Harga BBM Naik

Harga BBM Non-Subsidi Naik, Nelayan Surabaya Belum Terlalu Terdampak

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi belum berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di Surabaya

Tayang:
Tribun Jatim Network/Habibur Rohman
NELAYAN SURABAYA - Ilustrasi. Para nelayan saat berada di pesisir Surabaya. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa waktu terakhir belum berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di Surabaya. Kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik kapal nelayan di wilayah pesisir yang umumnya berukuran kecil sehingga masih bergantung pada BBM subsidi. 

Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Agoeng Prasodjo, menyatakan hingga kini belum ada laporan keluhan dari nelayan.

"Sejauh ini belum ada yang mengeluh. Mungkin karena kapasitas kapal nelayan di Surabaya kecil, tidak seperti di daerah lain,” kata Agung dikonfirmasi terpisah. 

Ia menjelaskan, kapal nelayan di Surabaya umumnya berada di bawah 30 gross tonnage (GT), sehingga masih berhak menggunakan BBM subsidi.

"Di Surabaya hampir tidak ada kapal nelayan di atas 30 GT. Kebanyakan kapal kecil, jadi masih bisa mengakses BBM subsidi,” ujar Politisi Golkar ini.

Terkait ketersediaan, DPRD memastikan stok BBM subsidi di Surabaya dalam kondisi aman. Penyalurannya juga diawasi agar tepat sasaran.

“Yang penting barangnya tersedia. Percuma kalau murah tapi tidak ada. Sejauh ini belum ada laporan kelangkaan, jadi kami pastikan masih aman,” tegas Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Surabaya ini.

Pemerintah kembali menyesuaikan harga BBM non-subsidi pada Senin (4/5/2026). Harga Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter.

Dexlite naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter. Sementara Pertamina Dex naik dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter.

Adapun BBM non-subsidi jenis Pertamax tetap Rp12.300 per liter. BBM subsidi juga tidak mengalami kenaikan. Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan solar Rp6.800 per liter.

Penyesuaian harga ini mengacu pada harga minyak mentah dunia, harga produk olahan internasional, serta pergerakan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, Pertamina menyebut penetapan harga juga mempertimbangkan kondisi masyarakat dan daya beli.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved