Ramadan 2026

Puasa Ramadan Tapi Lupa Niat hingga Jelang Berbuka, Sah atau Tidak?

Sah atau tidaknya puasa Ramadan sangat bergantung pada terpenuhinya dua rukun utama.

Tayang:
Tribun Jatim Network/Purwanto
PUASA RAMADAN - Warga membeli takjil berbuka puasa di Pasar Takjil Jalan Surabaya, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (19/2/2026). Dalam puasa Ramadan, terdapat dua rukun utama yang harus dipenuhi, yakni niat dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. 

Terkait waktu pelaksanaan niat, terdapat perbedaan antara puasa sunah dan puasa Ramadan

Pada puasa sunah, seperti Senin-Kamis, seseorang diperbolehkan berniat pada pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak Subuh. 

Namun, untuk puasa Ramadan, niat wajib dilakukan sejak malam hari dan harus sudah ada sebelum fajar terbit. 

Hal ini merujuk pada hadis Nabi yang menegaskan tidak sah puasa seseorang yang tidak berniat sebelum fajar.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

"Barangsiapa yang tidak menginapkan niatnya sebelum fajar, maka tidak sah puasa baginya." (HR. Abu Dawud)

Lalu bagaimana jika seseorang lupa membaca niat hingga azan Subuh berkumandang, bahkan baru menyadarinya saat siang atau menjelang berbuka? 

"Jika dalam hatinya memang belum ada niat puasa sejak malam hari, maka secara fikih puasanya dinilai tidak sah. Ia tetap wajib menahan diri sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Ramadan, namun harus mengganti (qadha) puasa tersebut di hari lain setelah Ramadan berakhir," ujarnya.

Baca juga: Tak Bisa Menahan Amarah di Bulan Ramadan? Ini Dampaknya pada Puasa

Di banyak masjid, jemaah biasanya dibimbing membaca niat puasa bersama-sama setelah salat tarawih, seperti lafaz nawaitu shauma ghadin..., sebagai pengingat agar kewajiban niat tidak terlewat. 

Tradisi ini bukanlah syarat sah, melainkan sarana untuk membantu umat memastikan niat telah dihadirkan dalam hati sebelum memasuki waktu Subuh.

Maka demikian, sah atau tidaknya puasa Ramadan sangat bergantung pada terpenuhinya dua rukun utama: adanya niat sejak malam hari dan kemampuan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa

"Jika kedua rukun tersebut terpenuhi, maka puasa sah secara syariat. Namun, kesempurnaan ibadah tidak berhenti pada aspek hukum semata."

"Pengendalian diri, menjaga lisan, serta menahan hawa nafsu juga menjadi bagian penting agar puasa tidak hanya sah, tetapi juga diterima oleh Allah SWT," pungkasnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved