Jumlah SPPG Kota Malang Perlu Ditambah Jadi 120, Kepsek Minta Kualitas Menu MBG Ditingkatkan

Dapur-dapur tersebut nantinya akan diarahkan memasok makanan ke madrasah maupun pondok pesantren.

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Benni Indo
PENAMBAHAN - Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, meresmikan sebuah SPPG pada 2025. Saat ini, Kota Malang membutuhkan 120 SPPG, sementara jumlah yang ada masih mencapai 67 unit. 
Ringkasan Berita:
  • Kota Malang membutuhkan 120 unit SPPG karena jumlah penerima manfaat per dapur berkurang.
  • Saat ini baru ada 67 SPPG, dan dapur baru akan diarahkan memasok makanan ke madrasah dan pondok pesantren.

TRIBUNJATIM.COM - Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kota Malang, M Athoillah mengatakan, berdasarkan kajian internal, Kota Malang membutuhkan 120 unit SPPG.

Penambahan ini karena jumlah penerima manfaat per SPPG berkurang sehingga perlu penambahan dapur baru.

Jumlah itu pun masih terus direalisasikan di Kota Malang.

Baca juga: Tol Prosiwangi Akan Difungsionalkan Terbatas saat Mudik Lebaran 2026

Dalam aturan baru, ada perubahan aturan penerima manfaat.

Dulunya satu SPPG bisa menyalurkan 3.000 sampai 4.000 porsi.

"Sekarang dibatasi menjadi 2.500 sampai 3.000 saja," ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Saat ini, ada 67 SPPG di Kota Malang.

Dapur-dapur yang nantinya berdiri juga akan diarahkan memasok makanan ke madrasah maupun pondok pesantren.

Sejauh ini, pasokan ke sekolah di bawah Kementerian Agama maupun pesantren masih kurang.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama perwakilan Kota Malang," ujarnya.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, mengatakan bahwa penyaluran MBG ke madrasah maupun pondok pesantren belum merata di Indonesia.

Dari sekolah tempat yang ia kunjungi, ia menemukan kurang meratanya penyaluran tersebut.

"Hanya 40 persen yang terjangkau, banyak yang belum. Kami akan bantu pendataan agar bisa segera menerima," katanya.

Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kota Malang, Supriyanto, menilai, kualitas menu MBG masih perlu ditingkatkan.

Terutama saat Ramadan agar benar-benar memenuhi unsur gizi seimbang.

Dalam wawancara, Supriyanto menyampaikan bahwa program MBG sudah berjalan, termasuk selama bulan puasa.

Namun dari sisi komposisi, menurutnya masih ada beberapa unsur yang perlu dilengkapi.

"Ya mestinya ada hal-hal yang perlu ditambahkan lagi, seperti keseimbangan antara proteinnya harus ada."

"Harapan kami MBG ada, namun untuk kualitasnya bisa ditingkatkan lebih baik lagi," ujarnya.

Supriyanto menyebut, berdasarkan pengecekan yang ia lakukan, menu yang dibagikan terdiri dari tiga item.

Yakni satu buah jeruk, roti abon, dan tempe kering pada hari pertama penerimaan MBG selama puasa Ramadan 1447 H.

Menurutnya, konsep MBG seharusnya tidak hanya berfokus pada pemberian makanan secara cuma-cuma.

Tetapi juga memastikan kandungan gizinya benar-benar ideal bagi siswa.

"Misalkan lengkap ada susunya, ada proteinnya, kemudian ada buahnya, itu kan lebih ideal. Maka gizinya menjadi poin penting, bukan makannya saja," tegasnya.

Belum ada keluhan

Ia juga menambahkan, hingga saat ini, belum ada keluhan dari orang tua siswa terkait menu tersebut.

"Sementara belum ada keluhan dari orang tua," katanya.

Ia berharap, ke depan kualitas menu MBG bisa lebih ditingkatkan agar benar-benar sesuai dengan tujuan program, yakni mendukung kebutuhan nutrisi siswa selama mengikuti kegiatan belajar.

"Karena makan gratis sebenarnya ini kan mengambil dari pajak masyarakat juga. Artinya aspek gizinya harus diperhatikan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved