Gaya Hidup Belanja Online

Curhat Kurir di Malang, Dampak Buruk Gagal COD pada Penilaian Kinerja hingga Risiko Nonaktif

Terdapat banyak kasus gagal COD atau pembayaran di tempat yang harus diterima oleh kurir.

Tayang:
Penulis: Rifki Edgar | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Purwanto
KURIR - Kurir mengirimkan paket ke titik lokasi rumah penerima di Kota Malang, Sabtu (11/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Banyak kasus gagal COD atau pembayaran di tempat yang harus diterima oleh kurir.
  • Hal itu berdampak kepada penilaian kerja mereka.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Rifki Edgar

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Di tengah semakin berkembangnya penjualan online di Indonesia melalui marketplace, banyak risiko yang harus dihadapi para kurir.

Bahkan, tak jarang mereka kerap mengalami sejumlah kerugian sebagai bagian dari risiko pekerjaan mereka.

Baca juga: Tarik Tiket Masuk di Bawah Air Terjun, Pengelola Coban Sewu Dilaporan ke Polres Lumajang

Sebagai aktor utama yang bertugas untuk mengirimkan paket dari penjual kepada pembeli maupun sebaliknya, kurir dituntut harus melayaninya dengan sepenuh hati.

Apabila paket rusak atau hilang di tengah perjalanan, itu sudah menjadi risiko pekerjaan yang harus dihadapi oleh kurir.

Namun, ada hal lain yang ternyata memberikan dampak yang cukup besar kepada para kurir.

Yakni terkait dengan penilaian kinerja.

Penilaian kinerja tersebut biasanya terdapat di marketplace, ketika barang yang diantarkan telah sampai.

Biasanya, penilaian kinerja tersebut bisa dinilai sendiri oleh pembeli setelah mereka mendapatkan paketnya.

Namun yang menjadi persoalan, terdapat banyak kasus gagal COD atau pembayaran di tempat yang harus diterima oleh kurir.

Hal tersebut berdampak kepada penilaian kerja mereka.

Apabila kondisi tersebut terus meningkat, mereka dapat dinonaktifkan dari pekerjaan mereka.

"Kalau pas COD tapi pembelinya gak mau bayar itu yang rugi juga kami," kata M Choirul, salah satu kurir pengantar paket.

Ia memberikan kesaksiannya kepada TribunJatim.com terkait risiko pekerjaannya di Malang pada Senin (13/4/2026).

"Ruginya bukan materi, tetapi ke penilaian kinerja," lanjutnya.

Ia mengatakan, fitur COD yang diterapkan oleh marketplace memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dari sisi kekurangan, terkadang ada pembeli yang enggan mau membayar COD setelah paket datang dengan berbagai alasan.

Ada juga pembeli yang tidak ada rumah dalam beberapa hari, sehingga paket tidak jadi terkirim.

Kondisi itu justru merugikan kurir yang harus buang-buang tenaga dan BBM untuk harus mengantarkan paket sampai ke tangan pembeli.

"Ya memang itu bagian dari risiko kami. Tapi dampaknya itu langsung ke penilaian kinerja kami," ungkapnya.

Baca juga: Kades & Lurah Jadi Korban Penipuan SK ASN Palsu di Gresik, Tiap Korban Kadung Setor Ratusan Juta

Dari sisi kelebihan, menurut Choirul, bisa menambah teman dan kerap bertemu orang-orang baru.

"Kelebihannya ya kita bisa lebih banyak teman. Misal saya sering kirim paket ke rumahnya orang, lama-lama kita jadi kenal dan akrab," ujarnya.

Dalam sehari, rata-rata Choirul mendapatkan kasus paket gagal COD sekitar 2-3 paket.

Biasanya, paket gagal COD tersebut terjadi di perumahan, yang menjadi areanya dalam mengantarkan paket.

"Yang paling sering gagal COD itu justru di perumahan. Kalau di kampung selalu aman. Yang di perumahan itu kadang enggak ada orangnya. Terus kalau dihubungi enggak direspons, itu yang jadi kendala kami," ucapnya.

Paket yang gagal COD tersebut yang kemudian akan dikembalikan lagi oleh kurir ke gudang ekspedisi untuk dikirim balik kepada penjual.

Kasus tersebut tak hanya merugikan kurir, tetapi juga merugikan penjual yang telah menjual barangnya di marketplace.

"Pernah dalam sehari itu saya hitung kerugian hampir Rp2 juta. Tapi kan bukan saya yang bayar. Kalau gagal COD, otomatis barang akan dikembalikan lagi ke penjual. Nah di situ penjual juga merugi," tandasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved