Semarak Ramadan

Tips Mengatasi Asam Lambung Selama Puasa

Meski bukan penyakit mematikan, asam lambungdapat menimbulkan banyak komplikasi. Sehingga tidak boleh dianggap remeh.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Mujib Anwar
istimewa
Ilustrasi Sakit Asam Lambung 

TRIBUNJATIM.COM - Masalah asam lambung atau Gerd (gastroesophageal reflux disease), sering menjadi keluhan bagi sebagian orang selama berpuasa.

Meski bukan penyakit mematikan, Gerd dapat menimbulkan banyak komplikasi. Sehingga tidak boleh dianggap remeh.

Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan FKUI/RSCM menuturkan, masalah ini bisa saja timbul karena langsung tidur setelah sahur.

Hal ini dapat menyebabkan asam lambung balik arah kembali ke kerongkongan yang pada akhirnya bisa menyebabkan masalah pada saluran cerna atas mereka.

Selain itu ada kebiasaan buruk lain yang juga sering dilakukan pada saat Ramadan. Seperti makan berlebihan saat berbuka, disertai merokok.

"Pola makan seperti itu sebenarnya meningkatkan risiko terjadinya masalah pada lambung seperti dispepsia dan terutama jika anda sudah mempunyai penyakit maag sebelumnya," tegasnya, lewat pesan tertulis, Senin (29/5/2017).

Baca: Tetap Fit Saat Puasa dengan Senam Fungsional

Untuk itu, lanjut dr Ari sebaiknya ketika berbuka, perlu penerapan pola makan yang benar.

Misalnya, saat berbuka tidak langsung makan dengan porsi besar. Melainkan makan makanan ringan dalam porsi kecil terlebih dahulu. Lalu menunggu hingga usai sholat Magrib, dan melanjutkan makanan utama.

"Tetapi tetap dengan jumlah yang tidak berlebihan. Budaya balas denda dengan berpikir menggandakan makan siang dan makan malam saat berbuka harus dihindari. Membiasakan diri untuk berhenti makan dua jam sebelum tidur agar pencernaan bisa bekerja optimal," terangnya.

Gejala Gerd

Ari menjelaskan Gejala khas GERD adalah rasa panas di dada seperti terbakar dan ada sesuatu yang balik arah seperti ada yang mengganjal, atau disebut juga sebagai heartburn.

Namun, kriteria GERD yang berbeda telah dipublikasikan dari seluruh dunia termasuk di Asia, dengan frekuensi gejala yang berbeda, dari seminggu sekali sampai bahkan setahun sekali. Selain itu, belum ada konsensus yang yang membedakan GERD dari dispepsia.

Baca: Jelang Ramadan, Camilan Ladu Laris Manis dan Makin Diburu Wisatawan

Heartburn yang berhubungan dengan GERD biasanya dialami setelah makan. Ada juga gejala GERD lainnya termasuk suara serak, radang tenggorokan, batuk kering kronis, terutama pada malam hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved