Kasus Suspek Campak di Madiun Melonjak 100 Persen dalam 2 Minggu, Dinkes Siaga KLB

Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mencatat adanya peningkatan kasus suspek campak dalam 14 hari terakhir.

Tayang:
Tribun Jatim Network/Sofyan Arif Candra Sakti
Aktivitas di Posyandu Desa Bancong, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (15/4/2026). 52 anak Balita (Bawah Lima Tahun) di Kabupaten Madiun suspek campak dalam rentang waktu 4 bulan. 

 

Ringkasan Berita:
  • Kasus suspek campak di Kabupaten Madiun naik 100 persen dalam dua minggu, dari 25 menjadi 52 kasus.
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun telah mengirim sampel ke laboratorium di Surabaya untuk memastikan diagnosis.
  • Sebagian besar pasien adalah balita, dengan gejala khas seperti ruam, demam, batuk, dan mata berair

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mencatat adanya peningkatan kasus suspek campak dalam 14 hari terakhir.

Tak main-main kenaikan kasus suspek campak yang ditemukan mencapai 100 persen. Pada bulan Januari hingga Maret 2025, Dinas Kesehatan mencatat terdapat 25 suspek campak, namun dari awal bulan April hingga tanggal 14 April kenaikan kasus campak lebih dari 2 kali lipat yaitu 52 kasus.

Menindaklanjuti hal tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun telah mengirimkan sampel ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Surabaya untuk penegakkan diagnosa.

"Sampel sudah kita kirim ke BBLK tapi sampai sekarang hasilnya belum dikirimkan karena terkendala reagen di sana. Nah, tetapi untuk pasien sudah kita tangani, sudah kita rawat di faskes dan sudah sembuh," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujiyanto, Rabu (15/4/2026).

Dodik, sapaan akrabnya menjelaskan gejala yang dialami pasien memang khas campak mulai dari ruam-ruam yang muncul di seluruh tubuh, kemudian konjungtivitis atau belekan, mata berair, disertai demam dan bahkan batuk atau sesak.

Namun demikian penegakkan diagnosa tetap menunggu hasil laboratorium dari BBLK Surabaya. Pasalnya, terdapat beberapa penyakit lain yang memiliki gejala serupa, seperti alergi atau gabag.

Baca juga: Kasus Suspek Campak di Jatim Turun Pada Awal 2026, Dinkes Jawa Timur Ungkap Lakukan Cara Khusus

"Mayoritas usianya yang suspek ini balita, orang dewasa hampir tidak ada karena imunnya lebih kuat," lanjutnya.

Dodik memastikan fasilitas kesehatan dan rumah sakit di Kabupaten Madiun sudah siap dalam mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.

Sejumlah langkah telah dilakukan, mulai dari perawatan pasien, pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium, hingga observasi kondisi pasien secara intensif.

"Kalau pasien memerlukan rujukan dan perlu rawat inap karena ada komorbid atau penyakit lain yang menyertai ya kita rawat inap. Tetapi kalau tidak, cukup dengan rawat jalan di Puskesmas dengan pengawasan," jelasnya.

Di Kabupaten Madiun sendiri hanya sebagian kecil pasien yang menjalani rawat inap, bahkan tidak sampai 10 persen dari total kasus. Mayoritas pasien cukup menjalani rawat jalan dan saat ini seluruhnya telah dinyatakan sembuh.

Baca juga: Belasan Suspek Campak Ditemukan di Ngawi, Masih Ada Warga Tolak Imunisasi

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan sejak Februari hingga Maret lalu, sebagai tindak lanjut dari imbauan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Selain itu, upaya edukasi kepada masyarakat terus digencarkan melalui berbagai media dan kegiatan sosial.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved