveilans
Virus Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia pada 1998 dan telah menimbulkan kasus di sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Selatan. Berdasarkan hasil surveilans nasional 2023–2024, ditemukan material genetik virus tersebut pada kelelawar buah di Indonesia.
“Pada 2023–2024 sudah ada surveillance nasional yang sistematis yang menunjukkan bahwa dari 305 sampel kelelawar buah, ditemukan empat kelelawar mengandung RNA virus Nipah. Artinya virus ini memang sudah ada di Indonesia, tapi belum di manusia,” ujarnya.
Windhu menegaskan, ancaman utama virus Nipah terletak pada tingginya Case Fatality Rate (CFR) yang mencapai 45 hingga 80 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit infeksi lainnya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat tidak panik dan lebih fokus pada langkah pencegahan.
Baca juga: Arti Bahaya Burung dari Rusia Singgah di Jatim, Bisa Jadi Jalur Penyebaran Virus Nipah ke Indonesia
Ia menyarankan masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta menghindari konsumsi buah yang diduga terkontaminasi gigitan atau air liur kelelawar.
“Yang penting masyarakat diminta menerapkan PHBS, makanan cukup, istirahat cukup, jangan terlalu kelelahan. Jangan makan buah yang sudah digigit kelelawar atau buah jatuh yang tidak jelas kondisinya,” katanya.
Windhu menjelaskan gejala infeksi virus Nipah umumnya menyerupai flu, seperti demam dan gangguan pernapasan. Namun dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau radang otak yang berujung koma hingga kematian.
Karena hingga kini belum tersedia vaksin khusus, deteksi dini dan pelaporan kasus menjadi langkah penting dalam pencegahan penyebaran.
| Rupiah Terus Jeblok, Pakar Perbankan Bagi Tips: Jangan Simpan Telur dalam 1 Keranjang |
|
|---|
| Gandeng Malaysia, PUI-PT CoE-PSQ UNAIR Perkuat Edukasi Kesehatan Maternal dan Keselamatan Pasien |
|
|---|
| Unair Kukuhkan Prof Mahmudah Sebagai Guru Besar Biostatistika Multivarian |
|
|---|
| UNAIR dan ITS Surabaya Buka Jalur Mandiri 2026 Tanpa Syarat Nilai UTBK |
|
|---|
| Dampak Berantai Kenaikan Solar Non-Subsidi, Ekonom Unair: Ongkos Angkut Naik, Pangan Ikut Mahal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Ahli-Kesehatan-Masyarakat-bidang-Biostatistika.jpg)