Saksi Korban Selamat Tanah Longsor Di Nganjuk Sempat Mendengah Suara Angin Lesus Disertai Gemuruh

Musibah tanah longsor di Dusun Selopuro Desa Ngetos Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur membawa duka mendalam korban selamat.

Penulis: Achmad Amru Muiz | Editor: Yoni Iskandar
(Surya/Fatimatuz zahroh)
Yatmi Lemas Rumahnya Habis, Berharap Dapat Solusi untuk Tempat Tinggal Baru 

Reporter : Achmad Amru Muiz | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Musibah tanah longsor di Dusun Selopuro Desa Ngetos Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur membawa duka mendalam korban selamat.

Hal ini meski korban selamat, tetapi ada anak atau saudaranya yang menjadi korban meninggal dunia.

Salah satu korban selamat, Yatemi mengatakan, terjadinya musibah tanah longsor tersebut usai adzan Sholat Maghrib. Saat itu, dirinya mendengar adzan langsung menunaikan sholat Maghrib. Aktivitas beribadah Sholat tersebut selalu dilakukanya dengan diikuti wirid.

"Tiba-tiba usai membaca wirid, saya mendengar ada suara seperti angin lesus diikuti gemuruh sebentar," kata Yatemi sambil menggendong cucunya, Senin (15/2/2021).

Saat itu juga, dikatakan Yatemi, disusul sebuah kayu menimpa pintu rumahnya. Dirinya yang tinggal sendirian itupun lari ke belakang dan masuk ke kamar mandi sambil teriak minta tolong. Sayapun akirnya ditolong sejumlah warga tanpa mengalami luka apa-apa.

Baca juga: MK Tolak Gugatan Yusuf-Riza, Ipuk: Jangan Euforia Berlebihan

Baca juga: Warga Ngetos Nganjuk Lemas Rumahnya Habis, Berharap Dapat Solusi untuk Tempat Tinggal Baru

Baca juga: Penampakan Rumah Jokowi di Solo, Beli Nyicil di Tengah Sawah, Kini Ada Pendopo dan Kolam Renang

"Alhamdulillah saya bisa selamat dari musibah tanah longsor itu," ucap Yatemi yang rumahnya kini mengalami kerusakan tersebut kepada TribunJatim.com.

Hanya saja, ungkap Yatemi, dirinya sedih karena menantunya bernama Fatim meninggal dunia meski sempat menjalani perawatan di RSUD Nganjuk akibat luka yang dideritanya. Sedangkan suami atau ayah dari kedua cucunya hingga kini belum ditemukan.

"Kami berharap yang terbaik bagi keluarga saya, dan semoga anak menantu saya diterima disi Tuhan YME," ujar Yatemi.

Sementara salah satu saksi mata kejadian tanah longsor, Adhim warga Desa Ngetos Kecamatan Ngetos mengatakan, sebelum kejadian tanah longsor di dusun Selopuro tersebut sehabis Maghrib ada salah satu warga yang mempunyai hajatan doa dengan mengundang sejumlah warga. Dan karena kondisi gelap acara hajatan tersebut dipercepat sehingga bacaan doa diperpendek. Setelah itu wargapun pulang ke rumah masing-masing.

"Imam dari doa itu setiba dirumah belum sempat menikmati bingkisan makanan tiba-tiba mendengar suara keras seperti pohon patah disertai gemuruh, dan ternyata itu tanah longsor tepat diatas rumah warga yang memiliki hajatan tersebut," kata Adhim.

Sedangkan dari penuturan korban selamat yang ditolongnya, ungkap Adhim, sebelum terjadi longsor sebenarnya sudah ada peringatan dari alarm tanda adanya tanah gerak. Namun alarm tersebut bunyinya tidak keras sehingga mungkin tidak didengar warga.

Namun, ungkap Adim, saat kejadian tanah longsor tersebut alarm tiba-tiba berbunyi keras hanya satu kali dan langsung longsor.

"Kelihatanya bunyi keras alarm itu kalah cepat dengan terjadinya tanah longsor sehingga sejumlah warga tidak sempat menyelematkan diri," ucap Adhim yang juga salah satu penceramah di Masjid Dusun Selopuro tersebut.

Apalagi, menurut Adhim, rata-rata penghuni rumah yang tertimpa tanah longsor tersebut terdiri dari orang tua dan wanita serta anak-anak. Ini dikarenakan banyak laki-laki pada bekerja diluar kota mencari nafkah.

Memang, dikatakan Adhim, dirinya bersama warga yang lain nekat langsung bergerak memberikan pertolongan kepada korban selamat. Ini setelah adanya teriakan permintaan tolong dari korban selamat tetapi tidak dapat menyelamatkan diri, Di tengah kondisi gelap, dirinya dengan membawa lampu senter dan penerangan seadanya berupaya memberikan pertolongan kepada korban selamat. Pemberian pertolongan itupun sempat dipermudah oleh korban yang menyalakan lampu senter sehingga dengan cepat diketahui posisinya.

"Kamipun bersama warga lain dengan membawa peralatan linggis dan lainya berupaya mengeluarkan korban selamat dari reruntuhan bangunan rumah yang tertimpa tanah longsor," ucap Adhim.

Untungnya, ungkap Adhim, dirinya bersama warga lain serta relawan Desa Ngetos seringkali mendapat pembinaan dan pelatihan penanganan musibah bencana alam seperti tanah longsor. Dengan pengetahuan tersebut upaya penyelamatan korban selamat bisa dilakukan meski kondisi tanah masih basah oleh hujan.

"Dan Alhamdulillah, untuk korban selamat berhasil ditolong dan dibawa ke Puskesmas untuk dilakukan perawatan. Sedangkan untuk korban yang belum ditemukan dilakukan pencarian pagi hari tadi hingga saat ini," tutur Adhim kepada TribunJatim.com.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved