Berita Malang

DPRD Kota Malang Buka Suara soal Temuan Makanan Tak Layak Pada Menu Makan Bergizi Gratis

Temuan menu tak layak pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian DPRD Kota Malang.  

Editor: Januar
TRIBUNJATIM.COM/ANGGIT PUJIE WIDODO
Ilustrasi artikel menu Makan Bergizi Gratis yang mendapatkan sorotan dari DPRD Kota Malang 

“Biasanya makanan dimasak pada malam hari, kemudian didistribusikan pada pagi hari. Jarak waktunya panjang, sehingga cara penyimpanan dan pengolahan sangat berpengaruh terhadap kualitas makanan,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai tim pelaksana program MBG harus memiliki pemahaman yang baik terkait manajemen dapur skala besar agar kualitas makanan tetap terjaga saat sampai ke penerima manfaat.

Sekretaris Komisi A DPRD Kota Malang Fraksi PDI Perjuangan, Harvad Kurniawan, menegaskan dukungannya terhadap program MBG sejauh dampak ya positif untuk masyarakat. Namun juga sebaliknya, jika ada yang kurang, maka pandangan kritis tetap disampaikan.

“Kalau yang baik kami dukung. Tapi yang buruk harus kami kritisi," ujarnya.

Kasus terkait puding yang ada belatungnya menjadi catatan serius. Harvad meminta pelaksana MBG lebih hati-hati dan profesional.

Menurutnya, dapur-dapur penyedia MBG yang tidak menjalankan ketentuan dengan benar harus diberi sanksi tegas. Ia juga mendorong wali murid agar aktif menyampaikan keluhan langsung kepada pihak dapur apabila menemukan makanan yang tidak layak.

Harvad menekankan, Pemkot Malang tidak bisa hanya beralasan bahwa MBG adalah program pusat.

Ia meminta Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menginisiasi forum yang mempertemukan para pemilik dapur (SPPG) untuk dilakukan pembinaan, pengarahan, serta membangun komitmen bersama demi menjaga kualitas makanan bagi siswa.

“MBG ini anggarannya dari rakyat dan untuk rakyat. Jangan sampai tidak maksimal hanya karena ada dapur yang tidak profesional,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 Kota Malang, Juffa Hannan,l telah meminta maaf atas layanan yang kurang baik. Ia mengakui adanya kelalaian dan memastikan bahwa pihaknya akan mengganti makanan tersebut.

“Namanya pelayan publik, kami pasti mengakui kesalahan. Kurang teliti atau bagaimana. Kami sudah mengajukan pergantian ke orang tua wali murid dan mengantarkannya langsung ke sekolah,” ujarnya.

Menurut Juffa, stroberi memang termasuk buah yang cukup riskan karena kerap menjadi tempat ulat bersembunyi.

Ia menerangkan bahwa relawan dapur sudah melakukan proses pencucian menggunakan air garam selama sekitar 20 menit, namun kemungkinan ulat kecil tetap menempel di sela-sela buah. 

“Mungkin dari ulat stroberinya. Ini memang buah yang rawan,” katanya.

Menu MBG yang dikirim pada Selasa (3/3/2026) yakni, puding stroberi, susu UHT, muffin cokelat, kaki naga, dan kacang kribo. Total harga paket tersebut adalah Rp 13.300 per anak.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved