Ramadan 2026

Apa itu Hilal? ini Perannya dalam Menentukan Awal Ramadan

Penentuan awal puasa Ramadan di Indonesia kerap berbeda karena adanya perbedaan metode penentuan hilal.

Tayang:
TribunJatim.com/Mohammad Romadoni
RUKYATUL HILAL - Ilustrasi petugas Falakiyah melakukan rukyatul hilal di Mojokerto. Penentuan awal puasa Ramadan di Indonesia kerap berbeda karena adanya perbedaan metode penentuan hilal, Selasa (17/2/2026). 

“Hilal dijadikan acuan pergantian bulan Hijriah sesuai contoh Rasul, karena hilal adalah bukti fisik yang tampak bahwa bulan telah menyelesaikan siklus orbitnya,” tambahnya.

Untuk melihat hilal, posisi bulan biasanya harus berada dua derajat di atas Matahari, dengan jarak elongasi cukup dari matahari ke kanan atau kiri.

Semakin lebar jaraknya, semakin mudah hilal terlihat.

Baca juga: Penentuan Awal Puasa Ramadan 2026, Rukyatul Hilal Digelar di 21 Titik Jawa Timur

Metode Penentuan Awal Ramadan

Penentuan puasa awal Ramadan ditentukan melalui dua metode yang diakui dalam Islam, yaitu metode rukyatul hilal dan hisab hakiki wujudul hilal.

Adapun, pemerintah Indonesia biasanya menggunakan kombinasi dari kedua metode tersebut, dan hasilnya disahkan melalui Sidang Isbat.

Dilansir dari laman Baznas, kata rukyat berarti “melihat dengan mata”, sedangkan hilal berarti bulan sabit.

Dengan metode rukyatul hilal, penentuan awal Ramadan didasarkan pada penglihatan langsung bulan yang masih berbentuk sabit tipis, belum terlihat bulat dari bumi.

Bulan sabit muda yang sangat tipis pada fase awal bulan baru inilah yang disebut hilal.

Biasanya, pengamatan hilal dilakukan pada hari ke-29 atau malam ke-30 dari bulan yang sedang berjalan.

Jika hilal terlihat pada malam tersebut, maka malam itu menandai dimulainya bulan baru.

Namun jika hilal tidak terlihat, malam itu tetap dihitung sebagai tanggal 30 bulan berjalan, dan malam berikutnya dimulai tanggal satu bulan baru berdasarkan prinsip istikmal atau penggenapan.

Pengamatan hilal dapat dilakukan dengan tiga cara, mulai dari mengandalkan mata telanjang, menggunakan alat optik seperti teleskop, hingga alat optik yang terhubung dengan sensor atau kamera.

Dari ketiga cara ini, keterlihatan hilal pun terbagi menjadi tiga kategori, yaitu kasatmata telanjang (bil fili), kasatmata teleskop, dan kasat-citra.

Meskipun menggunakan metode rukyatul hilal, Nahdlatul Ulama (NU) tidak meninggalkan hisab atau ilmu falak.

Metode hisab digunakan sebagai alat bantu dalam pelaksanaan rukyatul hilal, karena pengamatan hilal tidak dapat dilakukan secara akurat tanpa perhitungan hisab.

Baca juga: 20 Link Twibbon Ramadan 2026 atau 1447 H dengan Desain Modern & Estetik untuk Bingkai Foto

Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved